Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Showing posts with label Baper beuds. Show all posts
Showing posts with label Baper beuds. Show all posts

Sunday, 6 August 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - Part 5 (Extended Final)

Bagian ini adalah bagian yang (almost) terlupakan. Bagian untuk menjawab sebuah pertanyaan,

"Hati siapa yang harus dijaga, Haw?"

       Aku sudah pernah terpikir tentang pertanyaan ini sejak jauh-jauh hari. Sejak tulisan tentang perceraian kukisahkan, aku sudah terpikir untuk berhati-hati dalam menjaga hati. Eh, lagi-lagi, kemarin diingetin umi tentang kondisi anak muda yang suka pacaran jaman sekarang. Putus, yang satu pacaran lagi, eh ternyata mantannya gagal move on. Sampe yang satu nikah juga masih aja si gagal move on ini kepikiran, kan sakit yak rasanya. Mending kalau dipendem, yang sulit kalau jadi ngegangguin hubungan mereka, curi-curi kesempatan waktu rumah tangga mereka lagi retak misalnya. Hmm.

Dari sekilas cerita itu tentu ada di antara kalian yang bisa menduga, hati siapa yang harus dijaga.
Atau.. belum cukup jelas?
Baiklah, akan kujelaskan. Sedikit mengutip kembali dari tulisan tentang perceraian tadi,

       "We are the people who think that marriage is much better than having a temporary boyfriend or girlfriend. It gives us more time to chat with friends, it doesn't distract us from our top priority mission which is studying, it removes a whole lot probability of problems which may arise by having one, or maybe like me, it makes me appreciate my future wife even more. I need someone who put being with me in her priority, so the one thing I should never do is to hurt her intentionally(regardless of the traits or qualities that she has). Especially, comparing her with another woman, particularly, a woman from my past, or even worse(imaginary women, or pixelated women, if you know what I mean)."

       Yak, kukira di situ sudah cukup jelas disebutkan. Bahwa satu hati, selain hati ortu tentunya, satu hati yang harus kujaga untuk masa depan nanti dan harus kumulai dari sekarang adalah hati-nya. Hati dia yang akan menjadi pendampingku, yang akan mengikat dengan perjanjian yang agung, yang akan diserang badai bahtera rumah tangga bersama, yang akan paling mengerti masa lalu, kini, dan masa depanku. Dia yang berusaha menjaga hatinya demi menjaga hati calon pendampingnya juga di masa depan. Seperti aku.

       Sederhana saja, jangan sampai aku membuat hati-mu berkompetisi dengan hati lain, nama lain, baik di masa lalu maupun di masa itu. Aku (berdo'a -- karena ini teramat sangat berat, dan aku sangat yakin aku bukanlah manusia yang sempurna) agar hati ini terkunci dengan baik dan hanya benar-benar terbuka saat ia bertemu dengan kuncinya yang sempurna. Yang berani mengikat perjanjian suci sehidup semati.

       Yakinlah kawanku, rasanya sakit saat engkau memberikan hatimu kepada seseorang, tetapi ia tak menganggapmu melakukannya. Makan tak sedap, tidur tak tenang, well itu jika cintamu kepada sesama manusia terlalu berlebihan sih. Tapi, yakinlah bahwa setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Saat kamu menyimpan hatimu untuk hati dia yang akan bertemu di ujung perjalanan kesabaran ini, ia akan menjadi kunci yang secara sempurna membuka hatimu. *Click* Kelegaan luar biasa akan menjalarimu, seolah kamu adalah musafir kehausan yang dengan setetes air saja sudah seperti merasa berada di tengah derasnya guyuran air terjun. Kenapa? Karena kalian cocok, satu sama lain, dalam semua aspek.

Maka dari itu, kembali lagi, kepada para penjaga hati di jalan kesabaran. Saya meminta do'a, sekaligus mengajak kalian untuk becermin lagi. Perhatikan hatimu, satukan dulu cintamu hanya kepada Sang Pencipta Cinta, yang dengan itu ia akan menyatukan hatimu dengan hati yang terbaik. Aamiin.
Share:

Friday, 28 July 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - part 4 (Final)

"Bagaimana cara menjaga hati yang telah terlalu banyak bermain hati? Hati yang sebegitu mudahnya tergantung pada hati lain sehingga ia berontak saat akan berpisah. Bagaimana?" 

       Saat mata seorang lelaki terpaku pada keindahan satu orang perempuan, biasanya itu bisa dikompensasi dengan keindahan perempuan lain. Bukan hal yang terlalu menyulitkan jika ia tidak melihatnya sekian lama. Tapi jika hati seorang lelaki terpaku pada hati seorang perempuan, the world changes. Berpisah dengannya bukan hanya berarti terpisahnya kedua hati, tetapi juga terpisahnya sang lelaki dengan dunianya.

       Tentu kalian sudah sering mendengar cerita tentang playboy yang bergonta-ganti pacar hingga berkali-kali. Tapi sebaliknya, justru ada juga cerita tentang seorang ayah yang tidak ingin menikah lagi setelah istrinya meninggal. Atau kisah terkenal di Autumn in Paris, tentang seorang lelaki yang gagal move on hingga akhirnya meninggal karena ia sedang melamun saat sedang melihat konstruksi bangunan yang tiba-tiba jatuh menimpanya. Kisah pertama tentang playboy adalah kisah tentang mata yang terpikat. Sedangkan kisah kedua dan ketiga adalah tentang hati yang terikat.

       Tentu tak mudah bagi hati yang berontak untuk bisa berdamai dengan kenyataan bahwa sudah saatnya bagi sang bintang untuk pergi dan berlanjut mengorbit pada lintasan orbitnya. Padahal, baru saja lintasan orbit kehidupan sang hati hampir beririsan, sangat dekat, dengan orbit lintasan sang bintang. Kenyataan bahwa sudah saatnya untuk berpisah dan kembali mengitari orbit masing-masing, saling menjauh, tentu bukan hal yang dengan begitu mudahnya bisa diterima.

       Tapi, kawan, itulah kenyataan. Perpisahan adalah perpisahan. Tak bisa kau memaksa sesuatu yang bukan berada pada kekuasaanmu. Atau menolak kenyataan dan bersikap seolah tak ada perpisahan. Apa kau berani mempertanggungjawabkan konsekuensi jika memaksakan untuk terus berdekatan? Di hadapan dirimu sendiri dan di hadapan Tuhanmu? Sesuatu yang orang sebut dengan,

mendahului Takdir. ... hmm, terdengar menyeramkan.

       Jadi, tidak. Itu tak akan kulakukan. Tampaknya yang terbaik adalah menerima kenyataan, belajar untuk bersabar, dan memantapkan diri akan jalan yang akan ditempuh ke depan. Serta menyerahkan kepada-Nya perihal Takdir yang diri ini juga tidak tahu siapa yang akan ditemui di akhir jalan perjuangan kesabaran. Apakah manusia, ataukah malaikat-Nya? Langsung dipanggil oleh-Nya untuk menghadap. 

       Simpulannya, jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah :

1) Menyadari akan bahayanya bermain hati, dan memintakan ampunan akannya.
2) Menerima kenyataan saat perpisahan dan bersabar akannya.
3) Menyadari bahwa sejarah ada untuk menjadi pelajaran, bukan untuk dilupakan.
4) Menatap ke depan dan mulai menyusun langkah dan strategi dalam menjalani orbit kehidupan di depan
5) Meminta do'a kepadanya agar diberi kemudahan.

Selesai.

Note : Oh ya, yang ke-6, tentunya juga harus minta do'a dari pembaca sekalian semoga kita dimudahkan untuk bisa lebih menjaga hati, mata, kemaluan, dan kehormatan dari sesuatu yang belum saatnya :) 


Lastly, cheers(semangaat) untuk para pasukan penjaga hati! Semoga Allah memberikan kemudahan dan mempertemukan hati-hati yang memang terjaga, Aamiin.
Share:

Wednesday, 8 March 2017

Kenapa Aku Menangis?

Kenapa aku menangis?

Entah udah berapa kali aku bikin postingan yang ada kaitannya sama menangis. Kalau
pemicunya, macem-macem. Meski sebenarnya, satu penyebab yang paling kuat. Saat mikir
tentang mati. Saat mikir bahwa ini semua akan berakhir.

Kenapa ya?

Kayaknya somehow hati ini masih merasakan kesedihan jika musti berpisah dengan segala wujud pengalaman yang dia punya selama ini.

Kenapa aku menangis?

Terakhir kali aku menangis, aku menangis di sebuah jalanan sepi. Aku menangis sesenggukan, tanpa perlu takut akan ada orang yang melihatku menangis. Tidak. Di tempat itu tidak akan ada orang yang mungkin mengenaliku. Tangisan menyesali masa lalu. Menyesali masa sekarang. Menyesali pemberian Tuhan yang tidak bisa kumanfaatkan. Apa artinya?

Kenapa aku menangis?

Aku ingat bahwa ada kejadian di hari akhir nanti, dimana seorang yang paling menderita di dunia
dicelupkan ke surga.. hilanglah semua penderitaannya. Sebaliknya, ada orang yang paling
bahagia dan senang pula di dunia, dicelupkan satu kali saja, satu kali, ke dalam neraka. Dan ia
menjelma menjadi seseorang yang paling menderita. Hilang, lenyap semua kesenangannya.
Aku khawatir bahwa semua kesenangan, semua rasa lega yang kurasakan semasa di dunia
saat bermaksiat. Semua hilang diganti kesakitan mendalam.

Kenapa aku menangis?

Sakit. Sakit saat aku terdorong jatuh oleh setan, lalu terror of memories itu menghantam saat aku balik lagi ke ground zero. Ke dalam imaji akan sebuah lingkaran pagar kecil dimana di dalamnya terdapat seorang anak kecil yang duduk sambil melingkarkan tangannya ke kakinya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu karena tak melihat ada siapa-siapa, memilih menundukkan kepalanya ke bawah. Sesenggukan.

Dan aku yang dewasa melihatnya dari luar pagar. Berharap bisa menepuk punggungnya, menenangkannya. Tapi.. itu tidak mungkin. Karena aku lah yang telah membuatnya kecewa. Yang membuatnya merasa sendiri. Merasa tidak dipedulikan oleh orang. Aku yang mengecewakannya.

Apa aku pantas untuk menenangkannya?

Kenapa aku menangis?

Karena aku lemah. Aku bukan orang yang bisa berdiri tegar saat aku dilempar jatuh ke dalam jurang yang dalamnya aku pun tak tahu. Aku juga bukan orang yang biasa bercerita kepada orang lain karena masalah yang kumliki. Biasanya, banyak hal kupendam. Kuproses sendiri terlebih dahulu. Tapi, mungkin processor-ku yang cepat panas yak. Kipas angin(notes: analogikan dengan laptop) ku yang sudah tidak lagi bisa jalan dengan baik. Ya gimana lagi. Di saat semua hal di atas terjadi. Di saat aku bingung. Merasa tak mampu lagi untuk tetap berjalan dan mempertahankan idealisme.

Aku terduduk. Tergugu. Menangis.
Share:

Tuesday, 21 February 2017

Kau Kira Kamu Siapa?

Pernahkah kamu merasa tiba-tiba ingin berharap bisa menangis?

Seperti saat kegagalan besar datang dan coba kau tutup-tutupi, kau tahan-tahan. Eh, ternyata datang kegagalan-kegagalan kecil, beruntun pula. Sebenarnya kamu masih tertawa saat bertemu dengan teman-temanmu, bercanda. Tapi, kegagalan-kegagalan ini dengan begitu cantiknya memainkanmu sehingga kamu tak bisa lama tertawa. Rasanya cepat sekali bertemu dengan penyesalan berulang yang muncul karena kegagalan besar itu.

Berharap agar ada yang tumpah.
Agar rasa yang seolah berputar-putar di dada itu bisa mendapatkan saluran yang bisa menjadi tempatnya berekspresi. Ah, lagi-lagi, ini hanya harapan.

Rasanya, ini mirip seperti waktu itu. Saat rasanya kepala pening, hati sesak, dan tidak ada tempat untuk membaginya. Tapi mungkin kali ini sedikit lebih baik karena ada yang bersedia mendengarkan tentang kegagalan-kegagalan kecilmu.

Seolah-olah kamu baru saja jatuh dari jurang, lalu kamu menemukan jalan setapak tempat kamu bisa mencari jalan menuju tempat-tempat yang terlihat menarik dalam jurang itu. Hingga kamu lupa sejenak akan gelap dan pengapnya jurang itu. Tapi saat makin sering kamu menemui jalan buntu, menginjak kerikil tajam dalam perjalananmu, jatuh terpeleset karena licinnya jalan setapak yang kamu temui, rasanya kamu jadi seolah sudah tak ingin lagi mencari tempat menarik dalam jurang itu.

Kegelapan itu mulai menyapamu lagi, usai itu ia langsung menyergapmu. Rasa dingin pun ikut menusuk tulangmu, membuat gigimu bergemeletuk. Saat kau melayangkan pandangan ke atas, oh sang surya, kemanakah perginya sinarmu? Mengapa tak ada apa-apa yang tampak selain kegelapan, sebegitu dalamnya kah jurang tempatmu jatuh? Hingga mungkin tak ada orang yang akan menemukanmu? Hingga mungkin untuk sekadar beribadah kepada penciptamu pun kamu ragu karena rasanya baju mu sudah terlalu kotor karena berkali-kali jatuh terpeleset, lalu terkena aliran air yang kadang terlihat membawa kotoran.

Rasanya, jika datang rescuer team, atau bahkan helikopter yang berusaha untuk mendarat di dasar jurangmu, ada rasa ragu lain menyerangmu. Kau lihat mereka, lalu kau lihat dirimu.


Kau lihat lagi dirimu.

Kamu kira kamu siapa? 

*lalu kamu pun memilih pergi dan menyibukkan diri dengan berusaha dan terus berusaha mencari satu sumber air yang tak pernah kotor sepanjang waktumu. 

source gambar : http://indramustafa.blogspot.co.id/2013/04/senja-dalam-gelap.html
Share:

Thursday, 12 January 2017

Willl Work Hard Beats The Impossible ?

So, have you ever been in your life, coming face to face with a condition where you are given a very challenging task? 

With a very great risk. Very little chance of success. 

And then, there you are,

Crying.

You're afraid that your hard work won't work.

. .

That what you will do, won't give any difference in outcomes.

You are so overwhelmed by the thoughts of having to make sure everything go well.

Then you remember who you were.

All you've been through, all the failure you've ever made.

Felt like a screen has been put in front of you and you watched them all.

Time tickles, and that question comes,

Can. tick.

you. tock

?

You felt powerless, you ask power from your God, from Allah.

You hope so much that He will cleanse that fear, that doubts, all from your hearts.

Aameen.

But still, you're afraid, the past mistakes and the past sins that you've ever made are gonna go back.

Crushing you.

Punch you in the stomach, then let you get back up.

Only to punch you back, even harder.

Blood flows from your mouth.

You look around. . . where is everyone?

Felt like it's pitch black, the darkness that surrounds you.

Still, you're looking for a light, a ray of hope.

A door to get out of this rooms full of aromas of self-loathe, self-curse.

There are only 3 people in the room.

You. Your beater. Your seducer.

Your seducer seduce you, you follow it.

Then the beater punches you back to make you realize that you are not supposed to be in this room.

It was there to make you realize that you're afraid of it, of being beaten.

Making you wanting to get out of the room quick.

And you comes back to your reality.

With this analogous imagination of your own life in your mind following you all around

. . .

You. Yes you. Are asked to do, to take these great risks, to push you to take a leap of faith.

Now, you faced doubts.

Your second boss monster has already been waiting for you.

Negotiating you to come back and not take that path.

Will you insist to go on? Haw?

- - -

O Allah, help me.
Share:

Sunday, 1 January 2017

Apa yang Kalian Takuti?

Kalian pernah merasa takut?

...

Menurut kalian, ketakutan apakah yang paling menakutkan?

Apakah itu tentang dunia di luar kalian? Atau, kalian lebih takut pada imajinasi kalian?

Pada kelemahan kalian, pada bara lava di dalam diri kalian yang selama ini belum pernah memiliki kesempatan untuk keluar. Takut jika ia keluar maka ia tak akan bisa tertahankan.

Ketakutan terbesar apa yang kalian miliki?

Orang tua kalian yang tidak akan mengizinkan kalian melakukan ini dan itu, teman-teman kalian yang tampaknya membicarakan kalian di belakang kalian, menunggu dari balik selimut untuk menikam dengan pisau paling tajam dan dengan langkah paling tanpa pertanda, atau, senyuman kecil yang masih saja diberikan oleh orang terdekat kita yang sedang mengalami sakit keras. Takut bahwa mungkin ternyata segala apa yang tampak di hadapan kalian hanyalah sementara. Bahwa semuanya akan berubah, segera atau tidak, tapi ia akan berubah

Pernahkah kalian takut, begitu takut?

Takut pada Tuhan, mungkin?

Saking takutnya kalian sampai tak tahu siapa di antara diri kalian yang sebenarnya takut, apakah itu diri kalian, atau, siapa? Ku tak tahu.

Karena tampaknya pada saat lain kadang ketakutan itu tidak lagi terasa.

Jadi, seberapa besar ketakutan kalian?

...

Dari dulu, hidup dalam ketakutan dan kekalutan.

Kalian tahu salah satu tulisan yang paling kusuka?

"Orang-orang yang Berlari."

Because it defines so many things, it tells me a story, a whole lots of story. Not just about the characters inside that story, but I believe, this story takes the heart and soul of so many people in this world. The people who run. 

From fear, from anger, from revenge, from self-pity, from sadness, from failure, from a broken relationship, from boredom, from reality.

Cerita ini menceritakan kepadaku bahwa sekian puluh persen (pengalaman dan instingku mengatakan mungkin sekitar 30-80%) dari manusia hidup dalam bayang-bayang akan sesuatu. Terus berusaha menjauh darinya.

Seperti tulisanku pada Maybe.

Sisanya, hanya sedikit orang yang benar-benar tenang menjalani hidup, setenang air yang mengalir.

Yang lainnya?

People like me, or maybe like you. Or if it isn't you, maybe it's your parent, your close friend, your brother, sister, or maybe your grandpa who's gone through war.

Orang-orang yang sibuk untuk mencari kesibukan. Mereka-mereka yang sibuk untuk berusaha melupakan. 

Tahukah kalian rasanya?

Takut. Takut. Takut.

Jujur, aku ingin belajar cinta.

Mencintai segala ketakutan itu, memeluknya erat dan berkata pada diri sendiri,

Tidak apa-apa, mereka tidak akan menggigitmu lebih kuat dari dirimu, Nak. Kamu masih akan terus bangkit lagi, berjuang lagi, terus mencari cinta. Mencari cinta agar kau mampu memberikan semua ketakutanmu rasa bahwa mereka dicintai.

Agar pada akhirnya, rasa takut itu akan lelah karena ia merasa tidak mampu untuk mengubahmu lagi.

Bahwa keberadaannya tidak lagi membuatmu takut, tapi kau malah akan memberikan ia penerimaan, dengan didasari kesadaran, bahwa memang kita manusia.

Sudah sepantasnya kita takut pada Tuhan, pada kemungkinan bahwa diri kita tak akan mampu untuk langsung menerima takdir yang telah Ia tetapkan untuk kita.

Teruslah berharap. Lantunkan do'a :"

Jujur, aku takut.

Akankah aku menemukan cinta yang bisa membuatku mendekap ketakutanku dengan hangat?

Akankah cintaku berlabuh pada-Nya sebelum ia berlabuh pada selain-Nya?

Aku takut bila jawabannya adalah,

tidak.

Naudzubillah.

Share:

Saturday, 10 December 2016

Review Novel : Nikah Aja, Yuk!

- Sebelum berkata apa-apa, saya akan nyatakan dengan gamblang di awal: Buku ini bukan tentang menyegerakan menikah, buku ini tentang apa yang harus dilakukan jika kita belum menikah - 

        Kamis sore kemarin saya kebingungan, ada masalah. Setelah berpikir sebentar, kuputuskan untuk coba mencari solusinya di toko buku. Kenapa ke sana? Well, begitulah saya. Sebentar-sebentar tiba-tiba pengen beli buku. Kalau lagi ada masalah besar yang saya nggak ngerti sebenarnya masalah saya apa, biasanya opsi pergi ke toko buku menjadi menarik. Di toko buku saya akan muter-muter, nggak jelas sebenarnya apa yang dicari. Ya itu, saya sendiri nggak ngerti masalah saya apa, cuman berharap aja siapa tahu ada buku di Gra***ia yang seolah-olah mengerti bahwa saya sedang ada masalah, dan buku ini menawarkan solusi. Buku ini, setelah saya ambil di antara tumpukan buku yang lain dan berada dalam genggaman tangan, keinginan untuk memilikinya mendadak meninggi. *I want this book so much, sow much*. Meski tidak lama setelah itu, rasionalisasi datang, lalu saya pun jalan-jalan lagi dan coba mencari buku lain yang mungkin memiliki 'tingkat resonansi' lebih tinggi. Biasanya yang mengerti buku apa yang saya cari itu bukan akal dan rasio saya, tapi hati. Mungkin karena masalah yang saya alami seringnya masalah hati ya? Well, who knows. Untuk kemarin, saya berjumpa dengan dua buku menarik, Your Sin is Not Greater Than God's Mercy milik Nouman Ali Khan dan Nikah aja, Yuk! milik Irma Irawati. Sekarang, saya ingin coba berdiskusi tentang buku yang kedua karena buku itu yang paling cepat saya habiskan, baru Kamis kemarin, tadi siang sudah habis.

Buku ini menarik.

       Saya mengerti bahwa salah satu masalah yang saya hadapi adalah saya ingin mencoba mencari template yang cukup tepat untuk buku yang ingin saya buat. Saya mencari buku tentang hijrah cinta, novel lebih tepatnya. Because to me, novel is a friend, while non-novel is (often) a teacher. And I'd prefer a friend than a teacher at the moment. Awal melihat, saya khawatir isinya hanyalah lompatan-lompatan bahasan tentang jangan pacaran, lalu bagaimana menjaga hati, dalil-dalil, teoretis lah kalau bahasa teman saya. Padahal, bukan guru pendikte yang sedang saya butuhkan. Soalnya di buku-buku lain di sana, rata-rata settingnya begitu, bosen :d. Tapi.. buku ini beda. This book tells me stories. *I love stories* Akhirnya setelah kubanding-bandingkan, sepertinya buku ini memang outstanding buat saya jadikan referensi dibandingkan buku yang lain, harganya pun terjangkau (<40 rb). Jadi deh dibeli.

       Tentang isinya, ceritanya tentang bagaimana seorang kakak menjaga adik nya yang sedang mengalami masa remaja. Lucu sebetulnya. Idenya keren. Gue suka banget sih. Apapun, walaupun isinya ada yang mungkin sebagian menganggap picisan, tapi buat aku yang punya (pengalaman) jadi mau ga mau tertarik haha. Ooh, ternyata gitu. Macem gitulah rasanya waktu baca.

       Kalau di buku yang kusuka sebelumnya, Puisi Hati, ada seorang tokoh yang begitu menarik kepribadiannya karena penggambaran fisiknya yang sederhana(tidak digambarkan cantiknya bagaimana, hanya tentang bermata teduh saja sebetulnya). Di buku ini, ada tokoh yang lebih dari sekadar menarik, tetapi sampai sukses membuatku merasakan rasa ketidakpantasan, apa ya, rendahnya diri ini dibandingkan tokoh tersebut. Beliau dalam menjaga diri dan hatinya sangat subhanallah. Berikut salah satu nasihat yang ia berikan kepada adik kecilnya,

"Diri ini ibaratnya lubang kunci dan jodoh kita ibarat kuncinya. Daripada sibuk mencari-cari kunci yang tepat, lebih baik fokus membersihkan karat dan cacat di dalam diri. Memperindah kepribadian."

       Bukan hanya frasa itu indah didengar, tetapi sangat terasa tinggi, mulia. Sedangkan diri ini? Untuk berbenah diri saja rasanya seringkali masih setengah-setengah. Kalau udah capek, lelah, balik lagi buang-buang waktu, lupa jaga pandangan, macem-macem. Sedangkan tokoh itu? Bayangin coba, anak kuliahan, sudah mencari makna frasa 'Cinta kepada Allah'. Gimana supaya cinta yang paling utama kepada Allah dulu baru sama sesama manusia. Kalo gue, udah sampe mana? Rasanya diri ini malu masih berani berbicara tentang buru-buru menikah. Padahal, mungkin mirip dengan apa yang umi bilang, menikah itu gerbang penderitaan *kalau ga siap kali yak*. Tapi ya gitulah, intinya mah dari buku itu, aku jadi mikir, aku udah nyiapin apa berani mikir nikah? Tiba-tiba jadi pengen ndekem di pondokan, membersihkan diri dari kotoran-kotoran diri :(. Mau ngomong ape ane ke calon bini kalo ane bilang ane punya aib? Ga jadi nikah? Emang ga pantes lah kalo gitu mah.
Eh, sori jadi ngomong sendiri.

       Yah, begitulah. Buku ini mengajarkanku tentang keberadaan sosok ideal yang sebaiknya kita contoh tentang bagaimana usahanya untuk tetap menjaga dan membersihkan diri ini dari dosa, bahkan dari celah untuk melakukan dosa sekalipun.

Awalnya waktu kuliatin ke temen, pada nolak gitu.
Waktu kukasih tau isinya, langsung pada minat wkwkwk

Simpulan : Top Markotop.

*lirik lagu* Diri ini penuh dosa, kuharapkan ampunan dari diri-Mu. Bersihkan diri dari debu dan noda. Padamu, kuserahkan jiwa, kuserahkan jiwaku.

P.S. : Sulit dibahasakan dengan kata-kata gimana rasa malu nya diri ini saat membaca semangat membina diri yang dimiliki oleh tokoh di dalam cerita. :"(
Share:

Wednesday, 23 November 2016

On Being Suicidal - 2

On Being Suicidal - Saat Sedang Ingin Bunuh Diri

In my opinion, suicide was like one of the most ultimate form of an illusory world, with other examples including living only the way someone wants to be - never thinking of what others actually feel and think about what they did in that world. Letting go of reality and ignoring it.

Maybe for those of you who's a sanguine, some of you might think that it's so irrational that someone would want to end his life with this life having so many happiness anyone can find if they want to. For the altruist you, you might feel pity to those who actually really did suicide successfully, if only you have met them before they died. Whilst for some of you who actually ever had this idea, maybe you're one melancholic person with memories of depression, you might really understand and I hope you might get opened up by this post.


Basically, there are four main points that I'd like to cover up in this post.

First things first, it's about the egoistical side of the doer. Maybe some of you might think, especially if you have someone close to you committed suicide, why're they so egoistic? Never thought of how we actually care and think so much about him/her. Nonetheless, he still did commit suicide (from a book that I read titled Me Before You). I think, yes yes they really sounds egoistic, but more than that, they actually needed help. While we might be thinking that way, but are we actually doing something that shows our care to him/her? Or we're just actually one part of his life who's making his life even worse? Who knows?

From a TED talk that I watched about one of the most famous popular place to commit suicide, the Golden Gate Bridge in San Fransisco, I learned something pretty important. The truth is, suicide can be stopped. The speaker, who's in charge of something like rescuer team, who talks to the guys who wants to end their life so bad, told this : "Anytime you see someone who started being suicidal, you've got to ask him/her straightforwardly. Other people who's gone through this(problem) usually have suicidal thoughts at this point. Do you have it, too?" If he/she answered yes, then I think it's pretty inhumane of us if  we didn't stop our life for a point just to help him/her out. You know, in my religion, saving a person's live means saving the lives of all mankind.

That's why, there's only one thing anyone who's talking to him/her needs to do.

Listen.

Do listen.

There was this one teenager who's about to jump off from the bridge. He talked with the TED speaker, and thankfully, in the end he decided not to jump. The speaker asked him
then :
"
What was it that made you come back and give hope and life another chance?"
He said, "You listened. You let me speak, and you just listened."


That's it, that's it!

Trust me. If listening was that strong that it can save one's lives, then I truly believe that listening can helps almost all the other aspect in our lives. It's such a pity that many people didn't learn to listen, they prefer learning how to speak rather than how to listen. I think that's a wrong way to do it. Listen first, then speak.

Lastly, did you know that suicide is contagious, able to be widespread just like disease?
I've ever read about it. In an online forum that seeks to support families, friends who's fighting something really hard that might make them depressed, sometimes to the point of having suicidal thoughts. There's this one idea, the idea of killing oneself to .. dunno, maybe to finish his/her own problems, that might stuck in someone else's head. Someone who had a relative/family that end his/her own life. This idea stuck and it was like becoming evil, seducing this person to finish his/her own problems by doing the same thing. As far as I could remember from that forum, this is real and happening. Suicide is contagious.

 

So, the conclusion is, if you ever see or listen in anyway, whoever it is, thinking about committing suicide, stop it with every way you have, with every access that you have to that person. In this cruel era where it's hard to find someone who listen, to find someone who has time for others, to find a real family, to find government and political people who do something out of their political interest, this is a super urgent call for you. Because you'll never really knows what might really happen then, you might never know when you saved this person's live, you're not only saved his/her, but the families and relatives who's supporting him/her too. Or even, you're saving yourself.

Thank you.

P.S. : Prayfor everyone who's struggling,
for me, for anyone, may peace be in our soul by His Rahmah, Aamiin.

Read : On Being Suicidal - 1
Share:

Tuesday, 8 November 2016

Tentang Kegelisahan Itu

Draft beberapa hari lalu,

       Tadi, aku berdiskusi dengan temanku terkait tema menarik laki-laki angkatan kami, lawan jenis. Menarik.

       Awalnya aku penasaran tentang dulu ketika suatu malam aku melihatnya mondar-mandir di depan masjid Salman sambil melihat-lihat ke sekeliling. Waktu itu udah cukup malam, jam 9 mungkin. Saat itu, aku masih di Salman karena ada kebutuhan ber-Wi-Fi ria menggunakan hotspot. Jadinya aku memutuskan untuk menginap saja di Salman hari itu. Setelah bersalaman dan menyapanya, kami berpisah dan aku duduk-duduk di tempat duduk tempah teh yang dekat ke tempat jalan menuju fotocopy Salman. Nah, waktu itu aku melihat ada seorang akhwat berpakaian gelap, hitam sepertinya, keluar dari tempat akhwat. Temanku ini menghampiri dia, awalnya aku berhusnudzon saja mungkin dia hanya mau ke tempat akhwat sedikit untuk mengambil air. Well, ternyata mereka tampak berkomunikasi sedikit. Kemudian, mereka berjalan berdua sambil berjarak menuju ke jalan menuju kantin, tampaknya pulang.

       Saat itu aku terpikir. Wah, ternyata. Ada apa ini gerangan? Well, sebagai seorang laki-laki yang peduli dengan keadaan teman(atau kepo ya? Haha), aku kepikiran. Jadi tadi waktu aku bertemu dengannya, kutanyakan padanya.
"Broh, kayaknya aku pernah liat kamu nganter temen perempuan ya waktu di Salman? Malem-malem. Siapa tuh?"

Jawabannya tak pernah kusangka,

"Kenapa Haw? Mau kenalan?"

*Duh* *Bukan gitu* *Waktu itu juga aku ngeliatnya gak dari depan, jadi ga keliatan dia orangnya kayak apa atau siapa*

       Ya sebetulnya aku hanya khawatir apakah mereka ada apa-apa. Itu tadi, sebagai seorang teman yang peduli, setidaknya jika aku belum bisa mengingatkan, aku tahu dahulu apa yang benar-benar terjadi. Kalau mereka ada apa-apa dan aku bisa memberitahukan kepada temanku yang mungkin lebih bisa memberikan pengertian tentang pentingnya menjaga hubungan dengan lawan jenis, ya kenapa tidak? Tau nggak? Kok jadinya tadi malah aku yang dikasih masukan banyak ya wkkwkwkw. Macem-macem, mulai dari harus berharap hanya sama Allah, terus harus cukup perhatian dari orang tua, sama harus hati-hati sama perasaan.  Ya memang setting-nya aku kayak sok lagi galau gitu sih. Gatau ya emang lagi galau atau engga. Mungkin?

Hmm.. Kegalauan. Kegelisahan itu.

       Gatau ya, kegelisahan itu apa ya? Apakah khawatir akan takut mengecewakan harapan lawan jenis? Tatapan yang kadang kudapat ketika aku beradu pandang dengan seorang perempuan. Kadang somehow aku melihat atau merasa bahwa ada pengharapan di sana. *Aku bingung*. Jadi kayak seolah pengen buat membalas perhatian itu gitu. Serius. Kalau nanti aku udah menikah, insyaAllah aku bakal mau gitu buat saling tatap gitu. Cuman duduk, melihat, dan diam. Although I don't really know whether I'll be brave enough to do that haha. Tapi kalau sekarang, itu terasa kayak mengkhianati diri sendiri yang seharusnya lebih cinta pada Allah dan patuh sama aturan-Nya. Lagian, selain aku khawatir dengan menjaga hati, aku juga khawatir dengan pikiranku sendiri(?).

Para kakak-kakak tingkat atas juga udah pada rame gitu ngebahas ini.
"Bro, udah bikin list(rencana calon istri) belum?"
atau,
"Kita ini udah harus punya pendapatan broh. Supaya gak kesulitan waktu walimahan."
 atau,
"Eh, itsar yaa nanti kalo misal ternyata yang kita incer sama broh. Hehee." (ada gitu yang mau itsar buat ini? wkwkwk)
"Wah, Kak, gimana sih caranya bisa jadi ikhwan paling suami-able" (weq, ada predikat ini ternyata wkwkwk)

       Macem-macem lah. Ada juga yang kepikiran tentang entah kenapa ada rasa bahwa udah harus nge-tag segera. Ini butuh pembahasan lebih lanjut sih. Karena entah kenapa memang dorongan untuk nge-tag itu seringkali bertimbal-balik dengan kondisi kita, misal kondisinya seolah menunjukkan bahwa lawan jenis yang kita tag entah kenapa(well, pakai entah kenapa karena ini tentang rasa. Dan rasa kan biasanya ga gampang didefiniskan) juga condong ke kita gitu. Kadang kegelisahan itu suka muncul dari rasa tersebut, plus dari mendengarkan obrolan para tetua tetua juga sih.

       Ya, kepada Allah aku sampaikan kegelisahanku ini. Disini aku hanya hendak bercerita sebuah sudut pandang kehidupan ikhwan aktipis salman weh. Aku pribadi sih berharap temen-temen ku yang ikhwan bisa lebih sabar dan instead of thinking about things like these too much, I think the problem the world today face needs a much bigger portion to be discussed. Dan untuk temen-temen akhwat, yang sabar juga. Aku ingat bahwa ada sebuah tulisan tentang bagaimana pergerakan peradaban sebenarnya sangat bergantung pada calon ibu beserta ibu-ibu di peradaban tersebut. Bukannya saya ingin bilang jangan menghambat seorang ikhwan dalam mencapai mimpinya, tapi doronglah laki-laki, utamakan dari saudara terlebih dahulu, untuk mengejar mimpi mereka. Tolong ngerti, bahwa kita punya masalah besar di Indonesia sekarang. Sure, dukungan dari kalian akan sangat membantu kami dalam menjalankan dakwah ini. But, keep in mind supaya jangan sampai kalian memberikan harapan atau meminta harapan dari kami. Itu bikin kami bingung :(

       Aku pribadi belum berniat untuk mengurus perkara ini dulu. Aku berharap ya bisa berteman, dan bersama-sama berdakwah dengan ikhlas lillahi ta'ala. Aamiin. Semoga nggak kebelok niatnya. Aamiin. Semoga ada masalah besar yang bisa kuselesaikan selama aku masih belum memasuki tahapan selanjutnya dari kehidupan ini. Aamiin.

Aku baru tau ada do'a seindah ini. Aamiin.
sumber gambar: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/
Share:

Tuesday, 10 May 2016

Berita hari hari ini

Bener2 bikin aku ngerasa sakit, muak sama dunia ini.
Bikin banyak mikir.
Capek mikirinnya.
Sakit di hati ketika dengernya.

Mungkin ada yang mau berbagi pandangan?
1) HMI mudah terprovokasi
2) Pelecehan seksual pada anak kecil
Aku nggak ngerti lagi ...
Share:

Friday, 29 April 2016

Cinta 3 Benua : Ketakutan yang kutaktahu kenapa

Bahan covernya bagus (?)
Malam kawans,
Kali ini, biarkan ku bercerita padamu tentang sebuah novel yang baru saya baca 1/5 bagian nya saja, bapernya sudah setengah hidup, rasanya kayak kadang melayang-layang, terus bingung, wah ada suatu emosi nakal yang mengusik masuk dalam benak saya. Yang sayangnya, sampai sekarang saya masih belum benar-benar tahu itu emosi apa. Saya kira, itu ketakutan.  ... Ya, ketakutan,

Judul buku ini adalah Cinta 3 Benua karya Faris BQ dan Astrid Tito. Di samping itu gambarnya.

Dari awal membaca buku ini, ya tipikal buku bagus lah ya, aku sudah bisa membayangkan dengan cukup detail setiap setting dari suatu peristiwa, setiap kata-kata terkait rindu, cinta, dan kawan2nya tidak terlalu rumit untuk dicerna, dan bahasa yang digunakan, ketika sang laki-laki bercerita sangat kelakilakian pola pikirnya, dan sebaliknya ketika sang perempuan bercerita, sangat keperempuan ceritanya.


Si tokoh adalah seorang lelaki dengan masa lalu kelu. Lelaki gagal move on, bahasa gaoel nya. Sang laki-laki adalah seorang yang digambarkan seorang yang baik, taat beragama. Seperti biasa, di negeri orang, bertemu dengan sekian banyak wanita, perhatiannya terjatuh pada salah satunya. Sang perempuan adalah seorang perempuan yang taat beragama juga, hijabnya tertutup dengan baik, warna pakaiannya tidaklah menarik perhatian, tutur katanya sopan, pemalu juga. Semua bermula dari suatu kejadian kecil yang menunjukkan keberanian sang perempuan untuk mengambil inisiatif untuk lebih saling mengenal satu sama lain(kalo mau tau gimana, baca :)). Semua berlanjut hingga ke email, surat, dan telefon, bahkan saat tengah malam ataupun setelah Shubuh.

Penggambaran sang wanita yang begitu anggun dan cerdas mempesona seolah membuatku turut dimabukkan dan seolah memiliki rasa yang sama dengan sang tokoh utama. Kesenduan yang disiratkannya sangat kentara. Tak sedikit waktu sang tokoh utama ter'buang' untuk bernostalgia tentang sebuah kenangan lama. ..  Di sana.

Di sana aku tampaknya mulai merasakan rasa takut itu.

Aku takut jatuh cinta. Aku takut jatuh dinda terlalu dalam.

Aku khawatir melihat perkembangan sang tokoh utama, yang awalnya begitu menghormati dan menghargai kekuatan agama seseorang, tetapi ternyata ketika bertemu dengan seseorang yang memiliki paras wajah yang sama dengan cerita lamanya, ia langsung tercekat dan seolah-olah dunia berputar kembali. Begitu banyak kenangan melintas mengenai sang cerita lama. Betapa ternyata, fisik masih merupakan perekat memori yang kuat di dalam kepalanya. Entahlah, aku baru baca sampe segitu.

Kupikir, aku takut. Aku takut kalau aku jatuh cinta kepada seseorang yang tak pasti akan jadi siapaku nantinya, aku akan tersiksa. Siksaan batin yang begitu mendalam ketika harus berpisah dengannya. Siksaan-siksaan yang tertera dalam cerita di buku ini dengan apiknya. Aku takut bahwa aku yang cinta ku kepada Allah saja masih belum baik benar, kemudian aku dilimbungkan dengan sebuah cinta horizontal kepada sesama manusia akan membuatku terbuai dan lebih memikirkan cintaku kepadanya daripada cinta kepada Sang Maha Kuasa. Aku takut semua hanya bermula dari fisik, dari rasa suka, menjadi pemabuk yang mampu merusak banyak rencana. Sebenarnya, haruskah seorang yang dilanda cinta melewati tahapan seperti itu ya? Ku tak tahu. Kuharap kisah cinta tak harus serumit dan sekompleks itu ya.

Ku berharap, hanya kepada Allah lah aku akan berharap..
Share:

Monday, 18 April 2016

Kurasa

Ku t'lah jatuh dinda.

"Aku mau ngisi kertas yang coklat aja dong, soalnya somehow sekarang aku lagi suka sama sesuatu yang berwarna coklat," kataku.

Kau tahu, di zaman ini, bahkan hanya untuk menyukai saja, sudah ada begitu banyak pergolakan dalam diri.

Sudah ada pro dan kontra, sudah ada harapan dan kekhawatiran dan kecemasan.

Sudah ada kegelisahan, apakah boleh aku memiliki perasaan ini ya?

Padahal, pada dasarnya ia adalah sebuah rasa yang indah, rasa pemberi warna bagi kehidupan orang yang merasakannya.

Bila pada makanan, mungkin ia seperti berambang, bumbu racikan, atau bahkan micin.

Sesuatu yang sebaiknya tepat pada takarannya, bila tidak ada akan tidak terasa berkesan makanannya, bila ada maka baiknya tidak perlu lah banyak-banyak.

Jadi, kubiarkan saja rasa mendindakan seseorang ini tumbuh.

Akan kurawat dan kujaga, sebagai suatu bentuk penghargaan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Akan rezekinya ini.

Karena, ada banyak orang di luar sana yang mungkin tidak bisa merasakannya.

Karena mungkin hati mereka telah mati, masa lalu mereka adalah masa-masa traumatik, dan mereka menolak untuk memberikan hati mereka lagi.

Kan kurawat rasa ini, tanpa perlu ada balasan dari sang dinda.

Biarkan ku mendindakannya saja, untuk diriku sendiri.

Dan Allah sebagai saksi.
Share:

Sunday, 3 April 2016

Orang Tua Datang Wisuda

       Kemarin, 2 April 2016, adalah hari 'agak' besar bagi ITB. Wisuda April. Momen kelulusan secara resmi, momen pertemuan (yang mungkin) terakhir, momen apresiasi oleh massa himpunan, dan banyak yang lain, bagi wisudawan. Dulu, aku pernah ditawarin oleh temanku untuk ikut membantu menjadi panitia, ya lewat oprec(open recruitmen) 'rekrutmen terbuka' biasa. Dulu karena khawatir akan jadi tidak amanah, jadinya aku menolak. Tapi pada akhirnya, somehow aku join an dan pada hari H menjadi Liasion Organizer/Officer atau lebih biasa dikenal dengan LO. Tugas seorang LO adalah bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan tamu, atau untuk acara wisuda ini, sang tamu adalah wisudawan/wati dan keluarga. Di bawah ini aku akan menceritakan tentang pengalaman paling berkesan kemarin. Menyentuh.

Kenapa mau jadi LO?
       Sebenarnya aku tertarik untuk ngelihat orang tua-orang tua yang datang jauh-jauh buat ngelihat anaknya kelulusan sih. Aku ingin membandingkan situasi kemarin dan dulu. Aku masih ingat dulu wisuda saat aku masih TPB, aku datang ke tempat resmi acara wisudaan nya, di Sasana Budaya Ganesha(Sabuga). Di sana aku hunting foto-foto menarik. Tau apa yang ku dapat? Foto seorang ibu yang sedang di luar Sabuga menunggui sambil melihat ke arah Sabuga dengan penasaran, dan tampak sangat penuh harap, seolah sudah tak sabar menanti tantangan dan kesuksesan yang akan segera dihadapi anaknya pascakuliah. Ga cuman ibu-ibu, bapak-bapak juga ga sedikit yang berekspresi gitu. Aku somehow tergerak. Jadi gini, ekspresi orang tua bila melihat anaknya resmi hendak diluluskan. Tampaknya ada banyak emosi yang tersirat, tapi yang paling tampak bisa dilambangkan dengan satu kata, "harapan". Sayang fotonya ilang, hapenya sih. -_-

       Kemarin adalah hari yang cukup, hmm menyenangkan ya nggak juga, boring ya nggak juga, lumayan menarik lah. Kemarin adalah hari pertama ku mengenakan jaket himpunan HME ku. WOW. Ternyata ada fungsi aslinya! Kukira buat gaya-gaya an aja #eh. Makanya dulu-dulu ga suka dipake. Pagi-pagi nungguin orang tua dan wisudawan/wati keluar semua. Ketika orang tua sudah keluar, kami LO mengantar orang tua ke Basecamp untuk ditawarkan apakah ingin mengikuti acara dari HME bagi orangtua. Karena, anak-anak nya akan arak-arakan, dilempar2i cairan cat atau sabun lah, ada yang dipukuli pake koran pula katanya. Well, beda himpunan beda tradisi. Selesainya mungkin sekitar Ashar sampai Maghrib. Padahal acara formal dari ITB selesai sampai Dzuhur saja. Makanya, daripada orang tua bingung hendak ke mana, ditawarkan untuk ikut acara siang dari himpunan, tempat orang tua bisa ngaso dulu sambil nungguin anaknya arak-arakan.

Yeaayy, itu abu-abu jahim! Akhirnya kupake coba, ckck
       Sekarang, masuk ke kejadian paling berkesan kemarin. Jadi, kemarin seperti biasa, aku dan teman-teman sedang menunggu orang tua satu per satu keluar dari ruangan Sabuga, sambil mengecek apakah yang itu atau yang sana orang tua wisudawan/wati HME atau bukan dari bros yang dikenakannya. Menjelang siang, ada yang berbeda, tiba-tiba ada satpam yang keluar dari gerbang dalam sabuga itu, dan meminta untuk dibukakan jalan pada orang-orang yang terlalu mengerumuni pintu gerbang. Aku penasaran. Kenapa? Apa ada pejabat mau lewat? Atau kami aja yang memang udah terlalu menutupi gerbang? Ternyata.. enggak. Di sana, di gerbang tempat keluar orang tua, ada seorang orang tua wisudawan yang sudah sangat berumur dan sudah beruban(read: tua). Beliau berjalan sangat perlahan, kepala beliau miring ke kanan dan tampaknya memang tidak bisa digerakkan. Setahuku itu pertanda stroke, atau malah memang mungkin beliau terkena stroke sebagian. Masih bisa berjalan sedikit. Tapi berjalannya pun dituntun, di sisi kiri beliau ada istri beliau memegangi tangan kirinya, dan di sisi kanan ada anak(atau mungkin cucu) dari sang kakek, memegangi tangan kanannya, menuntun jalan beliau, langkah demi langkah. Jalan beliau sangat lambat, dan kondisi beliau memang bukan seperti orang tua pada umumnya yang masih bugar, makanya satpam meminta untuk dibukakan jalan. Jujur, aku trenyuh. Ketika melihat sang kakek, aku teringat alasanku menjadi LO, dan aku benar-benar melihat hal itu terjadi. Semangat orang tua untuk sekadar melihat anaknya sukses, walaupun masih di tahap lulus kuliah. Gimana tingginya harapan sang kakek bagi anaknya. Hatiku bener-bener tersentuh. Beliau (mungkin) dari daerah yang jauh, pada umur yang sudah sangat tua, dengan kondisi fisik terkena stroke sebagian, rela datang ke wisudaan anaknya. Aku bayangkan mungkin sang kakek sudah memiliki mimpi dulu, "Anakku harus jadi lulusan di kampus ternama. Dan saat dia lulus, aku harus hadir di acara kelulusannya!" Atau mungkin semacamnya. Betapa berartinya sang wisudawan, kelulusannya, bagi sang kakek. Sangat melambangkan yang aku ingin dapatkan dari pekerjaan LO ku hari itu. Melihat seberapa tinggi "harapan" orang tua terhadap anaknya. Saat melihat beliau, 2 detik kemudian aku langsung membalikkan badan. Nggak sanggup. Aku takut aku nangis di tempat. Well, jujur akhir-akhir ini aku memang lagi agak mudah tersentuh. Mataku berkaca-kaca, dan mungkin udah agak merah. Aku langsung agak mundur dari temen-temen sehimpunan. Ga mau keliatan kalo nangis.

       Hari itu, 2 April 2016. Aku mendapatkan jawaban dari alasanku mengikuti wisudaan. Dan kini aku semakin percaya bahwa memang tidak banyak yang orang tua minta dari anaknya. Cukup agar ada yang bisa dibanggakan ke tetangga sebelah-sebelah saat ketemu, saat arisan. Cukup dengan membicarakan, "Anakku masuk kampus ini lhoo, anakku sekarang sudah kerja, sekarang sudah bisa ini, bisa itu." Betapa orang tua hanya meminta agar kita sebagai anak bisa memberikan mereka harapan. Itu aja, udah cukup.
Terima kasih, kakek kemarin :"

Share:

Tuesday, 9 February 2016

Teh. Neng. Bersediakah kamu untuk duduk di sebelahku?



       Peluit kereta telah ditiup. Suaranya saling bersahut-sahutan, awalnya terdengar begitu dekat, lama-lama menjadi begitu jauh. Hingga akhirnya dibalas oleh suara "dooong" besar tanda keberangkatan kereta. Aku berada di gerbong terdepan kereta perjalanan menuju kampung halamanku, Surabaya. Tadi, kami baru saja berhenti di stasiun Solo Balapan. Untuk kesekian kalinya penumpang naik ke atas kereta, masih saja tidak ada penumpang yang bersedia untuk duduk bersamaku. Dari awal keberangkatanku di Bandung yang diwarnai dengan sedikit kegelisahan dan kepanikan akan keterlambatan, hingga sekarang, aku masih saja merasakan sedikit kekosongan itu. Sebuah rasa bahwa aku seolah begitu egois karena orang lain semua duduk berdua, sedangkan aku dengan enaknya menempati dua kursi sekaligus. Apakah itu, atau ini adalah rasa yang lain? Aku menebak-nebak.
       Kekosongan di kursi sebelah ini cukup mengintimidasiku. Aku sedari kemarin mencoba untuk tidur hanya di satu bagian dari kursi, berharap akan ada orang lain yang mengisi kursi ini, bersamaku. Entah kenapa, aku berharap ia adalah seorang perempuan. Memang, sudah lama semenjak aku terakhir kebetulan harus duduk bersebelahan dengan perempuan. Dulu ketika keberangkatan pertamaku merantau dan meninggalkan Surabaya, menuju Jakarta, aku duduk bersama dengan seorang perempuan dengan sepatu yang membungkus menutupi hingga 10 cm di atas mata kaki dan berumbai-rumbai. Dan semenjak itu, aku tak pernah lagi duduk bersebelahan dengan seorang perempuan.
       Mungkin, aku berharap seperti itu karena aku ingin ada sesuatu yang bisa kuobservasi, sesuatu yang hidup dan bergerak, dan tentunya, duduk di sebelahku. Aku tak tahu apakah kekosongan ini sedikit merepresentasikan kekosongan figur di dalam diriku, atau, aku tak tahu. Mungkin, aku berharap ada seseorang yang cukup baik untuk mau duduk di sampingku, dan kami bisa bercerita, saling bertanya kabar, saling menguatkan, dan saling berbagi perhatian. Di saat dunia di sekitar kami berjalan begitu cepat, di saat rumah-perumahan hanya tinggal tampak seperti titik-titik cahaya yang berlarian, di saat kecepatan dan keakuratan dalam melakukan suatu kegiatan menerima pemujaan dan penghargaan. Seolah tidak memberikan ruang bagi suatu sifat dasar manusia, berbuat kesalahan.


        Teh. Neng. Iya, kamu yang duduk di depan. Yang sedang berusaha keras menemukan sandaran yang tepat agar bisa beristirahat. Apakah kamu bersedia duduk di sebelahku? Aku baru saja berbuat kesalahan, dan aku berharap ada yang bersedia mendengarkan. Maukah kamu duduk di sebelahku? Dan kita bisa saling bercerita tentang bagaimana hari kita telah berlalu, bagaimana kita telah berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap usaha-usaha yang kita lakukan. Dan kita bisa saling mencoba memahami, kenapa kita melakukan kesalahan-kesalahan yang kemarin kita perbuat, atau kemarin lusa, atau kemarinnya lagi, kapanpun. Apapun, agar kita bisa lebih merasa menjadi manusia, dan pada saat yang sama, memanusiakan orang lain, dengan mencoba memahami bahwa manusia juga berbuat kesalahan dan berat baginya untuk memendam serta mencoba memahami semuanya sendirian.
       Hanya itu yang bisa kutawarkan.

Sekian.
-----------------------------------------------------
Sebuah bacaan untuk aku di kemudian hari. Bukan sekarang.
Daan duduk di sebelah itu maksudnya bukan mau khalwaat yaa.. Kan dosa tuh berduaan sama perempuan yang bukan muhrim. Tapi gimana ya, ya mungkin ini harap terpendam ku bagi sang  pendampingku nantinya.
Share: