Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Showing posts with label Ceritaku. Show all posts
Showing posts with label Ceritaku. Show all posts

Thursday, 15 August 2019

Perempuan Seperti Apa yang Kau Cari? Part 1 : Sebuah Pengantar

       Jepang hari ini lagi musimnya natsu yasumi. Atau, libur musim panas. Di sini ada 3x libur yang ditunggu-tunggu, panjangnya hampir 1 minggu (tergantung perusahaan). Ada natsu yasumi (libur musim panas) di bulan agustus, fuyu yasumi (libur musim dingin) di bulan desember/januari, dan golden week (rentetan hari dimana di sana ada banyak hari libur jadi seolah-olah satu minggu libur) di bulan mei. Seperti namanya, pada saat natsu yasumi, suhu biasanya lagi panas-panasnya. Tapi, untuk tahun ini, rasanya 2 minggu lalu lah puncak panas-panasnya musim panas. Kemarin dan hari ini bahkan lagi sering hujan. Katanya sih gara-gara ada typhoon (angin kencang) yang lewat, kayaknya cukup dekat dengan Nagoya.

Bayangin, satu minggu libur, mau ngapain?

       Awalnya aku mau cari-cari dojo kendo, mau mulai latihan lagi. Eh, penyakit mager udah keburu menyerang. Sial. Banyak wacana yang berhenti, tapi beberapa masih terus jalan kek beli robot yang bisa ngomong bahasa Jepang, dan wacana mau belajar IOT untuk persiapan kerjaan. Dua-duanya beli perlengkapannya dari Amazon, gampang banget desu yo (lho). Bisa langsung motong dari tabungan di debit, atau bisa juga bayar di konbini (convenience store, ex: seven eleven, family mart, lawson, dll). Hal-hal lainnya paling cari-cari HP dan SIM Card baru yang masih belum bisa karena kartu cash ku masih belum sampe.

       Tapi, ada hal lain yang aku baru sadarin. Sebetulnya di liburan ini aku ada sedikit kekeosan masalah diri sendiri. Hal-hal yang kulakukan untuk menutupi kebosanan, ataupun ketidakinginan untuk merasakan suatu perasaan. Dan sekarang ini, aku mulai mendekati titik kebenaran, ketika aku sudah agak berjarak dari aktivitas pengalih perhatian itu.

Aku sedang lari dari suatu kenyataan. Dari suatu perasaan.

       Tentang kebingungan akan onna no hito (perempuan) seperti apa yang mungkin sebenarnya akan kubutuhkan untuk menjalani kehidupan. Sebuah kebingungan. Yang semestinya tidak perlu sampai dibawa kepada hal-hal yang kurang perlu. Tapi, dari hal-hal pengalih perhatian itu sebagian ternyata menarik juga. Kemarin ada sempet baca Kimetsu no Yaiba, dan dari sana belajar keinginan untuk menjadi lebih kuat untuk orang lain. Aku harus bisa menjadi lebih kuat dalam berdisiplin, berani untuk melawan nafsu, dsb. Well, that's other things. Aku berencana untuk membuat tulisan tentang itu juga. Cuman balik lagi, tentang onna no hito ini, benar-benar meresahkan di dalam sana. Kebingungan antara cantik dengan baik. Antara nafsu dengan agama.

       Terakhir aku bikin serial tulisan yang bener-bener jalan (sebelumnya yang Ruang Ketidaksempurnaan), adalah tentang melupakan. Sekolah Melupakan. Yang berakhir pada sebuah kesimpulan bahwa pada akhirnya aku sadar ikatan rasa yang ingin kutambatkan itu muncul karena adanya suatu rasa yang selama ini tidak pernah aku rasakan pada orang lain sebelumnya. Tapi, bukan berarti bahwa rasa itu hanya akan bisa kudapat darinya lagi. Nggak kok, aku yakin aku akan bisa memupuk rasa itu bersama dengan orang lain lagi. Semoga. Ya, kesimpulannya aku berhasil melupakannya. Pretty unexpected, but, yeah well. Apa yang udah berlalu ya berlalu.


       Cuman aku dibalikkan pada sebuah kondisi yang seperti basecamp (?). Titik awal. Mungkin ada yang bilang ground zero juga. Jadi, donna onna no hito wa osagashi desu ka? Perempuan seperti apakah yang kucari? Aku baru sadar akan pertanyaan ini setelah semalem kami anak-anak seasrama ngobrolin tentang taaruf, tentang calon. Ternyata pada tertarik bahas itu juga di sini, heheh.

Ya, mungkin aku akan membuat beberapa catatan pribadi tentang itu,

donna onna no hito wa osagashi desu ka?

bismillah..
Asrama CBS Tekno, Nagoya.
Share:

Thursday, 20 July 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - Part 3


... (lanjutan)

       Sejauh ini pertanyaan yang membimbingku adalah tentang masa depan, sekarang mari kita mengubah sudut pandang sejenak. Mari bertanya, tentang masa lalu.

"Kenapa sih Allah mengirimkanmu ke Bandung, Haw?"

       Pertanyaan ini menghantuiku terutama saat aku sedang menjalani libur Ramadhan pertamaku di Bandung. Saat-saat dimana aku masih kesulitan menghadapi perasaan ketidakpantasan menjadi seorang mahasiswa ITB. Saat-saat dimana tiap kali aku melewati kolam Intel(Indonesia Tenggelam, red.) aku selalu mempertanyakan mengapa aku yang diterima di ITB, bukan orang lain. Kamu tau, pemandangan 'sungai' terusan kolam Intel yang dipagari dengan indahnya oleh pohon berjajar di sebelah kanan dan kiri yang sedang kulihat ini, bisa jadi inilah yang akan dilihat oleh mata lain seorang mahasiswa ITB dari sekolah dengan asal yang berbeda denganku. Jika dia yang masuk ke ITB dan bukan aku.
Apa yang kulihat saat itu.
       Aku masih ingat bahwa jawabanku saat itu adalah karena di Bandung ini aku bisa bertemu dengan lingkungan yang luar biasa supportif untuk bisa berkembang, belajar, dan berdakwah. Salman namanya. Dari dulu, sampai tingkat 3 akhir, basecamp ku untuk berdiskusi santai hingga serius dengan teman-teman adalah Masjid Salman. Terikku, hujanku, sedihku, ramaiku, banyak sekali yang terjadi di Salman. Tapi.. bukan hanya tentang itu. Salman juga menyimpan cerita tentang hati dan dinda.

       Dulu, sebelum memasuki SMA, berurusan dengan perempuan adalah hal yang cukup jarang bagiku. Paling bantuin temen ngusilin temen perempuan, nge-bully nyindir-nyindir lah, nge-ciye ciye-in lah, apa lah. Saat memasuki SMA, aku mulai berkenalan dengan wide range personality of a woman. Di masa itu juga aku mulai mengalami pergolakan batin dengan perempuan. Interaksi kami yang terjadi biasanya tidaklah secara fisik karena aku memiliki rasa malu yang besar untuk terlihat dekat dengan perempuan. Banyak rasa, mulai dari dinda, bahagia (jika ia disebut bahagia), menerima, memberi, sakit hati, kecewa, dan yang terpenting yang pernah kupelajari adalah : peduli (care). In the end, aku merasa bahwa pengalaman berurusan dengan perempuan di masa-masa itu bukanlah pengalaman yang begitu menyenangkan.

       Then I was accepted in ITB, Bandung. City of flowers. Kota dimana satu angkot bisa penuh sama perempuan dan kamulah satu-satunya cowok di dalam angkot (berdua sama supir sih). Can you imagine this? For me sometimes it felt like a nightmare. 
 
Back to Salman. 

       Pernah ngerasain nggak, saat-saat dimana kita sedang berusaha untuk menjaga orang lain agar tetap semangat saat kita sedang menjadi work colleague, and we say or do something personal to make them feel comfortable working with us? Things like bertanya kabar, rencana ke depan mau ngapain, apa ada masalah pribadi, berbagi hadiah, atau kita yang perlu untuk share dan memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu.  

       Terkadang, saat kita berada di Bandung, di Salman, itu terjadi dengan perempuan. This is common. *jedeer* Biasanya, masalah muncul saat aku merasa bahwa aku telah menitipkan sesuatu kepada seseorang yang itu tidak kutitipkan kepada orang lain. Hati ini mulai tergoda oleh bisikan setan untuk 'menambah' titipan, seperti cerita permasalahan pribadi dan curahan hati kepada perempuan. Lama kelamaan, saat karena kondisi hati ini diminta untuk berhenti untuk bercerita, ia berontak. To whom should I share my stories with if we were to depart from each other?? Said my heart impatiently *padahal, ada Allah

       Aku menyebutnya, "main hati". Kadang aku perlu main hati agar bisa menjaga staf. Meski selalu kutekankan bahwa saat bertanya tentang hal-hal yang meningkatkan intimacy sebagai work partner ini biasanya kutekankan bahwa kalau ini penting untuk kerja yang kami lakukan bersama. Bahwa kalau dia tiba-tiba menghilang, itu akan menghambat kerjaan. *Sampai di sini aku memohon perlindungan pada Allah agar bisa menjaga hati agar tidak membelok rasa cinta horizontalnya menjadi lebih kuat dari yang vertikal, aamiin.*

       Lalu, saat masa perpisahan(departing times) itu tiba, saat hati sedang berontak, di saat itulah aku mulai bertanya lagi,


"Bagaimana cara menjaga hati yang telah terlalu banyak bermain hati? Hati yang sebegitu mudahnya tergantung pada hati lain sehingga ia berontak saat akan berpisah. Bagaimana?"

... (berlanjut di Ada Hati yang Harus Dijaga - part 4) 
Share:

Saturday, 8 July 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - part 2

"Selepas masa aktif di Salman, apa yang akan kamu lakukan, Haw?"

... (lanjutan)

       Sekarang, sudah tingkat empat. Time flies. Rasanya perihal apa yang telah dilakukan selama ini tak terlalu masalah, tapi yang sekarang menggayut di pikiran adalah pertanyaan di awal tadi. After all this fight, what will happen next? Jalan mana yang akan ditempuh?

Apa jawabannya ?

       Perumusan tentang apa yang akan dilakukan pada tingkat 4 sebenarnya adalah sebuah hasil dari pengintegralan akan semua pengalaman-pengalaman yang telah disimpan selama ini. Layaknya sebuah kurva 2D sederhana dengan sumbu y sebagai pengalaman hidup dan sumbu x sebagai waktu, maka saat dilakukan integrasi akan muncul sebuah bilangan khusus. Itulah bekal yang telah kita dapatkan. Yang jadi masalah sekarang adalah akan ke arah manakah sekarang kurva kita?

       Well, aku sendiri sudah pernah dengar cerita tentang mahasiswa yang tidak lulus-lulus, atau seperti diceritakan dosen ada juga yang karena main game sampai tidak pernah muncul lagi batang hidungnya hingga di-DO. This is not common, but this happens sometimes. Kesibukan yang selama ini telah menjaga kita untuk terus dan terus bergerak, kini mulai berkurang. Waktu tidur yang dulu terasa sedikit tapi membahagiakan, bisa jadi saat masuk di tingkat 4 ini malah akan jadi banyak tapi rasanya tak juga cukup. Karena di masa ini, it's up to us. Tentu kita akan fight untuk mata kuliah SKS pilihan kita karena kita mungkin suka dengannya, tuntutan belajarnya jelas, dll. Sedangkan TA? What you're gonna do with it is your own decision. Dosen mungkin akan meminta laporan progress, tapi iya kalau beliau peduli. Teman mungkin akan meminta untuk mengerjakan bareng, tapi kita yakin bisa meninggalkan our illusory activities? Activities like playing FIFA, DOTA, or.. watching drama, maybe? Sekali lagi, terserah kita.

       Well, ada juga kok mahasiswa yang di tingkat akhirnya malah semakin "sukses", or maybe you could say, productive. Seperti menginisiasi gerakan pengmas, atau menambah amanah saat di tingkat 4. Mereka gak merasa cukup hanya dengan TA saja. Kesadaran akan salah satu tridharma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat serta akan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama ada pada diri mereka. They choose not to stop moving. Ada, tapi gak banyak. Sepenglihatanku, biasanya yang banyak ya di antara keduanya, mau fokus TA, tapi kalau jenuh ya main game. Mau fokus ke pengmas, ragu soalnya nanti ga bisa fokus TA-nya. Katakan padaku kalau ini salah. Kalau ditanya pandanganku, no problem sih. Sekali lagi, terserah kita.

       Balik ke pembahasan di awal tentang integral. Semua pengalaman-skill-dan-leadership dalam keorganisasian, link teman-teman seperjuangan dulu, duit, kit dan komponen bekas proyek, great ideas, rencana proyek, buku, dan semua bekal yang adalah hasil pengintegralan kehidupan kita selama ini, mau diapakan? Apakah akan terus diasah dengan digunakan lagi? Beruntung buat orang-orang yang bisa dapet topik TA yang menggunakan hampir semua bekal yang udah dikumpulkan. Kalau enggak, mau dipakai apa? Apakah kurva sederhana kehidupan kita itu akan menurun begitu saja? Tentunya, kalau bicara soft-skill, pasti lebih baik kalau ia terus diasah sampai menjelang ke tahap mencari kerja.

       Aku sendiri baru sadar itu beberapa saat lalu. Apa sih gunanya kenalan sama semua orang selama ini? Ikut organisasi A, B, C. Bantu-bantu disini, sana. Baru kepake di saat sekarang saat mencoba mengalkulasikan hasil integral dari semua langkah yang udah ditempuh selama ini. Untuk menentukan langkah apa yang akan diambil di masa depan. Bismillah, insyaAllah my ship is ready to set sail, some of you might be too. May Allah bring Rahmah to our journey. Aameen.

Scene dari film Mohammed Al-Fatih.
Setelah akhirnya kapal bisa diloloskan melalui rantai lewat jalur darat.
Crazy ideas.
Note : tinggal.. satu masalah, ini apaan sih judul tulisan pake kata hati segala?

... (berlanjut di Ada Hati yang Harus Dijaga - part 3)
Share:

Thursday, 6 July 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - Part 1

"Selepas masa aktif di Salman, apa yang akan kamu lakukan, Haw?"

Masa-masa refleksi tentang apa yang telah terjadi selama ini.
Pertanyaannya, kemana jalan yang kita lalui ini akan membawa kita?
       Itu adalah sebuah pertanyaan yang belum pernah terlintas di pikiranku selama ini. Tak pernah terpikir bahwa segala perjuangan ini akan sampai pada satu titik dimana aku akan melihat ke belakang dan menemukan pertanyaan itu di belakang kepalaku, mengikutiku. Tapi memang begitulah manusia, sering lupa akan apa yang harus dipersiapkan untuk masa depannya.

       Tahun pertama adalah tentang belajar, belajar, dan belajar. Belajar beradaptasi, berkenalan dengan teman-teman dengan berbagai macam latar belakang, belajar menjadi staf kepanitiaan di sebuah masjid, belajar cara belajar dengan beratnya materi kuliah, intinya belajar untuk lebih mengerti bahwa tahun ini adalah tahun penyiapan bekal untuk tahun-tahun ke depan yang akan lebih berat.

       Tahun kedua, segala macam perihal perjurusan mulai menghampiri. Minat pribadi mulai tumbuh karena sudah merasa mulai mengenal hal-hal menarik di Salman, di kampus, atau di luar kampus. Kebiasaan-kebiasaan baru mulai dibangun sebagai pembentuk karakter di masa depan. Karakter peduli dengan sekitar lewat pengabdian kepada masyarakat, karakter untuk bangkit lagi meskipun baru saja mengalami kegagalan, serta karakter-karakter lainnya yang masih ingin dicoba apakah itu sesuai dengan karakter dalam diri. Tawaran-tawaran menarik berdatangan untuk aktif di tempat a, b, dan c. Sudut pandang yang dulunya masih terpusat pada diri sendiri, kini mulai lebih terbuka dan sadar bahwa permasalahan itu bukan hanya tentang diri kita sendiri loh. Ada teman kita yang mulai hilang dan tidak pernah datang kuliah, ada masjid di dekat rumah yang kita rasa sepi dan butuh pengurus aktif, atau lingkungan masyarakat yang rasanya perlu disadarkan bahwa mereka memiliki potensi terselubung.

       Tahun ketiga, saatnya untuk sadar bahwa kuliah sebagai S1 kemungkinan besar hanya dialami sekali. So, let's make it all worth it, giving our best in something. Kadang merasa terlalu banyak memberi perhatian pada suatu hal, sampai lupa bahwa kadang diri juga perlu diurus. Kadang sakit, kadang kecewa dengan hasil akademik, kadang ditanya kenapa jarang menghubungi keluarga. Time to lose ourselves in something. Romantika perjuangan yang sesungguhnya. Akademik memuncak, tapi pada saat yang sama, keinginan dan keyakinan untuk take part dalam membuat perubahan menjadi semakin kuat. Di saat ini pula, segala kekurangan dan kekanak-kanakan dalam diri ini semakin menjadi-jadi. Awalnya kebiasaan menunda-nundanya hanya untuk sehari saja, jadi sampai berminggu-minggu untuk sekadar mencuci, atau hal-hal sepele lainnya. Dulu, malas hanya membuat diri terlambat kuliah, tapi di masa ini bahkan berangkat kuliah pun ogah. Tak jarang, diri menjadi linglung, tak yakin apakah yang dipilih sudah merupakan jalan yang tepat? Apakah perjuangan ini worth it? Bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesuatu yang lebih berarti.

       Sekarang, sudah tingkat empat. Time flies. Rasanya perihal apa yang telah dilakukan selama ini tak terlalu masalah, tapi yang sekarang menggayut di pikiran adalah pertanyaan di awal tadi. After all this fight, what will happen next? Jalan mana yang akan ditempuh?

Apa jawabannya ?

... (berlanjut di Ada Hati yang Harus Dijaga - part 2)
Share:

Wednesday, 12 April 2017

Saat Kita Tidak Sabar

Kadang, rasa mendindakan dalam diriku suka memuncak. Apa hasilnya?

Writings.
Prayers, silent prayers. 

Sebagai seseorang yang menulis untuk menyimpan rasa, cinta ataupun dinda adalah salah satu rasa yang paling sulit untuk bisa kutahan. Tangan langsung tergerak untuk memegang bulpen, atau menyalakan laptop.

Pernah, suatu ketika aku baru saja bertemu dengan salah seseorang yang kudindakan. Ya emang adanya waktu itu lagi ga jaga pandangan si yak -..-". Jadi kepikiran. Terus aku buat tulisan tentang dinda. Which is, of course, is dangerous. 

Aku pernah membayangkan setelah membuat tipe-tipe postingan seperti itu, aku berada dalam posisi menjadi seseorang yang mendindakan diriku sendiri. Jadi, semacam memposisikan diri sebagai seseorang yang mendindai seseorang. Lalu, seseorang ini tiba-tiba ngeluarin postingan baper. Well, ada dua opsi. Antara hatiku akan hancur karena sadar bahwa itu udah pasti bukan aku, atau yang lebih bahaya lagi, aku jadi deg-degan ga jelas karena jangan-jangan itu aku. Which, to me, both of them are just as dangerous. Dua-duanya membuatku berada pada mental state ga stabil dan jadi kepikiran.

Aku sih jelas ga seneng ya berada pada posisi itu. Ikut kebawa-bawa baper ga jelas. Padahal, tujuan hidup itu udah jelas gitu. Kenapa, cuman karena satu orang yang masih gak jelas di masa depannya akan jadi siapaku, aku harus mengorbankan fokus dan perasaanku untuk dia?

Jujur aku sih masih holding the believes bahwa cinta terbaik dikirimkan oleh seseorang lewat do'a. Cinta kepada orangtua, kepada teman-teman yang tampaknya kesulitan menjalani perkuliahan, cinta kepada teman-teman terdekat, it all took the best form in silence, doing something for their well-being without them knowing.

 Ah, tulisan ini sekadar pengingat. Karena pernah ada temenku juga yang baper dan dia bikin tulisan tentang rasa sukanya sama seseorang. Dia nanya ke aku pandanganku gimana. Jawabanku jelas, jangan menebar fitnah. Capek jadi orang yang ngebaca itu.

Balik lagi, fashabrun jamiil. Sesungguhnya kesabaran itu indah, ya?

P.S. : Belajar mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain, juga belajar mencintai yang Maha Mencintai.
Share:

Saturday, 28 January 2017

Hijrahku, Maharku - part 2


https://supramistik.files.wordpress.com/2012/07/masjid-kubah-emas-depok_01bayugmurti1.jpg
- - - - - - - - - - - - - -

       Salah satu titik perubahan penting dalam perjalanan hijrahnya adalah momen-momen bulan Ramadhan. Baginya, bulan ini spesial. Bulan ini adalah saat dimana ia membuat kejaran-kejaran terkait hijrahnya. Target yang selalu ia canangkan adalah,

" Membuat notulensi x/30 kajian tarawih yang kuikuti. "

       Rasanya sangat berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Yah, rasanya ia tak pernah melihat ada seseorang yang mencatat hikmah kajian tarawih pada masjid yang sama dengannya. Mungkin orang lain membuat kejaran ingin tilawah 2x khatam, atau 3x. Kalau dirinya tidak. Dia hanya berharap bahwa semua ilmu yang ia terima dalam satu bulan penuh bulan Ramadhan ini bisa terserap dengan baik dan bisa ia putar ulang lagi di masa depan saat ia membutuhkan ilmu dan sentuhan Islam.

       Dalam salah satu kajian itu, ia ingat pernah mencatat pesan penting seorang penceramah. Tentang parameter kesuksesan bulan Ramadhan. Beliau berpesan bahwa salah jika kita mengira bahwa bisa khatam Qur'an selama bulan Ramadhan berkali-bali, menambah hafalan sekian juz, jadi rajin ke masjid, shalat qiyamul layl rutin, semua amalan itu saja yang menjadi penanda kesuksesan seseorang dalam bulan Ramadhan. Bukan itu saja. Sesungguhnya, Allah lebih mencintai amalan hambanya yang sedikit, tetapi istiqomah. Amalan yang meskipun hanya khatam 1x saja, tapi itu bisa ia pertahankan hingga bulan Syawal, bahkan bulan-bulan setelahnya hingga Ramadhan menjemput kembali.

       Saking seringnya mendengar pembahasan tentang taqwa, ia jadi hapal di luar kepala definisinya. Dari sanalah, ia mulai menurunkan kejaran-kejaran amalan bulan Ramadhannya, plus dari rasa penyesalan dan dorongan perubahan dalam dirinya. Ia paham, bahwa taqwa bukan hanya tentang memperbanyak amalan shaleh, tetapi juga tentang mengurangi perbuatan yang membawa pada kerusakan. Maka, dimulai dari bulan Ramadhan itulah, ia mulai berhenti berkata kotor, memaki-maki orang, mengorbankan alunan lagu yang ia sukai demi memperbanyak tilawah dan hafalan. Rasanya lucu, mengingat pada beberapa Ramadhan sebelumnya, sebelum ia mendapat hidayah dari-Nya, sering ia pamit kepada orang tua nya hendak itikaf di masjid. Padahal, ketika waktu paket jam malam dari warnet langganannya telah dimulai, yakni pukul 21.00, ia segera menyudahi tilawah dan itikaf -nya dan bersegera mengubah lokasi 'itikaf ' dan aktivitas nya(baca: main game) hingga pagi menjelang, tentunya tak lupa sahur juga. Rasanya jahiliyah sekali. Dari dulunya yang seperti itu, sekarang ia sudah lebih mampu untuk menerapkan definisi taqwa. Memang, hidayah ada di tangan Allah.

       Pada Ramadhan selanjutnya, ia sudah lebih dewasa. ..

- - - - - - - - - - - - - -

Berlanjut di : Hijrahku, Maharku - part 3
Share:

Wednesday, 25 January 2017

Hijrahku, Maharku

       There is this phrase that somehow I stumbled upon recently. It felt intriguing to me, so I think I'd like to share it with you here. Frasa ini entah kutemukan pada buku nikah kelas tinggi tentang kepantasan diri saat membaca buku-buku bukaan yang ada di Gramedia beberapa hari lalu, entah di blog saat blogwalking. Ceritanya begini:

Seorang lelaki melamar seorang perempuan baik-baik(bahasa lainnya : sholehah) dengan berkata,

"Kurasa, maharku untukmu, adalah semua usaha perubahan kebaikan yang telah kulakukan untuk memantaskan diri ini untukmu. Apakah itu cukup?"

Dan sang perempuan menjawab,

----

Yak! Jawaban sang perempuan tidak menjadi bahasan sama sekali ya, mohon maaf jika telah membuat Anda kecewa. Yang kubahas adalah pernyataan sang lelaki ini.

       Tersebutlah seorang ikhwan, lelaki, yang dahulu bukanlah orang baik-baik. Lalu, ia masuk ke dalam sebuah organisasi, gerakan berbasis Islam. Disana, ia berkenalan dengan banyak sekali 'kasta' orang. Mulai dari teman seangkatan, adik angkatan yang cenderung lebih culun 'lucu', pendahulu dakwah yang sudah kelihatan subhanallah nya. Ia melihat bahwa ternyata di zaman sekarang ini, jumlah lelaki baik itu tidaklah banyak. Ia mendengar beberapa komplain melalui murobbi nya bahwa akhwat zaman sekarang banyak yang terpaksa menurunkan standar karena memang di lingkungan tempat ia berada tidak ada suplai lelaki baik-baik. Kalau mau yang rajin ke masjid, yang ngerokok baru ada. Mau yang biasa jenguk tetangga, sopan, dan santun, eh udah ga pernah ke masjid. Susah kan.

       Pada suatu titik dalam hidupnya, dibarengi dengan kesadaran akan kelangkaan lelaki baik-baik itu, ia juga sadar bahwa ia sangat jauh dari kata 'baik' itu. Setidaknya, ia sadar bahwa di hadapan Tuhannya, dia terlalu banyak menyimpan dosa. Kebohongan-kebohongan itu yang ia gunakan untuk menutupi aib dalam dirinya rasanya sudah menggerogoti hati nuraninya terlalu dalam. Ia tak sanggup membohongi kenyataan. Bagaimana nanti di masa depan? Ia terpekur. Rasanya jika ingin selamat dalam mengarungi dunia pekerjaan yang lebih berat, ia takkan sanggup jika juga harus membina pendamping hidupnya. Padahal, justru ia yang perlu dibina. Ia tak ingin dituntut oleh anak istrinya yang (naudzubillah) masuk neraka karena kekurangmampuan dirinya dalam membina mereka. Saat itulah ia sadar bahwa ia butuh pendamping yang baik.

       Dalam masa pemikirannya itu, ia ingat akan salah satu ceramah yang ia dengar terkait konsep pernikahan dalam Islam. Konsep 'se-kufu',  atau biasa diartikan se-level/se-tingkat. Hindari menikah sama orang yang belum setingkat sama kita secara agama, pemikiran, dll. Kalau ingin mendapatkan pasangan yang seperti itu, ya kita maksimalkan mendekati level seperti itu *kalau merasa kurang ganteng atau cantik, ya mbok diusahakan ke sana, terus banyak do'a sama Allah semoga diberikan kegantengan ataupun kecantikan itu, seenggaknya kalau gak fisik ya hati kita*. Salah satunya karena asbab 'sebab' ini, dia memutuskan untuk berubah, untuk memperbaiki diri, mengurangi kebiasaan buruk, dan meningkatkan kebiasaan baik. Be it his gaming habit, inappropriate internet consumption, etc. Ia coba tinggalkan itu semua, demi memantaskan diri. Di saat ia sudah merasa cukup baik, saat itulah ia melamar sang perempuan yang telah lama ia jadikan alasan untuk memperbaiki diri. Meski ia sebetulnya ia tak tahu siapa nama yang tertera di lauh mahfudz, tetapi ia hanya tahu bahwa ia harus memilih perempuan baik.


-- Continued in Hijrahku, Maharku part 2
Share:

Thursday, 12 January 2017

Willl Work Hard Beats The Impossible ?

So, have you ever been in your life, coming face to face with a condition where you are given a very challenging task? 

With a very great risk. Very little chance of success. 

And then, there you are,

Crying.

You're afraid that your hard work won't work.

. .

That what you will do, won't give any difference in outcomes.

You are so overwhelmed by the thoughts of having to make sure everything go well.

Then you remember who you were.

All you've been through, all the failure you've ever made.

Felt like a screen has been put in front of you and you watched them all.

Time tickles, and that question comes,

Can. tick.

you. tock

?

You felt powerless, you ask power from your God, from Allah.

You hope so much that He will cleanse that fear, that doubts, all from your hearts.

Aameen.

But still, you're afraid, the past mistakes and the past sins that you've ever made are gonna go back.

Crushing you.

Punch you in the stomach, then let you get back up.

Only to punch you back, even harder.

Blood flows from your mouth.

You look around. . . where is everyone?

Felt like it's pitch black, the darkness that surrounds you.

Still, you're looking for a light, a ray of hope.

A door to get out of this rooms full of aromas of self-loathe, self-curse.

There are only 3 people in the room.

You. Your beater. Your seducer.

Your seducer seduce you, you follow it.

Then the beater punches you back to make you realize that you are not supposed to be in this room.

It was there to make you realize that you're afraid of it, of being beaten.

Making you wanting to get out of the room quick.

And you comes back to your reality.

With this analogous imagination of your own life in your mind following you all around

. . .

You. Yes you. Are asked to do, to take these great risks, to push you to take a leap of faith.

Now, you faced doubts.

Your second boss monster has already been waiting for you.

Negotiating you to come back and not take that path.

Will you insist to go on? Haw?

- - -

O Allah, help me.
Share:

Friday, 16 December 2016

Antara Nurani, Kebaikan, dan Syukur

       Semua manusia, terlepas dari latar belakang apapun, dibekali oleh Tuhan sebuah karunia yang mampu menuntunnya untuk menjadi lebih manusiawi. Karunia itu adalah hati nurani. Tetapi, mengapa makin ke sini makin sering muncul pertanyaan, di mana hati nuraninya?

"Antara nurani, dan kejahatan"
       Saat melihat ada orang yang korupsi, atau yang membunuh sanak keluarganya sendiri, atau bahkan, 14 pemuda yang dengan teganya memperkosa seorang wanita berusia 14 tahun, lalu membunuhnya usai terlampiaskan hasrat mereka.  

Tanyaku, di mana hati nurani nya? 
Tanyaku pada kalian, kalian sendiri masih punya hati nurani tidak?
Tanyaku pada diri sendiri, apakah aku masih bisa menjaga hati nuraniku? 

Apa yang sebenarnya terjadi? Who's the one behind the scene, the one that makes people more inhumane -- makin kehilangan hati nurani.

"Antara nurani, dan kebaikan"
       Saat melihat seekor kucing kecil yang mendatangi kita yang sedang makan sambil mengeong pertanda kelaparan, saat melihat wajah teman kita begitu keruh, tak tenang, sedikit-sedikit memegang dahinya pertanda gelisah, saat mata kita tiba-tiba beradu pandang dengan mata pemulung yang sedang membawa karung goninya di tangan kiri, dan besi berbentuk L nya di tangan kanan. Dan, kita tidak melakukan apa-apa. Kita teruskan makan kita, kita terus berangkat kuliah, kita teruskan saja bersikap seolah tidak ada yang salah.

Tanyaku pada diri sendiri, apakah aku sudah melakukan sesuatu di saat-saat seperti itu?
Tanyaku padamu, apa yang kau lakukan saat tidak melakukan apa-apa? Menyesalinya, atau merasa itu memang bukanlah permasalahan apa-apa?
Tanyaku, dimanakah letaknya hati nurani kita?



"Antara nurani, dan syukur"
       Aku bersyukur aku memiliki seorang teman yang banyak memberikanku pelajaran terkait menjaga kebersihan. Ia memiliki kebiasaan memungut sampah yang ia temui di pinggir jalan. Ya, kulihat tidak di semua tempat, tetapi setidaknya jika ia tidak mengambil sampah, ia akan senantiasa mengingatkan temannya jika ada yang membuang sampah sembarangan. Ia suka bercerita,

"Kamu tahu, Haw, rasanya sungguh menyenangkan bisa memungut sampah. Nggak ngerti kan senangnya dimana? Mungkin aku hanya satu di antara ratusan juta penduduk Indonesia, satu di antara belasan ribu mahasiswa ITB, tetapi dengan melakukan ini aku menjadi yakin, bahwa aku adalah salah satu di antara sedikit orang yang sedang membuat perubahan untuk Indonesia. Yaa, seenggaknya Cisitu juga bagian dari Indonesia, kan? Hehe."

Aku takjub.
Sesederhana itu mengubah Indonesia. Tak perlu muluk-muluk membuat sistem persampahan nasional. Sistem daur ulang limbah. Atau apapun yang bisa dikerjakan hanya jika sudah lulus kuliah. Kutanya padanya apa dorongan yang membuatnya konsisten dalam melakukannya, is it worth it?

Jawabnya lagi,

"Kamu juga harus tahu, Haw, (kebiasaanku) ini sangat erat dengan menjaga hati nurani. Ia(hati nuraniku) berkata bahwa tidak benar ada sampah di pinggir jalan. Kuturuti hati nuraniku dan kuambil sampah-sampah tersebut lalu kubuang di tempat sampah yang kulalui kemudian. Aku jadi sadar, saat aku menurutinya dengan langsung, ia(hati nurani) merasa dihargai dan menjadi lebih sering muncul. Ia menjadi hidup dan mewarnai kehidupanku, tidak terbunuh oleh modernisasi ataupun rasa terburu-buru karena aku yang terlalu sibuk. Aku menjadi peka terhadap permasalahan teman, peka terhadap apa yang tidak manusiawi, bahkan terkadang, terhadap apa yang benar dan yang salah. Dan bukan sekadar peka, tetapi aku juga melakukan sesuatu dengan masalah tersebut. Tidak membiarkannya diam begitu saja."

Menarik. Benar-benar menarik.
Boleh jadi itu rumus yang kita cari selama ini. Sepertinya, masalah orang zaman sekarang adalah, pertama, kita semakin kurang mendengarkan apa suara hati kita, misal di saat momen-momen di bagian awal tadi terjadi, kita malah memilih sibuk dengan hal lain seperti gadget. Atau, memilih belajar. Atau tergiur dengan pikiran ini,

"Maaf, nggak ada waktu, dikejar deadline." *kadang aku juga sih ._.v*. 

 Well, masalah kedua udah cukup jelas, boro-boro ngelakuin sesuatu terkait permasalahan yang ditemuin oleh hati nurani kita, mendengarkan suara hati nurani aja enggak.

Jadi, begitu ternyata rumusnya, dengarkan apa kata hati nurani, lakukan sesuatu jika memang kita merasa ia benar, dan lihatlah bahwa ia akan menjadi lebih hidup. Ia akan lebih sering memberikan kita pencerahan, hati yang dituntun oleh nurani dari Tuhan.

"Antara nurani, kebaikan, dan syukur"
       Syukur. Sungguh menakjubkan lagi pembahasan yang satu ini. Saat kutanya padanya, apa dia tidak lelah melihat kotornya daerah yang ia lalui, dan ia yang biasa mengambilnya, apa ia tidak bosan? Apa tidak menyalahkan keadaan? Apa tidak menuntut orang supaya tergerak hati nuraninya untuk turut serta dalam menjaga kebersihan? Apa tidak marah melihat kenyataan?

Apa katanya? 

"Aku bersyukur, Haw. Aku pernah ke kajian di Daarut Tauhid. Disana Aa Gym berpesan terkait syukur dan kebaikan. Waktu itu beliau bertanya pada jama'ah. Kalau kalian bersedekah kepada seorang pengemis, siapa yang seharusnya bersyukur? Kamu pasti berpikir, jelas pengemisnya karena dia yang butuh kan? Kata Aa' bukan. Harusnya kita yang bersyukur. Kita yang digerakkan oleh Tuhan untuk memberi, yang masih diberikan hati nurani, dan diberikan kekuatan untuk mengikuti apa kata hati nurani. Nggak banyak yang diberikan karunia itu. Sama dengan kasusku, aku juga bersyukur karena aku diberikan kesadaran oleh Tuhan untuk menjaga kebersihan. Do'akan istiqomah yah. Dan semoga ada yang mengikuti."

Aamiin.

Dan aku pun mengikutinya. Aku benar-benar kagum dengan prinsip yang ia punya. Buat apa juga seseorang yang melakukan kebaikan merasa tinggi hati, ujub, dengan apa yang kita perbuat. Itu semua adalah karunia dari Tuhan untuk menjaga kita tetap dalam kebaikan. Bersyukur, tidak kufur akan nurani, dan hidayah yang telah Ia berikan pada kita.

"Penutup"
       Pagi ini, seekor kucing tidur dengan posisi menyamping di pinggir jalan. Tampaknya seperti menikmati indahnya pagi. Tapi ada yang aneh. Mulutnya agak terbuka sedikit. Perutnya, ternyata tidak naik turun sama sekali, tak bernafas. Ia sudah mati. Terlindas oleh kendaraan yang memilih untuk hanya meminggirkannya saja.

Jika kita melihatnya, apa yang kita lakukan?

Atau, permasalahan lainnya. Gempa aceh, Aleppo, Rohingnya. Atau permasalahan 'kecil', teman yang sedih dengan hasil ujian, or it could be anything.

Enak ya punya temen kaya Dori,
Atau mungkin, lebih enak lagi kalo bisa jadi temen kaya Dori?

 Selamat menjaga hati nurani, para penjaga hati :)
Share:

Monday, 14 November 2016

Untuk Siapa?

Aku ingin sedikit berbagi tentang ceritaku hari ini. Hari ini, jujur I just wanna take a short break from this rhythm of my life. I'm truly sorry for everyone, I hope you guys would understand. 

Bismillah, semoga jadi lebih semangat.

What I did today was pretty exceptional. Going to someone else's wedding party. I've never known this person in particular. I just knew her father who's used to come to Salman in some occasions to give his insight. In term of size, he is small. But I think in term of his mind, he sure has a big mind. Of course man, because it was like whatever you tells him, he can replies with a good answer. Humph. And today, it was her daughter's wedding reception.

Saat di mobil aku tidak terlalu terpikir banyak tentang acaranya akan seperti apa, tetapi semakin dekat aku ke pintu masuk acara, aku jadi terpikir. Aku sendiri sudah pernah mengikuti pernikahan lain, pernikahan Mbakku. Jadi aku sudah memiliki pembanding. Aku terpikir tentang kedua calon. Sang perempuan adalah anak dari salah seorang pengisi rutin di Masjid Salman. Sedangkan suaminya adalah seorang anggota TNI, tampaknya dari Angkatan Udara. Akan seperti apakah acara pernikahannya?


Kesan pertama, laki dan perempuan dicampur.
Kesan kedua, standing party.
Kesan ketiga, hingar bingar musik dan lagu. Not to mention that the women who's singing sometimes uses pampered words. I mean, something that sometimes a dangdut dancer would say. Dengan suara yang kadang bikin bergidik itu. Kayak sok centil minta diperhatiin. Malu nya dimana gitu. Eh, kelewatan.
Kesan keempat. Makanannya enak. I've got to admit this. Thank you so much.
Kesan kelima. Yang dateng kalo ya gak ganteng-ganteng, ya cantik-cantik. Some of them use miniskirt, you know?

As for now, I'd like to talk to you about that 5th impression.Dari sekian banyak yang dateng, banyak juga kok yang berkerudung lebar, atau ga ya berkerudung dan ya memang rata-rata subhanallah sih cantiknya. Dengan pakaian warna-warni atau mencolok, riasan-riasan sedikit agar tampak lebih cantik.

Mungkin aku yang terlalu banyak menuntut dunia agar mengikuti standarku. Meski memang di dalam Islam juga dilarang untuk berias berlebihan karena khawatir tabarruj. Berdandan untuk seseorang yang tidak halal. Tetapi memang lebih dari itu, it's something about my personal values that intrigues me. Di postinganku sebelumnya, aku pernah bercerita tentang tak perlu lah aku menjadi seseorang yang terlalu keren demi semua orang. Cukup satu orang yang bersedia untuk menjadi istri saja. Di kasus ini, aku penasaran, sedikit setengah jengkel(?). Untuk siapa sebenarnya mereka berdandan? Kenapa mereka harus tampil cantik, yang ya kadang sampai melewati batas koridor agama mungkin ya.

I remembered back then when I still often go to an online support group forum, there's someone who stated that women actually want to look good is for the purpose of pleasing men. Kata dia, wanita itu ya gitu, caper cowok aja. Contoh nyatanya ada di playboy magazines, kontes kecantikan(sedikit ekstrim sih). Plus, berikut sedikit kutipan menarik yang baru kutemukan tentang kontes kecantikan: "Tubuh perempuan dianggap sebagai milik publik dan kontrolnya ada di masyarakat. Masyarakat selalu merasa punya hak untuk mengatur tubuh perempuan." (dari analisis media september 2013). Ya itu, cewek berdandan itu buat memenuhi kesenangan masyarakat. Siapa yang paling suka melihat? Ya biasanya cowok. Ya supaya diliatin sama cowok. Eh, kasar nggak sih kata-katanya?

Some weeks ago, I was talking with my friend about this, and she said a different thing. Beliau berdandan ya untuk memenuhi standar kecantikan bagi diri sendiri *which you obviously should have*. Bukan bermaksud menyerang pernyataan beliau, tapi aku tidak benar-benar yakin hasil akhirnya benar-benar untuk diri beliau sendiri. Aku penasaran, kemanakah kalian para wanita melihat standar fashion terbaru abad ini? Bukannya ujung-ujungnya ke pakaian dan barang-barang yang digunakan oleh orang-orang yang tidak syar'i ya? Like Koreans, or Western public idol. Menurutku ini masuk akal karena misal orang-orang Barat, mereka sudah sejak dulu menjadi kiblat fashion dan menjadi produsen barang-barang kecantikan untuk wanita. Dari ujung kuku sampai ujung rambut paling atas. Tentu, opiniku bukan yang paling benar, semua masukan sangat kuhargai kok(Sok weh kalo mau komentar di bawah).

Balik lagi. Seseorang yang awalnya bukan mau berdandan untuk kami para pria, ketika menggunakan referensi fashion kepada (salah satunya) dunia Barat yangmana para perempuannya berdandan supaya diapresiasi oleh pria, malah jadi menggunakan atribut-atribut yang sebenarnya ya merupakan idaman kami para pria. Jadi sebetulnya ini balik lagi. Untuk siapa kalian berdandan? Kami, para pria? Atau kalian ingin balasan yang lebih baik, yakni mendapatkan ridho Allah? Jelas solusinya bukan dengan tidak berdandan.

Akan tetapi,
Rules number one: Hindari berdandan untuk kami para pria yang belum halal untuk kalian. Karena aku sendiri juga ga bisa menjamin apa yang akan terjadi bila foto kalian jatuh pada tangan orang yang memiliki maksud hati yang tak baik pada kalian, naudzubillah. 

Next,

Rules number two: Jika ingin mendapatkan ridho dan cinta dari Allah, maka mengaculah pada cara berpakaian orang-orang yang ingin mendapatkannya. Jangan ke tempat lain.

Surely, di zaman sekarang memang antara benar dan salah makin tercampur, baik dan buruk makin nggak jelas batasnya. You surely need to be smart, girls! Good luck!

P.S.: Do'akan kami para lelaki bisa menjaga pandangan kami sehingga kalian tidak jadi terlalu banyak terpikir apa kata kami tentang kecantikan kalian. Capek kalau hidup menuhin tuntutan orang lain teh..
Share:

Tuesday, 8 November 2016

Tentang Kegelisahan Itu

Draft beberapa hari lalu,

       Tadi, aku berdiskusi dengan temanku terkait tema menarik laki-laki angkatan kami, lawan jenis. Menarik.

       Awalnya aku penasaran tentang dulu ketika suatu malam aku melihatnya mondar-mandir di depan masjid Salman sambil melihat-lihat ke sekeliling. Waktu itu udah cukup malam, jam 9 mungkin. Saat itu, aku masih di Salman karena ada kebutuhan ber-Wi-Fi ria menggunakan hotspot. Jadinya aku memutuskan untuk menginap saja di Salman hari itu. Setelah bersalaman dan menyapanya, kami berpisah dan aku duduk-duduk di tempat duduk tempah teh yang dekat ke tempat jalan menuju fotocopy Salman. Nah, waktu itu aku melihat ada seorang akhwat berpakaian gelap, hitam sepertinya, keluar dari tempat akhwat. Temanku ini menghampiri dia, awalnya aku berhusnudzon saja mungkin dia hanya mau ke tempat akhwat sedikit untuk mengambil air. Well, ternyata mereka tampak berkomunikasi sedikit. Kemudian, mereka berjalan berdua sambil berjarak menuju ke jalan menuju kantin, tampaknya pulang.

       Saat itu aku terpikir. Wah, ternyata. Ada apa ini gerangan? Well, sebagai seorang laki-laki yang peduli dengan keadaan teman(atau kepo ya? Haha), aku kepikiran. Jadi tadi waktu aku bertemu dengannya, kutanyakan padanya.
"Broh, kayaknya aku pernah liat kamu nganter temen perempuan ya waktu di Salman? Malem-malem. Siapa tuh?"

Jawabannya tak pernah kusangka,

"Kenapa Haw? Mau kenalan?"

*Duh* *Bukan gitu* *Waktu itu juga aku ngeliatnya gak dari depan, jadi ga keliatan dia orangnya kayak apa atau siapa*

       Ya sebetulnya aku hanya khawatir apakah mereka ada apa-apa. Itu tadi, sebagai seorang teman yang peduli, setidaknya jika aku belum bisa mengingatkan, aku tahu dahulu apa yang benar-benar terjadi. Kalau mereka ada apa-apa dan aku bisa memberitahukan kepada temanku yang mungkin lebih bisa memberikan pengertian tentang pentingnya menjaga hubungan dengan lawan jenis, ya kenapa tidak? Tau nggak? Kok jadinya tadi malah aku yang dikasih masukan banyak ya wkkwkwkw. Macem-macem, mulai dari harus berharap hanya sama Allah, terus harus cukup perhatian dari orang tua, sama harus hati-hati sama perasaan.  Ya memang setting-nya aku kayak sok lagi galau gitu sih. Gatau ya emang lagi galau atau engga. Mungkin?

Hmm.. Kegalauan. Kegelisahan itu.

       Gatau ya, kegelisahan itu apa ya? Apakah khawatir akan takut mengecewakan harapan lawan jenis? Tatapan yang kadang kudapat ketika aku beradu pandang dengan seorang perempuan. Kadang somehow aku melihat atau merasa bahwa ada pengharapan di sana. *Aku bingung*. Jadi kayak seolah pengen buat membalas perhatian itu gitu. Serius. Kalau nanti aku udah menikah, insyaAllah aku bakal mau gitu buat saling tatap gitu. Cuman duduk, melihat, dan diam. Although I don't really know whether I'll be brave enough to do that haha. Tapi kalau sekarang, itu terasa kayak mengkhianati diri sendiri yang seharusnya lebih cinta pada Allah dan patuh sama aturan-Nya. Lagian, selain aku khawatir dengan menjaga hati, aku juga khawatir dengan pikiranku sendiri(?).

Para kakak-kakak tingkat atas juga udah pada rame gitu ngebahas ini.
"Bro, udah bikin list(rencana calon istri) belum?"
atau,
"Kita ini udah harus punya pendapatan broh. Supaya gak kesulitan waktu walimahan."
 atau,
"Eh, itsar yaa nanti kalo misal ternyata yang kita incer sama broh. Hehee." (ada gitu yang mau itsar buat ini? wkwkwk)
"Wah, Kak, gimana sih caranya bisa jadi ikhwan paling suami-able" (weq, ada predikat ini ternyata wkwkwk)

       Macem-macem lah. Ada juga yang kepikiran tentang entah kenapa ada rasa bahwa udah harus nge-tag segera. Ini butuh pembahasan lebih lanjut sih. Karena entah kenapa memang dorongan untuk nge-tag itu seringkali bertimbal-balik dengan kondisi kita, misal kondisinya seolah menunjukkan bahwa lawan jenis yang kita tag entah kenapa(well, pakai entah kenapa karena ini tentang rasa. Dan rasa kan biasanya ga gampang didefiniskan) juga condong ke kita gitu. Kadang kegelisahan itu suka muncul dari rasa tersebut, plus dari mendengarkan obrolan para tetua tetua juga sih.

       Ya, kepada Allah aku sampaikan kegelisahanku ini. Disini aku hanya hendak bercerita sebuah sudut pandang kehidupan ikhwan aktipis salman weh. Aku pribadi sih berharap temen-temen ku yang ikhwan bisa lebih sabar dan instead of thinking about things like these too much, I think the problem the world today face needs a much bigger portion to be discussed. Dan untuk temen-temen akhwat, yang sabar juga. Aku ingat bahwa ada sebuah tulisan tentang bagaimana pergerakan peradaban sebenarnya sangat bergantung pada calon ibu beserta ibu-ibu di peradaban tersebut. Bukannya saya ingin bilang jangan menghambat seorang ikhwan dalam mencapai mimpinya, tapi doronglah laki-laki, utamakan dari saudara terlebih dahulu, untuk mengejar mimpi mereka. Tolong ngerti, bahwa kita punya masalah besar di Indonesia sekarang. Sure, dukungan dari kalian akan sangat membantu kami dalam menjalankan dakwah ini. But, keep in mind supaya jangan sampai kalian memberikan harapan atau meminta harapan dari kami. Itu bikin kami bingung :(

       Aku pribadi belum berniat untuk mengurus perkara ini dulu. Aku berharap ya bisa berteman, dan bersama-sama berdakwah dengan ikhlas lillahi ta'ala. Aamiin. Semoga nggak kebelok niatnya. Aamiin. Semoga ada masalah besar yang bisa kuselesaikan selama aku masih belum memasuki tahapan selanjutnya dari kehidupan ini. Aamiin.

Aku baru tau ada do'a seindah ini. Aamiin.
sumber gambar: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/
Share:

Friday, 28 October 2016

Orang-orang yang Berlari

Ini cerita tentang seseorang,
Yang berlari karena dikejar oleh sesuatu.
Seperti disini.
Dikejar-kejar oleh sebuah mimpi buruk.
Kenangan yang tak ingin diharapkan dari masa lalu.
Cerita tentang hidup seolah hanya karena ingin lari dari masa lalu.
Setidaknya berlari terlebih dahulu saja, sudah cukup.

Bisa jadi trauma.
Ada seorang temanku yang mengalaminya.
Bisa kamu bayangkan seberapa besar dampak dari masa lalunya pada dirinya?
Dia berlari.
Tak ingin kuliah di kampung halaman atau sekitarnya.
Karena dia ingin berlari dari kenyataan pahit yang terhimpun bersama dengan keberadaan sang kampung.
Sudah tak mampu lagi menghadapi kenyataan bahwa masa lalunya terus menghantuinya di sana.
Sehingga ia ingin memulai hidup baru.
Apapun.
Selain di kampung halaman.

Aku juga.
Aku juga berlari.
Dari kenyataan pahit bahwa aku belum cukup dewasa untuk bisa mengendalikan diri sendiri.
Frasa lainnya mungkin hijrah.
Tapi jujur aku kadang suka merasa kering.
Boleh jadi karena memang niatku bukanlah sebuah niat suci untuk lillahi ta'ala saja.
Tapi lebih karena fear.
Ketakutan akan masa lalu tersebut.
Sehingga aku meninggalkan apa-apa yang berbau-bau masa lalu.

Memang meninggalkan apa-apa yang buruk di masa lalu itu baik.
Tapi, poinku adalah,
It's a li'l(little) bit sad of a truth that we have a goal in life, not about dreams forward, but nightmares backward.
Hingga kini, aku masih merasa.
Bahwa dalam menjalani hidup, ada 2 bagian :
1) Mengejar impian
2) Dikejar kenyataan
Sayangnya, ini gak semudah deal-deal an aja lagi aku mau ngapain sekarang.
Masa depan, atau masa lalu?
Seringkali, aku nggak bisa memilih.
Terpaksa.
Aku harus mengejar impian.
Bukan karena impian itu sendiri.
Bukan karena mimpi itu begitu menarik dan melenakan.
Tapi, lebih karena takut bahwa jika aku memilih opsi ke-2, apakah aku sanggup?
Berhadapan dengan kenyataan itu?
Fear.

How can I overcome it?
Kalau gini, ujung-ujungnya aku hanya lari dari opsi ke-2, dari kenyataan.
Aku ingin hidupku bisa lebih bermakna dengan mendedikasikan diri pada masa depan.
Bukan pada masa lalu.
Aku nggak rela hidup sekadar untuk lari dari sebuah kenyataan pahit.
Nggak rela.

Ya Allah tolong mudahkan jalanku. Aamiin.
Mohon do'anya, hehe.
Share:

Monday, 17 October 2016

Pernahkah Kalian Sedih?

Pernahkah kalian merasa sedih saat melihat seorang ibu-ibu dengan pakaian kumal dan lusuh duduk dan makan di atas tumpukan sampah. Makanan yang mungkin merupakan hasil temuannya di tempat sampah tersebut?
Pernahkah kalian merasa sedih, melihat seorang kakek tua, masih harus menarik gerobak sampah, memunguti sampah di tiap tempat sampah?
Pernahkah kalian merasa sedih, melihat seorang loper koran, seorang bapak-bapak pada umur paruh bayanya?
Pernahkah kalian merasa sedih melihat seorang anak kecil menjual tissu, dan ketika Anda coba bertanya harganya dan Anda tidak jadi membelinya, ia tampak memancarkan aura ketidaksenangan yang sangat? Seolah-olah kita telah memberikan harapan palsu?
Pernahkah kalian merasa sedih melihat orang-orang miskin berebut pembagian porsi beras dan makan?

Sedangkan kita?

Makan masih minimal 2x sehari. Bahkan, masih bisa jajan. Sepulang dari kuliah, tidak perlu setiap hari pulang dengan badan terasa remuk, kaki terasa tak mampu berdiri lagi, tak ada anak istri yang menunggu di rumah untuk kita beri nafkah.

Mungkin aku jadi tampak seperti seorang yang menuntut keadilan. Orang yang tak bisa melihat ketidaksamarataan ini terjadi dan membiarkannya begitu saja.

Tapi memang yang membuatku sedih sebenarnya tak lain adalah tak banyak hal yang bisa kulakukan :(. Even if I said that I want to help them, but how? How can I possibly be of any help to them? Jujur, akhir-akhir ini aku agak jarang ngeluarin duit selain untuk kebutuhanku sendiri. Aku lupa. Aku lupa bahwa di bawah kolong jembatan sana ada orang yang tertidur sambil kedinginan, pertanyaan untuknya sudah bukan tentang takut masuk angin atau ngga, pertanyaannya: besok makan apa? Masih harus berjuang untuk bertahan hidup nggak?

Aku ingat dulu aku sering iri pada mereka-mereka yang sudah bekerja dengan keras. Mereka yang kusebutkan di awal tulisan. Merekalah orang-orang yang memiliki tujuan, yakni survival bagi diri sendiri, dan bahkan, keluarga. Sedangkan aku, pada posisi dimana semua serba ada. Apa yang harus kuperjuangkan? Their survival? Atau malah ego dan rasa cinta ku terhadap diri sendiri?

Apa ??

Tuhan, tolong ingatkan aku untuk mau bekerja keras dan tidak sekadar menghabis-habiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia yang selama aku menjalani kehidupanku ini. Aamiin. Tolong ingatkan aku untuk memiliki mimpi yang besar dan tidak menghentikan langkah hanya karena permasalahan receh dan tak penting yang tidak akan membantuku dalam menjawab pertanyaan di alam sana, saat aku diberi pertanyaan :

Apa yang sudah kamu perbuat di dunia?

Ya Allah.
Share:

Tuesday, 11 October 2016

Maintaining Your Calmness

At the first time when I want to write that Line status, what comes to my mind actually wasn't calmness, but calamity. Which is, of course, worlds apart. I don't know how, but I'll try to give some explanation which might be the reason.

Between calmness and calamity. That's where I'm right now. I studied Electronic Materials this semester, and I'd like to try to apply that knowledge to understand what's happening with me right now. Imagine a semiconductor's energy band, or at least, take a look at the picture below. At the lowest part there's Valence Band where electron rotates smoothly and steadily around the nucleus of an atom. You can also see the Conduction Band, where the free/unbounded electron is. It can run away anywhere it wants, it was the physical form of the current going through a wire, it can bring energy and power. What happens is, when you give the semiconductor enough potential difference(V), some of the steady electron in the valence band will jump through the vacuum energy level(Egap). Thus, transforming into a free electron.
Pita energi dari suatu semikonduktor
Let's make it an analogy. Valence band is where calmness is, and conduction band is where calamity (disaster) is. I was trying to stay calm. But, right now I felt like a little bit more push to myself, and I'll go explode. I'll roam free, do whatever I want without even thinking of the consequences, or else, I'll do something great, really great that I will be really proud of. Well, just like currents. You may get electric shock when you touch it, but if you use it on a bulb lamp, it'll shine. Right now, I'm still trying to be sane while being given a difference of condition(let's take it as V). I might jump right after this, to become a free electron.

Yah, whatever.

But just to tell you, I often faced times like this. And I often get confused by it. I felt like my mind's going to explode, but, often there's just nowhere to soothe it down.

Image source : http://www.studynotestoday.com/2015/07/introduction-to-semiconductors.html
Share:

Monday, 15 August 2016

Bagaimana Mentoring Mampu Merubah Dunia.

Bagaimana mentoring mampu merubah dunia?

       Aku adalah seorang pribadi, bagian dari dunia, yang telah berubah karena mentoring. Aku telah mengikuti mentoring semenjak aku lulus SD. SD ku dulu merupakan sekolah Islam. Aku dan teman-teman ku adalah angkatan pertama, lulusan pertama, di sekolah kami. Jumlah laki-laki di kelas kami, tak lebih dari 10 orang. Wali kelas kami benar-benar memberikan perhatiannya kepada kami semua, guru-guru yang lain pun juga. Wali kelas kami ini kemudianlah, yang menginginkan untuk membuat wadah mentoring untuk kami yang masih kecil-kecil ini. Hampir tiap minggu beliau tak pernah absen untuk mengadakannya, kecuali jika ada udzur mendadak dan penting. Padahal, kami hanya anak-anak kecil. Kalau aku boleh bertanya, apa manfaat kami bagi beliau? Pertanyaan itu sepertinya harus kupertanyakan pada diriku sendiri bila aku merasa lelah menjadi mentor.

       Namun begitulah, mentoring kami bertahan hingga SMA. Hingga kami bertukar mentor yang lain. Dan sekarang, anggota kelas kami tersebar kemana-mana. Tiga anak termasuk aku ke institut di Bandung, ada juga yang memilih institut di Surabaya, ada yang memilih sekolah kedinasan perpajakan, ada juga yang memilih untuk memperdalam ilmunya ke pondokan, ada juga yang langsung bekerja, bahkan dia sudah menikah.

       Banyak yang wali kelasku ajarkan. Bahkan kalau aku boleh jujur, menurutku aku mungkin tidak akan bisa lolos ke ITB tanpa adanya kelompok mentoring ini. Di kelompok ini kami berbagi mimpi, ada beberapa yang bermimpi masuk STEI, ada yang memang mau masuk FTTM, begitulah, disana kami berbagi mimpi. Di sana kami bercerita tentang pemikiran-pemikiran kami yang masih kecil-kecil ini, ya terkait hal-hal sehari-hari, game PS, game GBA, dll. Lingkaran yang hampir tiap minggu merapat ini kurasa benar-benar membuatku selalu ingat akan pentingnya menimba ilmu Allah. Pentingnya memiliki teman-teman saling menjaga dari keburukan, bahkan sekecil mengucapkan kata-kata yang tak pantas sekalipun. Karena itulah yang kupercaya. Di zaman dimana kebaikan dan keburukan telah bercampur, saat batasan-batasannya telah menjadi kabur, banyak pemudi pemuda terjebak pada makna dari kata normal yang salah. Banyak yang mengira bahwa berkata-kata kotor itu normal, merokok itu normal, pacaran itu normal, bahkan sekadar melihat rambut perempuan pun, baik secara langsung ataupun lewat foto, ataupun lewat gambar animasi, itu normal. Kita hidup di dunia dimana kata normal bukan hanya telah menjadi standar ganda, tapi bahkan tiga, empat, atau lima maknanya. Alhamdulillah dari lingkaran itu aku bisa tetap mengerti mana kebaikan yang sebenarnya, yang tidak tercampur-campur.

Begitulah bagaimana mentoring mampu merubah dunia, duniaku.

       Dari pengalaman itu pulalah, aku percaya, bahwa mentoring tidak hanya mampu merubah duniaku. Tapi juga dunia adik-adik mente ku, dengan hasil yang mungkin sama sekali tidak bisa kusangka-sangka. Dimana aku hanya berusaha untuk menyediakan dunia dengan standar kebaikan yang tidak tercampur dengan keburukan, hanya menyediakan nasihat-nasihat tentang kehidupan yang jauh dari niat buruk, hanya mencoba mengingatkan pada Allah dan keberadaan-Nya. Semua itu dilakukan dengan ditambah satu bumbu utama, konsisten dan rutin. Agar kata normal tak menjadi rusak terlalu lama dalam diri kami masing-masing.
Share:

Monday, 8 August 2016

Cinta dan Kerja

Manteman,

       Kali ini saya mau minta do'a lagi, ya, lagi lagi lagi. Ya begitulah, banyak hal di dunia ini yang berjalan tanpa kita ketahui di balik layar kehidupan kita. Dan saya yakin, tidak sedikit diantaranya terjadi karena do'a yang kita lantunkan, atau yang orang lain lantunkan untuk kita. Karena memang, do'a itu seperti bisa menjadi mantra alam bawah sadar yang, somehow, membuat hidup kita jadi terarah kesana. Bisa lewat keputusan-keputusan yang kita buat, atau bisa juga perasaan-perasaan kita yang muncul terkait suatu hal. Yah, intinya saya percaya dengan kekuatan do'a.

       Sebetulnya ini bermula dari tadi aku browsing ke pemudahijrah.com terus cek list rekaman-rekaman yang tersedia. Menurutku yang paling bagus, yang Hijrah, dan yang paling membahayakan mental state, yang Falling in Love Syariah, di sini link nya. Nah, yang kedua ini, yang tadi aku berhasil selesaikan paling akhir. Terus ya gitu, hmm gitu ya, hmm. Cemcem gitu lah pokonya. Kan ustadz Tengku Hanan Attaki orangnya suka cerita gitu kan tentang gimana asiknya 'pacaran' setelah nikah, ilustratif banget! Silahkan bayangkan perasaan Anda ketika mendengarnya nanti. Ada juga bagian dimana beliau cerita tentang temennya yang pacaran sewaktu SMA, yang laki-laki ketua OSIS, yang perempuan sekertarisnya. And they live happily ever after. *ya nggak lah, ada kerja kerasnya pasti* Beliau cerita kalau orang tua kedua anak ini sama-sama paham agama, makanya ngebolehin anak-anaknya nikah di umur segitu. Kalau tentang rezeki sudah ada yang atur, gitu menurut mereka. Nah, ini yang mau kubahas.

Kerja.
Udah cukup jelas. Punya penghasilan. Kerja dulu, baru nikah. Kalo aku nggak usah ditanya, InsyaAllah itu jawabannya. Teuing juga sih, siapa yang bakal nanyain ya --".

Sebelum saya membahas secara lebih mendalam, ada baiknya saya memohon maklum bahwa ilmu saya masih secukupnya belajar selama ini, harapannya isi pendapat saya tidak perlu dibanding-bandingkan dengan pendapat orang lain terkait topik ini. Jadi, ya ini hanya pandangan pribadi yang saya miliki dan saya yakini. Bila ada masukan/nasihat lillah maka saya insyaAllah akan cukup berterimakasih.

       Mengapa saya memilih untuk kerja terlebih dahulu? Padahal sudah jelas Allah menjanjikan bahwa rezeki itu ada di tangan Allah?
Pemahamanku sejauh ini baru seperti ini: Kondisinya, hingga saat ini aku sama sekali belum pernah mendapatkan pekerjaan tetap. Baru sekali mungkin proyekan. Terus jadi pengajar sekali. Terus megang jualan buku sekali, itupun kurang jos. Ya gitu. Terngiang kembali pertanyaan-pertanyaan itu di telingaku?

"Bojomu ape mbok kei panganan opo? Gedhang ta?" yang artinya,
"Istrimu mau kamu kasih makan apa? Daun?"
*Uhuk.
"Ya nggak, Pak. Ya maunya ya 4 sehat 5 sempurna, Tapi ya itu, duitnya,,"
*nggak dibales se, orang belum punya kerjaan.

Sekarang, mari kita coba pecahkan permasalahan ini dengan metoda Pak Rudy Habibie,

1) Faktanya, rezeki ada di tangan Allah.

2) Masalahnya, aku merasa masih sangat kurang dekat, bukan hanya dengan rezekinya, tapi bahkan dengan pintunya. Bayangkan kalau kita belum kerja. Rezeki, uang itu, akan datang dari mana? Yang bisa bikin nggak hanya saya yang bisa bertahan hidup, tapi juga istri saya, apalagi misal di Bandung, dengan biaya hidup semahal itu. Pintu rezeki itu yang bisa mencukupi ada dimana?
Solusinya,  ya ada di bekerja. Atau mungkin bisa bertahan beberapa saat dengan tabungan terlebih dahulu. Tapi ya itu, selanjutnya pintunya ada di pekerjaan. Jadi ya saya kira saya lebih memilih untuk mendekati dulu pintu rezeki itu, baru nanti bisa berharap semoga Allah akan mengalirkan rezeki ke kita. Sedangkan aku sendiri, baru berapa kali mencoba mendekat pada pintu-pintu rezeki itu? Baru sedikit.

3) Solusinya, perlu ada usaha-usaha nyata dari pribadi saya sendiri agar benar-benar rezeki itu bisa mengalir kepada saya. Kembali lagi, bila saya bahkan tidak dekat dengan pintu rezeki Allah selama ini, bagaimana mungkin saya bisa berharap bahwa rezeki saya akan tiba-tiba datang?
Akhir-akhir ini, muncul beberapa opsi. Menjadi tutor di BMK, dengan gaji yang lumayan. Lalu di KLC, gaji nya tergantung kepada berapa kali saya bisa istiqomah mengajar. Lalu ada tawaran lagi terkait penelitian dan pengembangan. Yang ini tampaknya menarik karena sejalan dengan apa yang sedang saya lakukan sekarang. Bisa juga bisnis/jasa, menarik juga untuk dicoba. Yaa apapun nanti hasilnya kerjaan saya, saya mohon do'a nya supaya saya bisa segera membuka salah satu pintu rezeki dari Allah, agar saya bisa menjadi satu langkah lebih mantap dan berani untuk menyongsong pernikahan.

       Kalau memang saya cinta kepada Allah, maka saya harus bisa menyiapkan diri untuk bershadaqah kepada sesama, untuk membantu saudara-saudara saya yang kekurangan.
Mohon do'anya, terimakaih.
Share:

Thursday, 7 July 2016

Kereta Lebaran

*Huwaaa*
*Kyaaaaaaaaaa* *nada tinggi banget*
*Hiye e e e e*
Duh ya mbakyu, rame banget. Ada sampe 5 anak kecil dalam radius 5 meter di sekitarku.
Ini pertama kalinya aku naik kereta api dalam rentang waktu yang sangat dekat dengan lebaran, yaa bahkan di hari H lebaran. Ramadhan kemarin aku pulang di H-7, dan di lain waktu sepertinya aku nggak pernah ngerasain kereta lebaran, kereta yang berangkat di saat lebaran. Ternyata banyak anak kecilnya =-=.
*Dan sekarang eta anak-anak kecil malah lagi ketawa-ketawa*
Sekarang, mari berdiskusi.
Rumah ya, pulang.
Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang menuju Surabaya lagi. Tapi harus kuakui bahwa ada yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Ada rasa yang berbeda. Dulu, pulang kampung adalah sesuatu yang begitu dinanti-nanti, ada rasa senang, berasa "Yesss!!!" gitu. Tapi sekarang semua terasa lebih datar. Mungkin aku sudah makin mahir memainkan perasaan homesick 'kangen rumah'. Atau alasan lainnya, mungkin aku sedang berada dalam keadaan dilematis. Apakah ini berangkat, ataukah ini pulang? Dari rumah, atau ke rumah?
Keaktifanku di P3R kemarin boleh dibilang cukup berkesan ya, kejaranku untuk bisa all-out in something, insyaAllah sudah terkejar.
*dan si anak-anak makin tertawa, ada juga yang berjalan-jalan ria, sepertinya mereka sudah terbangun dari hibernasi mereka dan sedang sangat aktif*
Semua bermula dari wawancara. Aku ingat aku diwawancara oleh Kak Ardi. Lalu kami berbicara tentang P3R. Tak ada banyak konsep yang kumiliki untuk P3R, aku pun tak menyangka bahwa aku akan menjadi tim inti di P3R yang kemarin. Lalu akhirnya semua dimulai. Bermula dari perkenalan satu per satu, lalu penentuan siapa yang akan menjadi calon ketua. Kami memutuskan untuk memunculkan calon ketua dengan menyebutkan masing-masing 3 nama yang menurut kami cocok untuk mengemban amanah tersebut. Aku masih cukup ingat, Ali rifki dan anwar(yang ketiga agak lupa). Dan pilihanku sama dengan pilihan Ilzam.
Ali, kenapa Ali? Aku melihatnya dari berbagai segi, salah satunya, Ali cocok untuk menjadi icon P3R. Kesopanan dan kesantunan ada dia miliki. Karena aku cenderung lebih memilih itu. Daripada seorang yang mapan dan mantap kemampuan berorganisasinya, lebih tepat kesopanan dan kesantunan sebagai icon nya. Semisal ini sebuah pergerakan besar merubah dunia, maka okay kemapanan berorganisasi adalah prioritas. Tapi karena ini adalah pelayanan, dan bentuk paling minimal dari pelayanan adalah senyum, kurasa Ali tepat. Poin-poin lain seperti ia sering di Salman, fasih membaca Al-Qur'an yaa adalah poin tambahan saja bagiku.
Lalu terkait tim inti, harus kuakui bahwa kami adalah tim yang cukup hebat. Secara individu pun, saya mengapresiasi sekali masing-masing teman-teman. Di dunia perkampusan yang menuntut batas terakhir penjaga kehormatan adalah IPK, menurut saya, tidak sedikit di antara kami yang rela untuk mengorbankan waktu belajarnya untuk itu, dan secara langsung itu berdampak pada penurunan IPK. Saya juga menurun sih. Pengorbanan lain seperti rasa lelah berkepanjangan saat kami dituntut untuk fokus, tetap solid pada masa-masa yang rentan seperti di awal-awal Ramadhan, atau bahkan, pengorbanan perasaan yang kadang suka kemana-mana, ketika diri menuntut hendak diperhatikan, Saat beberapa dari kami kurang kuat untuk menumpahkan segala sesuatunya pada Allah, dan kami harus membaginya satu sama lain. Seperti ketika ada yang hampir tidak jadi pulang dan jadi seperti kehilangan arah.
Banyak kejadian. Banyak. Mungkin saya seorang yang cukup pelupa, tapi saya harap saya mampu mengenangnya. Saya ralat, mempelajarinya. Karena untuk saya, mengenang hanya akan membuat saya kurang rela untuk meninggalkan itu semua dan berpindah pada perjuangan selanjutnya.
*Terus ada orang tua yang sekarang lagi asik-asiknya main sama anak-anaknya, ada anak lari-lari, trus berhenti buat ngeliatin penumpang lain dengan pandangan penasaran khas anak kecil*
Harus kuakui aku bangga. Bangga akan keberhasilanku untuk mendedikasikan diri untuk sesuatu, untuk Ramadhan di Salman, untuk Allah. Aku suka dedikasi.
Terima kasih untuk teman-teman,
Ali untuk semangatnya,
Ilzam untuk mengingatkan untuk mengembalikan semua kepada Qur'an,
Rifki untuk keceriaannya,
Rozi untuk usahanya untuk tetap ikut bekerja keras,
Ayub untuk karya-karya dalam diamnya,
Anwar untuk semangat bekerjanya,
Hawari untuk telah ada menjadi dirinya sendiri,
untuk PWP digabung, atas pelajarannya tentang bagaimana berteman dengan baik dengan perempuan, dan dorongan semangatnya.
Hatur nuhun, matur suwun saget.
Do'a kan semoga kita terus istiqomah membawa niat lillah itu untuk tidak berhenti di P3R, tapi kemanapun nanti kita berada. Muara terbaik niat adalah lillahi ta'ala.
Kudoakan kalian semua mendapat umur panjang yang barokah, dan kesehatan. Aamiin.
*Kereta pun berhenti di stasiun Gubeng*
Aku pulang :)
08:28, 7 Juli 2016
Share:

Tuesday, 24 May 2016

Jam 24.01-24.59

Bila bisa ada ya, aku berharap aku bisa memiliki waktu itu.
24.01-24.59.

You know, lately I've been quite really busy. So busy that it's really hard for me to find a free time to write, just like now. Even right now, I was writing inside Masjid Salman, just finished my prayer, stealing a li'l free time to write. Time felt really got tensed up these days. Things just keep coming one after another. Free time has become such a utopian luxury. Why?

First, I applied for SSDK trainer some weeks ago, and there it goes, from this Monday till Thursday, I need to attend the TFT from 7.30 in the morning, till 15.30. It was quite tiring, even worse, I can't seem to reach anyone through my smart phone at those times. Coz at the room I was in, there was no internet signal for my SIM card. 

I was also a part of P3R(Panitia Persiapan Program Ramadhan) family(supposedly, by now it should've been becoming a li'l kind of family, but it hasn't, yet. Mostly we were still for the event, and the spiritual development wasn't that strong) and I'm one of some people who fought together to make P3R impactful and useful for everyone around us. Although lately it's been really hard for me to become optimistic since we have so many problems and I can't seem to help that much because I have errands to do for other things like SSDK. 

I was also a committee in LMD(Latihan Mujtahid Dakwah) 182 which is going to be held on 27-29 of May. 

And also, 2 days ago, I was in Dago Natural(?) School(Sekolah Alam Dago). I was the logistic team helping the other comitmitee who held the DP2Q #2. 
Overall, it make me quite exhausted, even for simple things like writing in this blog is quite hard.

But then,
Lately I've been wondering, if, maybe, peaceful times were never meant to really exist. I mean, when we're having all those big things to do, what are we hoping? Sitting down in front of our room, enjoying the luxury of just sitting down there while the sun washes our face, noticing the calm surroundings because everyone have gone to work, to school, while we're staying since it's already holiday for us, and just keep typing in front of our laptop? Well, actually that's what I'm doing right now, hehe. But, you know, these kind of times were such a luxury. It was not meant to exist, especially when I'm this busy. What I'm doing right now actually was sacrificing the time that I should've spent to do many other things, just so I can write.

You know, I just want to have some time, just some, to do things that I need to do. By things I mean digesting and processing all these information, every facts about the chores, the plans that I've abandoned. There were just so many things going on, and I can't seem to process them all. I need, really need, to sit down, and process everything that's happening with me, and around me. I got really confused when I heard the news, this men got killed, that women got raped, there's flood there, Indonesian rupiah currency droppred really low. And all those news. 

"HAH!", what can I do?

I felt like I was bombarded with all these problems while probably, they were thinking that knowing about all those problems might get me feel better. It doesn't, FYI. I need some time, to sit down, relax, and think.

Which is important and urgent to me, which is not?
I was wondering if maybe, I can ask for Him to give me an extra time, just an hour everyday, to do that. To sit down, process things, write it down, whether it may be in my blog or in my book or anywhere. To make it clear what's actually happening. Because I felt like I was inside a loop which I don't even know what's really happening in each loop. Just maybe, He can give me an extra time to do it, 24.01-24.59 in everyday. To make me things clear in every loop, in every routine that I do everyday.

Do'akan saya, ya, manteman,
Dan satu lagii, jangan lupa sudah makin dekat dengan Ramadhan, yuk persiapkan. Do'akan saya bisa segera membuat tulisan tentang persiapan Ramadhan hehe :D
Share:

Sunday, 3 April 2016

Orang Tua Datang Wisuda

       Kemarin, 2 April 2016, adalah hari 'agak' besar bagi ITB. Wisuda April. Momen kelulusan secara resmi, momen pertemuan (yang mungkin) terakhir, momen apresiasi oleh massa himpunan, dan banyak yang lain, bagi wisudawan. Dulu, aku pernah ditawarin oleh temanku untuk ikut membantu menjadi panitia, ya lewat oprec(open recruitmen) 'rekrutmen terbuka' biasa. Dulu karena khawatir akan jadi tidak amanah, jadinya aku menolak. Tapi pada akhirnya, somehow aku join an dan pada hari H menjadi Liasion Organizer/Officer atau lebih biasa dikenal dengan LO. Tugas seorang LO adalah bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan tamu, atau untuk acara wisuda ini, sang tamu adalah wisudawan/wati dan keluarga. Di bawah ini aku akan menceritakan tentang pengalaman paling berkesan kemarin. Menyentuh.

Kenapa mau jadi LO?
       Sebenarnya aku tertarik untuk ngelihat orang tua-orang tua yang datang jauh-jauh buat ngelihat anaknya kelulusan sih. Aku ingin membandingkan situasi kemarin dan dulu. Aku masih ingat dulu wisuda saat aku masih TPB, aku datang ke tempat resmi acara wisudaan nya, di Sasana Budaya Ganesha(Sabuga). Di sana aku hunting foto-foto menarik. Tau apa yang ku dapat? Foto seorang ibu yang sedang di luar Sabuga menunggui sambil melihat ke arah Sabuga dengan penasaran, dan tampak sangat penuh harap, seolah sudah tak sabar menanti tantangan dan kesuksesan yang akan segera dihadapi anaknya pascakuliah. Ga cuman ibu-ibu, bapak-bapak juga ga sedikit yang berekspresi gitu. Aku somehow tergerak. Jadi gini, ekspresi orang tua bila melihat anaknya resmi hendak diluluskan. Tampaknya ada banyak emosi yang tersirat, tapi yang paling tampak bisa dilambangkan dengan satu kata, "harapan". Sayang fotonya ilang, hapenya sih. -_-

       Kemarin adalah hari yang cukup, hmm menyenangkan ya nggak juga, boring ya nggak juga, lumayan menarik lah. Kemarin adalah hari pertama ku mengenakan jaket himpunan HME ku. WOW. Ternyata ada fungsi aslinya! Kukira buat gaya-gaya an aja #eh. Makanya dulu-dulu ga suka dipake. Pagi-pagi nungguin orang tua dan wisudawan/wati keluar semua. Ketika orang tua sudah keluar, kami LO mengantar orang tua ke Basecamp untuk ditawarkan apakah ingin mengikuti acara dari HME bagi orangtua. Karena, anak-anak nya akan arak-arakan, dilempar2i cairan cat atau sabun lah, ada yang dipukuli pake koran pula katanya. Well, beda himpunan beda tradisi. Selesainya mungkin sekitar Ashar sampai Maghrib. Padahal acara formal dari ITB selesai sampai Dzuhur saja. Makanya, daripada orang tua bingung hendak ke mana, ditawarkan untuk ikut acara siang dari himpunan, tempat orang tua bisa ngaso dulu sambil nungguin anaknya arak-arakan.

Yeaayy, itu abu-abu jahim! Akhirnya kupake coba, ckck
       Sekarang, masuk ke kejadian paling berkesan kemarin. Jadi, kemarin seperti biasa, aku dan teman-teman sedang menunggu orang tua satu per satu keluar dari ruangan Sabuga, sambil mengecek apakah yang itu atau yang sana orang tua wisudawan/wati HME atau bukan dari bros yang dikenakannya. Menjelang siang, ada yang berbeda, tiba-tiba ada satpam yang keluar dari gerbang dalam sabuga itu, dan meminta untuk dibukakan jalan pada orang-orang yang terlalu mengerumuni pintu gerbang. Aku penasaran. Kenapa? Apa ada pejabat mau lewat? Atau kami aja yang memang udah terlalu menutupi gerbang? Ternyata.. enggak. Di sana, di gerbang tempat keluar orang tua, ada seorang orang tua wisudawan yang sudah sangat berumur dan sudah beruban(read: tua). Beliau berjalan sangat perlahan, kepala beliau miring ke kanan dan tampaknya memang tidak bisa digerakkan. Setahuku itu pertanda stroke, atau malah memang mungkin beliau terkena stroke sebagian. Masih bisa berjalan sedikit. Tapi berjalannya pun dituntun, di sisi kiri beliau ada istri beliau memegangi tangan kirinya, dan di sisi kanan ada anak(atau mungkin cucu) dari sang kakek, memegangi tangan kanannya, menuntun jalan beliau, langkah demi langkah. Jalan beliau sangat lambat, dan kondisi beliau memang bukan seperti orang tua pada umumnya yang masih bugar, makanya satpam meminta untuk dibukakan jalan. Jujur, aku trenyuh. Ketika melihat sang kakek, aku teringat alasanku menjadi LO, dan aku benar-benar melihat hal itu terjadi. Semangat orang tua untuk sekadar melihat anaknya sukses, walaupun masih di tahap lulus kuliah. Gimana tingginya harapan sang kakek bagi anaknya. Hatiku bener-bener tersentuh. Beliau (mungkin) dari daerah yang jauh, pada umur yang sudah sangat tua, dengan kondisi fisik terkena stroke sebagian, rela datang ke wisudaan anaknya. Aku bayangkan mungkin sang kakek sudah memiliki mimpi dulu, "Anakku harus jadi lulusan di kampus ternama. Dan saat dia lulus, aku harus hadir di acara kelulusannya!" Atau mungkin semacamnya. Betapa berartinya sang wisudawan, kelulusannya, bagi sang kakek. Sangat melambangkan yang aku ingin dapatkan dari pekerjaan LO ku hari itu. Melihat seberapa tinggi "harapan" orang tua terhadap anaknya. Saat melihat beliau, 2 detik kemudian aku langsung membalikkan badan. Nggak sanggup. Aku takut aku nangis di tempat. Well, jujur akhir-akhir ini aku memang lagi agak mudah tersentuh. Mataku berkaca-kaca, dan mungkin udah agak merah. Aku langsung agak mundur dari temen-temen sehimpunan. Ga mau keliatan kalo nangis.

       Hari itu, 2 April 2016. Aku mendapatkan jawaban dari alasanku mengikuti wisudaan. Dan kini aku semakin percaya bahwa memang tidak banyak yang orang tua minta dari anaknya. Cukup agar ada yang bisa dibanggakan ke tetangga sebelah-sebelah saat ketemu, saat arisan. Cukup dengan membicarakan, "Anakku masuk kampus ini lhoo, anakku sekarang sudah kerja, sekarang sudah bisa ini, bisa itu." Betapa orang tua hanya meminta agar kita sebagai anak bisa memberikan mereka harapan. Itu aja, udah cukup.
Terima kasih, kakek kemarin :"

Share:

Sunday, 28 February 2016

Marriage - The Gate to Divorce


       Here in this place, in ITB, with most of my friends being the kind of people who didn't want to make an uncommitted relationship with someone of their opposite gender, I learned some quite special things about marriage. We are the people who think that marriage is much better than having a temporary boyfriend or girlfriend. It gives us more time to chat with friends, it doesn't distract us from our top priority mission which is studying, it removes a whole lot probability of problems which may arise by having one, or maybe like me, it makes me appreciate my future wife even more. I need someone who put being with me in her priority, so the one thing I should never do is to hurt her intentionally(regardless of the traits or qualities that she has). Especially, comparing her with another woman, particularly, a woman from my past, or even worse(imaginary women, or pixelated women, if you know what I mean). Something I tried to do endlessly. So, consciously choosing to be single all this time is my way of proving that I'm trying not to have someone whom I can compare her to. I, for once, ever get close to someone -- kinda obsessed, actually. But then after a while, something like the Indonesian paraphrase "bertepuk sebelah tangan" thing happened, I felt really really down. From that moment on, I hoped to myself that I will not get myself attached to any girl, any woman I know, ever again. Not one except for my wife :"

Waa waa, why am I telling all those stories again here? Well, let's get back to the point.

       So, what I'm trying to say here is that I often encounter talks about marriage here with my friends. I think lots of them think of marriage as something which is pleasing. It brings us smile and laughter when we talk about it. You know, in my own views, of course it's logical for us to think of it that way(re : pleasing) because it's like we've been abstaining from having someone of the opposite gender to get close to us. Pretty much analogous to fasting, in some way, and the marriage itself is like the end of our fasting. That's why it sounds pleasing to us. Finally, we've someone beautiful and caring by our side. Indeed, it rings very beautiful in the ears. Unfortunately, it seems like very little people talk about the opposite(or maybe the end) of marriage, divorce.

       The first time I ever had a talk about divorce is when I'm at my 10th grade in my sociology class. I still remember my teacher's name, she's the very famous teacher who gives quiz in which no one can get the score of over 40/100. I remembered that at first, she talked about recent social problems in Indonesian culture. Near the end of the class, the topic somehow turned into divorce. At the beginning of the discussion I was on the side of the guys who thinks that divorce is okay if the condition seems inevitable. I forgot about most of the discussion, but I did remember about the end of the discussion, the message my teacher tried to send to us clearly : "Divorce, at any condition, is never a good thing." That's the one thing that I still remembered up till now. I was trying pretty hard to understand what that means, but as time passes I think I've come to understand more about what she was trying to convey.

"Divorce is never good for the children."
"Divorce is one very egoistic decision parent can make about their family."
"Divorce is not the solution, it's just two people running away from the problems that they have made."

       So, rethinking about divorce, I now started thinking about what kind of a husband I will be in the future. Am I going to change so much? Because I've seen in many stories which is about people going through their dark times, they changed dramatically in their 30s or 40s. It may well be caused by internal factors like faith, depression, or even some kinda childhood things that many people don't bother at all, although actually it matters a lot. Or maybe, external factors, maybe I got kicked out of the company I worked in, or I got fast and quick promotions many times, or maybe I got strange friends which succeed in changing me, or anything. Anything that may change my personality. Well, no one knows about the future. No one knows whether they will always be husband and wife, or become an ex-husband and ex-wife after some time.

------------ Kamu tahu kesimpulannya? Aku khawatir. Because I've seen it happening :(

Notes : So, maybe you think you wanna be someone's partner in the near future because of what you've seen in her/him now, but are you ready for that change? Are you ready?
Share: