Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Showing posts with label Kutipan. Show all posts
Showing posts with label Kutipan. Show all posts

Sunday, 23 April 2017

Kemudahan Mencintai

Rabu, 19 April 2017.

Sore tadi, aku tengah duduk-duduk dengan santai di salah satu kantin yang kurasa cukup murah, nyaman, dan enak. Saat itu, aku sedang berada di tengah kebingungan akan sulitnya permasalahan-permasalahan yang menerpa. Biasalah, akhir semester. Mendadak, bener-bener ga tau datengnya pikiran ini dari mana, aku teringat bahwa hari Selasa kemarin ada kajian rutin yang terpaksa ga kuikutin, bagus padahal. Karena penasaran akan apa yang kulewatkan, aku langsung kucari-cari postingan kajian itu yang di-share oleh temanku di salah satu grup.
*klik*
*eh, touchscreen ga bunyi klik yak*

Waktu ngeliat caption paling awalnya. Hmmm. Sangat provokatif, menarik.

"Mencintai itu mudah, yang sulit itu saling."

Habis itu di bawahnya bahas tentang bagaimana mendapatkan cinta dari Allah, dan banyak yang lainnya. Tapi, aku sendiri di sini akan lebih concern sama kata-kata yang pertama itu sih. Maklum lah ya, balik ke kebiasaan lama, komentarin love quotes. Aku cuman pengen membahas yang 3 kata paling awal sih karena aku gak sepenuhnya setuju gitu. Kalo terkait 4 kata terakhir.. yaa namanya saling mencintai itu memang sulit.

Yuk, analisis.

"Mencintai itu mudah."

Yang terlintas di kepalaku ketika pertama mendengar kata-kata ini, is like.. 

"Whattt?? Dapet dalil dari mana dia? Sotoy beud."

Saya teramat sangat tidak setuju jika dibilangin bahwa mencintai itu mudah. Yes, I know, yang membuat hati terbolak-balik adalah Sang Maha Membolak-balikkan Hati. Tetapi, by nature, gimana ceritanya mencintai seseorang itu bisa mudah? Aku khawatir si dia belum ngerasain cinta kali ya sehingga menyebutkan bahwa mencintai itu mudah *kayak gue udah wkwkwk*. Tapi, as far as I've known and experienced, mencintai itu luar biasa sulitnya. Sekadar mengutip dari presentasi Mrs. Brene Brown di Ted Talks,

To love with our whole heart, even though there's no guarantee - and that's really hard. I can tell you as a parent, that's excruciatingly difficult.

Love as a Parent :"
Memang, ini balik ke definisi cinta masing-masing. Tapi gue mah ikut madzhab 'aliran pedoman' nya Bu Brene aja, soalnya cocok. Kalau kita bicara tentang cinta, menurutku ini adalah bentuk tertinggi dalam sebuah hubungan antara dua buah insan. Setinggi itu, lho, sampe aku gak suka kalo ada orang yang menyepelekan kata-kata cinta. Aku setuju sama yang bilang bahwa love is not said, it's done. Meski kadang butuh untuk diucapkan, tapi jauh lebih penting lagi adalah melakukan. Apa yang kumaksud dengan melakukan 'cinta'?

- Mendo'akan. Wish them, her, him, well. Apapun kondisinya, apapun yang dia lakukan ke kita, sesakit apapun hati kita. Do'akan kebaikanya untuknya.
- Memberikan. Bahkan, jika tidak diberi apapun termasuk terimakasih.
- Mengorbankan. Karena cinta tanpa pengorbanan malah seperti cincin pernikahan tanpa rumah tangga. Simbolik tanpa perjuangan.
- Diam. Tidak selamanya kita perlu berbicara dengan cinta kita. Kadang, diam dan menikmati momen kediaman bersama adalah salah satu kenikmatan dalam mengekspresikan cinta. Rasa nyaman yang ada saat kita bersama dengannya(-Nya).

Sebagai penutup, aku harus memberi tahu kepada kalian, bahwa apa-apa yang ada di atas sangatlah berlawanan dengan what's going on in this digital era. Di zaman ini, semua orang sibuk dengan : 1) mendoakan kesuksesan dirinya sendiri, 2) sibuk bertanya lo gue kasih ini, gue dapet apa? 3) mengira bahwa cinta itu harus dibalas, bukan tanpa pamrih, 4) kalo gue cinta sama lo berarti harusnya obrolan kita nyambung terus dong?

Dengan tegas kusampaikan. Gak. Big No. Gak harus kayak gitu. 

.o-o/  Cheers untuk para pecinta yang mencintai dengan sederhana tetapi memaknainya.

Share:

Wednesday, 12 April 2017

Saat Kita Tidak Sabar

Kadang, rasa mendindakan dalam diriku suka memuncak. Apa hasilnya?

Writings.
Prayers, silent prayers. 

Sebagai seseorang yang menulis untuk menyimpan rasa, cinta ataupun dinda adalah salah satu rasa yang paling sulit untuk bisa kutahan. Tangan langsung tergerak untuk memegang bulpen, atau menyalakan laptop.

Pernah, suatu ketika aku baru saja bertemu dengan salah seseorang yang kudindakan. Ya emang adanya waktu itu lagi ga jaga pandangan si yak -..-". Jadi kepikiran. Terus aku buat tulisan tentang dinda. Which is, of course, is dangerous. 

Aku pernah membayangkan setelah membuat tipe-tipe postingan seperti itu, aku berada dalam posisi menjadi seseorang yang mendindakan diriku sendiri. Jadi, semacam memposisikan diri sebagai seseorang yang mendindai seseorang. Lalu, seseorang ini tiba-tiba ngeluarin postingan baper. Well, ada dua opsi. Antara hatiku akan hancur karena sadar bahwa itu udah pasti bukan aku, atau yang lebih bahaya lagi, aku jadi deg-degan ga jelas karena jangan-jangan itu aku. Which, to me, both of them are just as dangerous. Dua-duanya membuatku berada pada mental state ga stabil dan jadi kepikiran.

Aku sih jelas ga seneng ya berada pada posisi itu. Ikut kebawa-bawa baper ga jelas. Padahal, tujuan hidup itu udah jelas gitu. Kenapa, cuman karena satu orang yang masih gak jelas di masa depannya akan jadi siapaku, aku harus mengorbankan fokus dan perasaanku untuk dia?

Jujur aku sih masih holding the believes bahwa cinta terbaik dikirimkan oleh seseorang lewat do'a. Cinta kepada orangtua, kepada teman-teman yang tampaknya kesulitan menjalani perkuliahan, cinta kepada teman-teman terdekat, it all took the best form in silence, doing something for their well-being without them knowing.

 Ah, tulisan ini sekadar pengingat. Karena pernah ada temenku juga yang baper dan dia bikin tulisan tentang rasa sukanya sama seseorang. Dia nanya ke aku pandanganku gimana. Jawabanku jelas, jangan menebar fitnah. Capek jadi orang yang ngebaca itu.

Balik lagi, fashabrun jamiil. Sesungguhnya kesabaran itu indah, ya?

P.S. : Belajar mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain, juga belajar mencintai yang Maha Mencintai.
Share:

Wednesday, 1 February 2017

Ayat Ayat Cinta 2 : Meneladani Ketidaksempurnaan Fahri

       Semester ini adalah semester yang menurutku cukup berat. Dengan asumsi aku akan sering merasakan penat dan stress, akhirnya aku mempersiapkan banyak alternatif untuk melepas kepenatan. Salah satunya, novel. Saat libur saja, aku sudah menghabiskan sebuah novel yang keren banget. If we can make it as an analogy into something else, it definitely turn itself into something else. Maksud saya, novel yang saya baca waktu itu, Eragon - Inheritance, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda isinya akan jadi sangat berbeda dan menjadi jauh lebih banyak hikmahnya. Ah, biarlah itu menjadi bahasan di lain waktu. Novel lain yang saya siapkan adalah Musashi dengan tebal sangat tebal *dulu udah pernah baca sih, kisah cinta nya itu cukup sweety-sweety menyayat hati(?)*. Daan, finally, novel terakhir yang kupinjam sebagai bekal mengarungi semester ini adalah Ayat-Ayat Cinta 2 karangan Kang Abik. Ini yang akan saya bahas.

       Well, kalau kalian ingin baca resensi dan review buku ini, wah pasti udah banyak beut, bejibun! Disini, aku tertarik untuk menggunakan metode lain untuk mengomentari buku ini. Aku ingin mengomentari komentar-komentar yang orang buat terkait buku ini. Ada yang dari goodreads, sama ada yang dari blog orang. Macem-macem yah, komentar orang. Berikut dua komentar yang akan ku highlight beserta komentarku :


 Poin pertama :  "Fahri terasa terlalu sempurna."

       Opini yang menarik. Tapi, tahu apa yang lebih menarik? Dari komentar pada blog tadi, kata Kang Abik, orang-orang seperti Fahri itu banyak di Al-Azhar. Cuman di Indonesia aja ga keliatan *hayoo, jadi pengen ke Al-Azhar ga? Hehe*. Mungkin memang beda ya, kualitas antara pelajar Muslim di Indonesia dengan pelajar Muslim di salah satu kampus keislaman tertua di Mesir.

       Secara pribadi, jujur sebenarnya saya bisa melihat kekurangan-kekurangan Fahri. Sebetulnya, kalau kita pakai sudut pandang kita yang seperti ini, jelas saja kalau kita merasa rendah. Eh, maksudnya Fahrinya yang jadi terlalu tinggi. Tetapi, kalau kita coba memposisikan diri sebagai Fahri, menurut saya dia lemah. Saat ia khawatir bahwa niatnya dalam mencintai seseorang itu bukan karena Allah, dia lemah. Saat dia ragu dalam melakukan kebaikan, dia lemah. Dan momen-momen kelemahan lain.

source gambar : https://www.goodreads.com/book/show/28099346-ayat-ayat-cinta-2

       Meminjam kata-kata teman saya, kayaknya memang beda kelasnya ya. Apa yang kita sebut sebagai sempurna bisa jadi bertolak belakang dengan Fahri. Coba deh, bandingkan masa-masa futur nya Fahri dengan futur nya kita. Kalau Fahri mah, futur-nya itu terlalu banyak mengurus hal-hal dunia sampai lelah lalu malas untuk qiyamul layl. Takut tidak bisa menjaga hati karena cinta berlebih kepada sesama juga sudah merupakan dosa bagi dia yang perlu dia dzikirkan. Beda sama kita, ya ga? Wkwkwk. Jadi, beliau bukan orang yang sempurna, dalam sudut pandang diri beliau sendiri. Tampaknya disini saya yang tersadarkan bahwa mungkin kita membandingkan standar kita dengan standar hamba Allah yang setia ya, pantes jauh huehue

       Tambahan lagi, keberadaan teladan praktis dari Fahri tentang bagaimana bermuamalah, beribadah kepada Allah, dll ini sangatlah menyenangkan bagi saya. Hal ini membuat saya menyadari dimana posisi saya, dan apa yang musti saya kembangkan agar bisa menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah di masa depan. Saya jadi sadar bahwa pengorbanannya tidak ringan, tetapi saya jadi punya gambaran bahwa insyaAllah jalan di sana nanti saya akan tetap bisa menemukan ketenangan. Bahkan, Fahri yang jarang terlihat letih juga menurut saya bukanlah hal yang aneh. Jika menilik kebiasaan Rasul dan para Sahabat untuk shalat malam hingga kakinya bengkak-bengkak, sepertinya memang ini bukan hal yang di luar kehendak Allah. Maksud saya, begitu seseorang sudah Allah cintai, maka bukan hal aneh ketika ia bisa melakukan hal-hal luar biasa. Apalagi bagi seorang hafidz yang setiap hari mengulang minimal 5 juz hafalannya. MasyaAllah.

Semoga kita bisa semakin mendekati derajat beliau, aamiin. Beliau tidaklah sempurna, tidak ada yang sempurna selain Allah semata. Percayalah.


Poin kedua : "Buku Kang Abik tebal, kurang efisien, bertele-tele"


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhku08zC2mYEN_Ci8IUpAowK2SlFhXQ7LpGthUEpcOL3L4Va07vXVWYAjtAiJX1mNW27Yf6RGjexQR8ruaxqHukDFz-5N3Awt7JxrZheU-62u4oq7s9iJcwr55lKbrljk_bzkdotvBEWu0/s1600/032.JPG
       Hmm.. Kalau yang ini macem-macem. Ada yang berkomentar plot nya kurang konflik. Ada yang tentang kisah cinta terasa sangat lambat. Ada juga yang membanding-bandingkan dengan AAC 1. 

       Gimana ya, saya sendiri sudah pernah membaca AAC 1. Duluu, lama sekali. Jadi, sebetulnya saya sudah cukup lupa apa saja isinya. Saya merasa menjadi pembaca yang membuka halaman pertama buku ini dengan little to none expectation. Dari awal, kisah di dalam buku ini begitu memikat, membuat saya ingin berhenti membacanya karena jadi lupa hal-hal lain*entah saya yang lagi butuh pelepas stress atau gimana ya*. Saya sempat kurang suka bagian mendayu-dayu, kerinduan mendalam Fahri pada Aisha. Rasanya kartu pelanggaran dalam hati saya terangkat otomatis *buat yang ga ngerti, maksudnya romance di dalam buku ini berbahaya buat single single seperti saya*. Tapi, makin saya ikuti alur ceritanya, saya makin sadar bahwa ini bukan sekadar kisah roman sederhana. Begitu apiknya, Kang Abik membuat alur cerita yang manusiawi dari sudut pandang seorang laki-laki. Bahwa bagi kami, tantangan-tantangan dalam hidup ini juga salah satu hal yang membuat hidup kami lebih hidup. Tantangan untuk membuktikan sesuatu, bukti pada Allah bahwa kami berkorban untuk-Nya. Bukan tentang prestige diri.

       Daripada melihat buku ini sebagai kelanjutan AAC 1, saya lebih senang melihat buku ini sebagai sebuah kritik sosial sekaligus media dakwah kepada pembaca. Buku ini banyak memberikan situasi-situasi yang sering kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia. Lewat kondisi-kondisi yang mirip ini, lalu beliau mencoba menyampaikan pesan-pesan tersembunyi tentang bagaimana sebaiknya kita menghadapi situasi tersebut. Sebutlah tentang pesan jangan mengemis. Wah, ga kelar-kelar kalo bahas kasus pengemis di Indonesia mah. Sayang ya Kang Abik ga bahas tentang preman yang berada di balik mayoritas pengemis di Indonesia. Berhubungan dengan tetangga. Menyikapi perbedaan. Toleransi. Membela maqasidus syari'ah seperti agama dan kehormatan. Memahami konsep dasar aqidah agar tidak tersesat pada atheisme ataupun pluralisme. dll. Mudah-mudahan saya bisa mengambil hikmahnya, pembaca juga.

       Kesimpulannya, rasanya begitu banyak ilmu yang ada di dalam novel ini sehingga membuat saya merasa tak ape lah kalau plot ataupun kisah cinta nya lamban. Bagi saya, buku ini merupakan novel komplit. Kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan itu justru membuat kisah Fahri dalam buku ini menjadi suguhan lezat. Kalau ditanya apakah buku ini harus dibaca atau tidak, gak usah ditanya lagi huehue. Kalau sudah mulai baca, jangan lupa awali dengan do'a kepahaman akan ilmu karena isinya bisa jadi cukup tinggi dan kita malah jadi melewatkan hikmahnya. Tentu tidak mau kan?
Share:

Wednesday, 25 January 2017

Hijrahku, Maharku

       There is this phrase that somehow I stumbled upon recently. It felt intriguing to me, so I think I'd like to share it with you here. Frasa ini entah kutemukan pada buku nikah kelas tinggi tentang kepantasan diri saat membaca buku-buku bukaan yang ada di Gramedia beberapa hari lalu, entah di blog saat blogwalking. Ceritanya begini:

Seorang lelaki melamar seorang perempuan baik-baik(bahasa lainnya : sholehah) dengan berkata,

"Kurasa, maharku untukmu, adalah semua usaha perubahan kebaikan yang telah kulakukan untuk memantaskan diri ini untukmu. Apakah itu cukup?"

Dan sang perempuan menjawab,

----

Yak! Jawaban sang perempuan tidak menjadi bahasan sama sekali ya, mohon maaf jika telah membuat Anda kecewa. Yang kubahas adalah pernyataan sang lelaki ini.

       Tersebutlah seorang ikhwan, lelaki, yang dahulu bukanlah orang baik-baik. Lalu, ia masuk ke dalam sebuah organisasi, gerakan berbasis Islam. Disana, ia berkenalan dengan banyak sekali 'kasta' orang. Mulai dari teman seangkatan, adik angkatan yang cenderung lebih culun 'lucu', pendahulu dakwah yang sudah kelihatan subhanallah nya. Ia melihat bahwa ternyata di zaman sekarang ini, jumlah lelaki baik itu tidaklah banyak. Ia mendengar beberapa komplain melalui murobbi nya bahwa akhwat zaman sekarang banyak yang terpaksa menurunkan standar karena memang di lingkungan tempat ia berada tidak ada suplai lelaki baik-baik. Kalau mau yang rajin ke masjid, yang ngerokok baru ada. Mau yang biasa jenguk tetangga, sopan, dan santun, eh udah ga pernah ke masjid. Susah kan.

       Pada suatu titik dalam hidupnya, dibarengi dengan kesadaran akan kelangkaan lelaki baik-baik itu, ia juga sadar bahwa ia sangat jauh dari kata 'baik' itu. Setidaknya, ia sadar bahwa di hadapan Tuhannya, dia terlalu banyak menyimpan dosa. Kebohongan-kebohongan itu yang ia gunakan untuk menutupi aib dalam dirinya rasanya sudah menggerogoti hati nuraninya terlalu dalam. Ia tak sanggup membohongi kenyataan. Bagaimana nanti di masa depan? Ia terpekur. Rasanya jika ingin selamat dalam mengarungi dunia pekerjaan yang lebih berat, ia takkan sanggup jika juga harus membina pendamping hidupnya. Padahal, justru ia yang perlu dibina. Ia tak ingin dituntut oleh anak istrinya yang (naudzubillah) masuk neraka karena kekurangmampuan dirinya dalam membina mereka. Saat itulah ia sadar bahwa ia butuh pendamping yang baik.

       Dalam masa pemikirannya itu, ia ingat akan salah satu ceramah yang ia dengar terkait konsep pernikahan dalam Islam. Konsep 'se-kufu',  atau biasa diartikan se-level/se-tingkat. Hindari menikah sama orang yang belum setingkat sama kita secara agama, pemikiran, dll. Kalau ingin mendapatkan pasangan yang seperti itu, ya kita maksimalkan mendekati level seperti itu *kalau merasa kurang ganteng atau cantik, ya mbok diusahakan ke sana, terus banyak do'a sama Allah semoga diberikan kegantengan ataupun kecantikan itu, seenggaknya kalau gak fisik ya hati kita*. Salah satunya karena asbab 'sebab' ini, dia memutuskan untuk berubah, untuk memperbaiki diri, mengurangi kebiasaan buruk, dan meningkatkan kebiasaan baik. Be it his gaming habit, inappropriate internet consumption, etc. Ia coba tinggalkan itu semua, demi memantaskan diri. Di saat ia sudah merasa cukup baik, saat itulah ia melamar sang perempuan yang telah lama ia jadikan alasan untuk memperbaiki diri. Meski ia sebetulnya ia tak tahu siapa nama yang tertera di lauh mahfudz, tetapi ia hanya tahu bahwa ia harus memilih perempuan baik.


-- Continued in Hijrahku, Maharku part 2
Share:

Friday, 16 December 2016

Antara Nurani, Kebaikan, dan Syukur

       Semua manusia, terlepas dari latar belakang apapun, dibekali oleh Tuhan sebuah karunia yang mampu menuntunnya untuk menjadi lebih manusiawi. Karunia itu adalah hati nurani. Tetapi, mengapa makin ke sini makin sering muncul pertanyaan, di mana hati nuraninya?

"Antara nurani, dan kejahatan"
       Saat melihat ada orang yang korupsi, atau yang membunuh sanak keluarganya sendiri, atau bahkan, 14 pemuda yang dengan teganya memperkosa seorang wanita berusia 14 tahun, lalu membunuhnya usai terlampiaskan hasrat mereka.  

Tanyaku, di mana hati nurani nya? 
Tanyaku pada kalian, kalian sendiri masih punya hati nurani tidak?
Tanyaku pada diri sendiri, apakah aku masih bisa menjaga hati nuraniku? 

Apa yang sebenarnya terjadi? Who's the one behind the scene, the one that makes people more inhumane -- makin kehilangan hati nurani.

"Antara nurani, dan kebaikan"
       Saat melihat seekor kucing kecil yang mendatangi kita yang sedang makan sambil mengeong pertanda kelaparan, saat melihat wajah teman kita begitu keruh, tak tenang, sedikit-sedikit memegang dahinya pertanda gelisah, saat mata kita tiba-tiba beradu pandang dengan mata pemulung yang sedang membawa karung goninya di tangan kiri, dan besi berbentuk L nya di tangan kanan. Dan, kita tidak melakukan apa-apa. Kita teruskan makan kita, kita terus berangkat kuliah, kita teruskan saja bersikap seolah tidak ada yang salah.

Tanyaku pada diri sendiri, apakah aku sudah melakukan sesuatu di saat-saat seperti itu?
Tanyaku padamu, apa yang kau lakukan saat tidak melakukan apa-apa? Menyesalinya, atau merasa itu memang bukanlah permasalahan apa-apa?
Tanyaku, dimanakah letaknya hati nurani kita?



"Antara nurani, dan syukur"
       Aku bersyukur aku memiliki seorang teman yang banyak memberikanku pelajaran terkait menjaga kebersihan. Ia memiliki kebiasaan memungut sampah yang ia temui di pinggir jalan. Ya, kulihat tidak di semua tempat, tetapi setidaknya jika ia tidak mengambil sampah, ia akan senantiasa mengingatkan temannya jika ada yang membuang sampah sembarangan. Ia suka bercerita,

"Kamu tahu, Haw, rasanya sungguh menyenangkan bisa memungut sampah. Nggak ngerti kan senangnya dimana? Mungkin aku hanya satu di antara ratusan juta penduduk Indonesia, satu di antara belasan ribu mahasiswa ITB, tetapi dengan melakukan ini aku menjadi yakin, bahwa aku adalah salah satu di antara sedikit orang yang sedang membuat perubahan untuk Indonesia. Yaa, seenggaknya Cisitu juga bagian dari Indonesia, kan? Hehe."

Aku takjub.
Sesederhana itu mengubah Indonesia. Tak perlu muluk-muluk membuat sistem persampahan nasional. Sistem daur ulang limbah. Atau apapun yang bisa dikerjakan hanya jika sudah lulus kuliah. Kutanya padanya apa dorongan yang membuatnya konsisten dalam melakukannya, is it worth it?

Jawabnya lagi,

"Kamu juga harus tahu, Haw, (kebiasaanku) ini sangat erat dengan menjaga hati nurani. Ia(hati nuraniku) berkata bahwa tidak benar ada sampah di pinggir jalan. Kuturuti hati nuraniku dan kuambil sampah-sampah tersebut lalu kubuang di tempat sampah yang kulalui kemudian. Aku jadi sadar, saat aku menurutinya dengan langsung, ia(hati nurani) merasa dihargai dan menjadi lebih sering muncul. Ia menjadi hidup dan mewarnai kehidupanku, tidak terbunuh oleh modernisasi ataupun rasa terburu-buru karena aku yang terlalu sibuk. Aku menjadi peka terhadap permasalahan teman, peka terhadap apa yang tidak manusiawi, bahkan terkadang, terhadap apa yang benar dan yang salah. Dan bukan sekadar peka, tetapi aku juga melakukan sesuatu dengan masalah tersebut. Tidak membiarkannya diam begitu saja."

Menarik. Benar-benar menarik.
Boleh jadi itu rumus yang kita cari selama ini. Sepertinya, masalah orang zaman sekarang adalah, pertama, kita semakin kurang mendengarkan apa suara hati kita, misal di saat momen-momen di bagian awal tadi terjadi, kita malah memilih sibuk dengan hal lain seperti gadget. Atau, memilih belajar. Atau tergiur dengan pikiran ini,

"Maaf, nggak ada waktu, dikejar deadline." *kadang aku juga sih ._.v*. 

 Well, masalah kedua udah cukup jelas, boro-boro ngelakuin sesuatu terkait permasalahan yang ditemuin oleh hati nurani kita, mendengarkan suara hati nurani aja enggak.

Jadi, begitu ternyata rumusnya, dengarkan apa kata hati nurani, lakukan sesuatu jika memang kita merasa ia benar, dan lihatlah bahwa ia akan menjadi lebih hidup. Ia akan lebih sering memberikan kita pencerahan, hati yang dituntun oleh nurani dari Tuhan.

"Antara nurani, kebaikan, dan syukur"
       Syukur. Sungguh menakjubkan lagi pembahasan yang satu ini. Saat kutanya padanya, apa dia tidak lelah melihat kotornya daerah yang ia lalui, dan ia yang biasa mengambilnya, apa ia tidak bosan? Apa tidak menyalahkan keadaan? Apa tidak menuntut orang supaya tergerak hati nuraninya untuk turut serta dalam menjaga kebersihan? Apa tidak marah melihat kenyataan?

Apa katanya? 

"Aku bersyukur, Haw. Aku pernah ke kajian di Daarut Tauhid. Disana Aa Gym berpesan terkait syukur dan kebaikan. Waktu itu beliau bertanya pada jama'ah. Kalau kalian bersedekah kepada seorang pengemis, siapa yang seharusnya bersyukur? Kamu pasti berpikir, jelas pengemisnya karena dia yang butuh kan? Kata Aa' bukan. Harusnya kita yang bersyukur. Kita yang digerakkan oleh Tuhan untuk memberi, yang masih diberikan hati nurani, dan diberikan kekuatan untuk mengikuti apa kata hati nurani. Nggak banyak yang diberikan karunia itu. Sama dengan kasusku, aku juga bersyukur karena aku diberikan kesadaran oleh Tuhan untuk menjaga kebersihan. Do'akan istiqomah yah. Dan semoga ada yang mengikuti."

Aamiin.

Dan aku pun mengikutinya. Aku benar-benar kagum dengan prinsip yang ia punya. Buat apa juga seseorang yang melakukan kebaikan merasa tinggi hati, ujub, dengan apa yang kita perbuat. Itu semua adalah karunia dari Tuhan untuk menjaga kita tetap dalam kebaikan. Bersyukur, tidak kufur akan nurani, dan hidayah yang telah Ia berikan pada kita.

"Penutup"
       Pagi ini, seekor kucing tidur dengan posisi menyamping di pinggir jalan. Tampaknya seperti menikmati indahnya pagi. Tapi ada yang aneh. Mulutnya agak terbuka sedikit. Perutnya, ternyata tidak naik turun sama sekali, tak bernafas. Ia sudah mati. Terlindas oleh kendaraan yang memilih untuk hanya meminggirkannya saja.

Jika kita melihatnya, apa yang kita lakukan?

Atau, permasalahan lainnya. Gempa aceh, Aleppo, Rohingnya. Atau permasalahan 'kecil', teman yang sedih dengan hasil ujian, or it could be anything.

Enak ya punya temen kaya Dori,
Atau mungkin, lebih enak lagi kalo bisa jadi temen kaya Dori?

 Selamat menjaga hati nurani, para penjaga hati :)
Share:

Saturday, 10 December 2016

Review Novel : Nikah Aja, Yuk!

- Sebelum berkata apa-apa, saya akan nyatakan dengan gamblang di awal: Buku ini bukan tentang menyegerakan menikah, buku ini tentang apa yang harus dilakukan jika kita belum menikah - 

        Kamis sore kemarin saya kebingungan, ada masalah. Setelah berpikir sebentar, kuputuskan untuk coba mencari solusinya di toko buku. Kenapa ke sana? Well, begitulah saya. Sebentar-sebentar tiba-tiba pengen beli buku. Kalau lagi ada masalah besar yang saya nggak ngerti sebenarnya masalah saya apa, biasanya opsi pergi ke toko buku menjadi menarik. Di toko buku saya akan muter-muter, nggak jelas sebenarnya apa yang dicari. Ya itu, saya sendiri nggak ngerti masalah saya apa, cuman berharap aja siapa tahu ada buku di Gra***ia yang seolah-olah mengerti bahwa saya sedang ada masalah, dan buku ini menawarkan solusi. Buku ini, setelah saya ambil di antara tumpukan buku yang lain dan berada dalam genggaman tangan, keinginan untuk memilikinya mendadak meninggi. *I want this book so much, sow much*. Meski tidak lama setelah itu, rasionalisasi datang, lalu saya pun jalan-jalan lagi dan coba mencari buku lain yang mungkin memiliki 'tingkat resonansi' lebih tinggi. Biasanya yang mengerti buku apa yang saya cari itu bukan akal dan rasio saya, tapi hati. Mungkin karena masalah yang saya alami seringnya masalah hati ya? Well, who knows. Untuk kemarin, saya berjumpa dengan dua buku menarik, Your Sin is Not Greater Than God's Mercy milik Nouman Ali Khan dan Nikah aja, Yuk! milik Irma Irawati. Sekarang, saya ingin coba berdiskusi tentang buku yang kedua karena buku itu yang paling cepat saya habiskan, baru Kamis kemarin, tadi siang sudah habis.

Buku ini menarik.

       Saya mengerti bahwa salah satu masalah yang saya hadapi adalah saya ingin mencoba mencari template yang cukup tepat untuk buku yang ingin saya buat. Saya mencari buku tentang hijrah cinta, novel lebih tepatnya. Because to me, novel is a friend, while non-novel is (often) a teacher. And I'd prefer a friend than a teacher at the moment. Awal melihat, saya khawatir isinya hanyalah lompatan-lompatan bahasan tentang jangan pacaran, lalu bagaimana menjaga hati, dalil-dalil, teoretis lah kalau bahasa teman saya. Padahal, bukan guru pendikte yang sedang saya butuhkan. Soalnya di buku-buku lain di sana, rata-rata settingnya begitu, bosen :d. Tapi.. buku ini beda. This book tells me stories. *I love stories* Akhirnya setelah kubanding-bandingkan, sepertinya buku ini memang outstanding buat saya jadikan referensi dibandingkan buku yang lain, harganya pun terjangkau (<40 rb). Jadi deh dibeli.

       Tentang isinya, ceritanya tentang bagaimana seorang kakak menjaga adik nya yang sedang mengalami masa remaja. Lucu sebetulnya. Idenya keren. Gue suka banget sih. Apapun, walaupun isinya ada yang mungkin sebagian menganggap picisan, tapi buat aku yang punya (pengalaman) jadi mau ga mau tertarik haha. Ooh, ternyata gitu. Macem gitulah rasanya waktu baca.

       Kalau di buku yang kusuka sebelumnya, Puisi Hati, ada seorang tokoh yang begitu menarik kepribadiannya karena penggambaran fisiknya yang sederhana(tidak digambarkan cantiknya bagaimana, hanya tentang bermata teduh saja sebetulnya). Di buku ini, ada tokoh yang lebih dari sekadar menarik, tetapi sampai sukses membuatku merasakan rasa ketidakpantasan, apa ya, rendahnya diri ini dibandingkan tokoh tersebut. Beliau dalam menjaga diri dan hatinya sangat subhanallah. Berikut salah satu nasihat yang ia berikan kepada adik kecilnya,

"Diri ini ibaratnya lubang kunci dan jodoh kita ibarat kuncinya. Daripada sibuk mencari-cari kunci yang tepat, lebih baik fokus membersihkan karat dan cacat di dalam diri. Memperindah kepribadian."

       Bukan hanya frasa itu indah didengar, tetapi sangat terasa tinggi, mulia. Sedangkan diri ini? Untuk berbenah diri saja rasanya seringkali masih setengah-setengah. Kalau udah capek, lelah, balik lagi buang-buang waktu, lupa jaga pandangan, macem-macem. Sedangkan tokoh itu? Bayangin coba, anak kuliahan, sudah mencari makna frasa 'Cinta kepada Allah'. Gimana supaya cinta yang paling utama kepada Allah dulu baru sama sesama manusia. Kalo gue, udah sampe mana? Rasanya diri ini malu masih berani berbicara tentang buru-buru menikah. Padahal, mungkin mirip dengan apa yang umi bilang, menikah itu gerbang penderitaan *kalau ga siap kali yak*. Tapi ya gitulah, intinya mah dari buku itu, aku jadi mikir, aku udah nyiapin apa berani mikir nikah? Tiba-tiba jadi pengen ndekem di pondokan, membersihkan diri dari kotoran-kotoran diri :(. Mau ngomong ape ane ke calon bini kalo ane bilang ane punya aib? Ga jadi nikah? Emang ga pantes lah kalo gitu mah.
Eh, sori jadi ngomong sendiri.

       Yah, begitulah. Buku ini mengajarkanku tentang keberadaan sosok ideal yang sebaiknya kita contoh tentang bagaimana usahanya untuk tetap menjaga dan membersihkan diri ini dari dosa, bahkan dari celah untuk melakukan dosa sekalipun.

Awalnya waktu kuliatin ke temen, pada nolak gitu.
Waktu kukasih tau isinya, langsung pada minat wkwkwk

Simpulan : Top Markotop.

*lirik lagu* Diri ini penuh dosa, kuharapkan ampunan dari diri-Mu. Bersihkan diri dari debu dan noda. Padamu, kuserahkan jiwa, kuserahkan jiwaku.

P.S. : Sulit dibahasakan dengan kata-kata gimana rasa malu nya diri ini saat membaca semangat membina diri yang dimiliki oleh tokoh di dalam cerita. :"(
Share:

Tuesday, 22 November 2016

On Being Suicidal - 1

On Being Suicidal - Saat Sedang Ingin Bunuh Diri


Berbicara tentang bunuh diri, mungkin tidak akan terlalu laku di Indonesia dimana mayoritas penduduknya adalah umat Muslim. Jelas, di dalam agama Islam adalah sesuatu yang sangat dilarang. Lebih dari sekadar karena ia adalah sebuah dosa, yang kulihat mungkin juga karena itu adalah gabungan kompleks dari beberapa dosa, yakni:

1) Simbol kufur nikmat. Lupa akan banyaknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Lebih memikirkan tentang bagaimana buruknya kehidupan yang dirasakan dan telah dialami.

2) Antipati/tidak peduli terhadap manusia lain. Merasa bahwa dirinya tidak dipedulikan oleh orang lain sehingga merasa tidak perlu peduli akan pandangan orang jika pada saatnya dia benar-benar hilang dari dunia ini.

3) Usaha untuk melawan takdir yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika seorang mukmin telah bersyahadat dan mengerti bahwa rukun iman adalah konsekuensinya, sudah seharusnya ia mengimani bahwa Allah telah menyediakan dua jalan baginya. Kedua jalan tersebut memiliki dua konsekuensi yang berbeda, surga atau neraka. Tergantung kepada pilihan yang dia ambil.

4) Yang ini wallahu a'lam, Allah lebih tahu, sekadar opini saya. Dosa terbesar yang tidak akan mendapat pengampunan Allah sama sekali adalah syirik. Karena saat itu, ia tak bertauhid sama sekali. Sedangkan dosa apapun, selama ia masih memiliki keimanan di dalam dirinya sekecil apapun, maka ia pada akhirnya masih akan bisa masuk ke surga asal tauhidnya murni dan bersih mensucikan Allah. Maka bunuh diri, dosa yang tidak ada ampunan baginya, boleh jadi adalah salah satu bentuk merasa bahwa diri lebih besar daripada rahmat Allah yang sesungguhnya mampu menyelamatkannya dari perkara apapun di dunia, wallahu a'lam.
(Notes : ternyata bunuh diri jika di Palestina masih bisa masuk surga sih. Jadi mungkin tergantung sebab bunuh dirinya juga).
Share:

Monday, 22 August 2016

Cinta 3 Benua : Wanita yang Hebat

Sebuah kutipan dari buku Cinta 3 Benua, tentang konsep diri seorang wanita biasa yang hebat. Aku somehow ngerasa ini keren banget dan dibaca berulang-ulang juga ngga bosen :)

From : Layla
Subject : Wanita yang Hebat

       Apa kabar, Faiz? Aku berharap kamu dalam keadaan baik ketika surat ini sampai. Inilah tulisan seorang wanita biasa tentang hasratnya menjadi sosok yang lebih berarti.
       Dan "menjadi lebih berarti" itu adalah "menjadi sesuatu". Setidaknya itulah pikiran para wanita. Kedengarannya sangat hebat kan? Padahal ini sangat sederhana, hanya titik tolaknya memang hebat, yaitu realita bahwa setiap wanita dibekali insting keibuan yang kuat.
       Tentu kamu paham seluruh sifat yang disandang seorang ibu karena kamu sangat dekat dengan ibumu. Yang aku maksudkan adalah ketulusan pada tingkat yang paling tinggi.
       Ketulusan seorang ibu itu menuntunnya untuk punya harapan agar anak-anak yang dicintainya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri dan memperoleh pasangan hidup yang lebih hebat dari pasangan hidupnya sendiri.
       Tak ada ketulusan yang menandingi ketulusan seperti itu. Dan itulah cara menjadi lebih berarti. Cara "menjadi sesuatu".
       Begitulah dalam diri setiap wanita terpelihara sikap mulia. Begitulah menjadi lebih berarti. Begitulah "menjadi sesuatu".
       Jadi, sebenarnya kebutuhan seorang wanita amat sederhana, yaitu bagaimana membuatnya yakin bahwa dirinya telah "menjadi sesuatu". Ini mungkin hanya pengakuan atas sebuah eksistensi. Itulah mengapa "dicuekin" menjadi hukuman paling menyakitkan bagi wanita.
       Seorang pria yang bijaksana, apakah itu seorang ayah atau suami, sangat mengerti bahwa yang harus dia lakukan untuk menyenangkan hati seorang wanita adalah menghargai kehadirannya. Membuatnya merasa menjadi lebih berarti. Membuatnya merasa telah "menjadi sesuatu".
       Aku setuju dengan hampir semua yang kamu tulis di surat yang datangnya terlambat itu, namun yang paling mengesankan adalah kisahmu tentang Bunda Khadijah ra, istri Rasulullah saw.
       Setiap kali nama Khadijah disebutkan, yang pertama kali aku kenang adalah kisahnya ketika Nabi saw pulang dari Gua Hira saat wahyu pertama datang.
       Aku percaya, Khadijah bagaimanapun adalah seorang wanita yang punya perasaan yang halus, sisi hati yang rapuh, dan kekuatiran atas kekasihnya jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
       Entah seperti apa kecamuk yang dirasakannya saat sang suami datang dengan wajah pucat, penuh kecemasan, bahkan sampai merasa jangan-jangan dirinya sakit dan apa yang barusan dialaminya tidak nyata. Peristiwa kedatangan Jibril bukan peristiwa biasa. Bukan pula hal yang sudah dibayangkan sebelumnya.
       Di tengah kecemasan dan kegundahan hati yang luar biasa itu, Nabi saw bercerita kepada sang istri. Sekali lagi, yang bagaimanapun adalah seorang wanita dengan segala kerapuhannya. Kecuali bahwa Khadijah ra cepat menyadari, ini adalah saat menyembunyikan kerapuhan, ini adalah saat tampil meyakinkan dan tenang. Inilah saat menjadi lebih berarti. Saat "menjadi sesuatu".
       Maka Khadijah ra tak mau ikut memperlihatkan kecemasan, kegalauan, dan kesusahan. Dia tak ingin menampakkan kesusahan serupa yang bisa memperparah kegundahan. Dengan sangat damai dia justru meyakinkan sang suami, "Tidak, Demi Allah, Tuhanmu tidak mungkin menimpakan keburukan kepadamu. Engkau adalah pribadi yang mulia, mengajak orang-orang untuk berkata-kata baik, memuliakan tamu, menghormati tetangga, ..." Dan seterusnya, Khadijah ra sebutkan segala hal yang secara sangat ampuh membuat sang suami merasa damai.
       Kisah ini sangat inspiratif bagi aku, Faiz. Dan akan aku jadikan acuan jika nanti berumah tangga. Aku harus meyakinkan suami aku nanti bahwa sepelik apa pun hari yang dilewatkannya, saat pulang ke rumah dia akan bertemu keteduhan yang menyejukkan.
       Cukup menjadi seorang istri yang seperti ini membuat aku lebih berarti. Membuat aku telah "menjadi sesuatu". Sebab begitulah menjadi wanita yang hebat di mata wanita biasa seperti aku.
       Semoga kamu akan mendapatkan istri seperti itu, walaupun tampaknya dia hanya wanita biasa seperti penulis surat ini...

                                                                                                                         Layla


Pernah denger surat hijau? Itu yang kalo misal sertifikat tanah kita itu gak asli
(biasanya sertifikat nya masih punya pemerintah) itu kita punya nya surat ijo. Ups oot.
Share:

Thursday, 21 July 2016

Bersikap di Luar Tipe Kepribadian

Kemarin, aku habis nonton TED Talks yang baguuus banget. Judulnya gini, Who are You Really? The Puzzle of Personality. Pembicaranya bapak bapak udah lumayan tua, dosen Cambridge, bidang beliau adalah Personality Psychology, Pak Brian Little namanya. Lucu gitu bapaknya, humoris. Tapi isinya tuh bikin mikir. Meskipun, ada bagian kecil dari yang dibicarakan yang aga sedikit not safe(obrolan orang dewasa). Tapi sisanya, oke.. Coba deh, kalian tau tes-tes kepribadian gitu nggak? Terus ada tipe-tipe gitu kan? Atau traits 'sifat' bahasa lainnya. Terus, pernah nggak ditanyain sama orang gini?

Is that all we are? Just a bunch of traits?

Bener banget bahwa memang semua dari kita itu terdiri dari apa yang beliau bilang ada 5 aspek. OCEAN singkatannya. O stands for Open to experience, C stands for consciestiousness, E stands for extroversion, A stands for Agreeable individuals, and N for neurotic individuals. Itu semua itu ya yang biasa gitu lah kepribadian orang. Tapi yang keren memang pertanyaan beliau yang ini,

"Apa ada hal lain yang bisa membuat kami memahamimu lebih dari sekadar sekumpulan kepribadian? Yang membuat kami menjadi mencintaimu? Mencintaimu, bukan hanya karena kamu seseorang dengan tipe kepribadian tertentu."

Apa jawabannya?

"Jadi apa yang membedakan kita? Yang membedakan adalah apa yang telah kita perbuat dalam hidup kita -- proyek-proyek pribadi kita. Anda bisa jadi memiliki proyek pribadi sekarang, tetapi mungkin tidak ada orang disini yang tahu tentang itu. Ini mungkin berhubungan dengan anak Anda -- Anda telah ke rumah sakit 3 kali, dan tetap saja tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Atau bisa juga itu Ibu Anda. Dan Anda bersikap di luar karakter Anda yang biasanya. Ini adalah sifat-sifat bebas." lanjut lagi ke pertanyaan bagus beliau,

"Don't ask people what your types are. Ask them, 'What are your core projects in your life?'"


Beliau menghayati banget waktu bilang tentang rumah sakit ini. Phew

       Kusadari ya, di antara temen-temenku sendiri pun banyak banget yang penasaran tentang tipe kepribadian temen yang satu sama temen yang lain, Tetapi memang kalau aku pribadi selama ini agak merasa skeptis ya sama itu. Penting ta? Ternyata kutemukan jawabannya disini. Tipe-tipe kepribadian yang ada itu seolah dipake sama orang lain malah kayak bukan buat lebih memahami kita gitu lho, tapi malah kaya mau mengeksploitasi kelebihan kita. Jarang gitu ada yang bener-bener mau belajar tipe kepribadian itu sampe mau baca-baca tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan suatu tipe. Yang ada itu, kalo kamu tipe ini, kamu harus diginiin biar kamu bisa kerja lancar. Kalo kamu tipe itu, berarti memang, misal, orangnya outgoing, cocok jadi kepala ini. Cocoknya kerja sama si tipe A, atau tipe B, eksetera. Ternyata itu penyebab aku ngerasa skeptis sama tipe-tipe kepribadian selama ini. Disalahgunakan.

       Aku setuju 100% sama pernyataan bapaknya, aku memang merasa lebih dihargai bila ditanyai apa proyek-proyek personal yang kumiliki dalam kehidupan, daripada ditanyain tentang tipe kepribadianku apa. Being asked like that fuels my energy, my spirit. Karena memang, untuk mengejar core project ini, orang-orang sering sampai bersikap tidak seperti tipe kepribadiannya. Dan seperti kata Pak Brian, they're what matters.

"They're where we enact a script in order to advance a core project in our lives. And they are what matters."
yang artinya:
"Mereka(free traits) adalah saat-saat kita memerankan naskah agar kita bisa meneruskan proyek inti di di dalam kehidupan kita. Dan mereka itulah yang penting."

       Ya seperti yang tadi kujelasin itu, orang-orang sampai rela keluar dari kepribadiannya sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan script 'naskah' agar proyek dia bisa tercapai. Pengorbanannya ya itu.

       Jadi, itu. Hargailah orang lebih baik dengan bertanya padanya bukan tentang apa kepribadiannya. Menurutku, lebih keren kalo misal kamu bisa nebak kepribadianku apa. Ya intinya kamu memang berniat untuk mengetahuiku lebih dalam daripada sekadar bertanya. Tapi, lebih baik lagi, tanyakan, apa proyek-proyek inti dalam kehidupan dia.

Terima kasih pembaca, terima kasih Pak Brian. :)
Hayo tebaak, tipe kepribadianku apaa :D
Share:

Friday, 29 April 2016

Cinta 3 Benua : Ketakutan yang kutaktahu kenapa

Bahan covernya bagus (?)
Malam kawans,
Kali ini, biarkan ku bercerita padamu tentang sebuah novel yang baru saya baca 1/5 bagian nya saja, bapernya sudah setengah hidup, rasanya kayak kadang melayang-layang, terus bingung, wah ada suatu emosi nakal yang mengusik masuk dalam benak saya. Yang sayangnya, sampai sekarang saya masih belum benar-benar tahu itu emosi apa. Saya kira, itu ketakutan.  ... Ya, ketakutan,

Judul buku ini adalah Cinta 3 Benua karya Faris BQ dan Astrid Tito. Di samping itu gambarnya.

Dari awal membaca buku ini, ya tipikal buku bagus lah ya, aku sudah bisa membayangkan dengan cukup detail setiap setting dari suatu peristiwa, setiap kata-kata terkait rindu, cinta, dan kawan2nya tidak terlalu rumit untuk dicerna, dan bahasa yang digunakan, ketika sang laki-laki bercerita sangat kelakilakian pola pikirnya, dan sebaliknya ketika sang perempuan bercerita, sangat keperempuan ceritanya.


Si tokoh adalah seorang lelaki dengan masa lalu kelu. Lelaki gagal move on, bahasa gaoel nya. Sang laki-laki adalah seorang yang digambarkan seorang yang baik, taat beragama. Seperti biasa, di negeri orang, bertemu dengan sekian banyak wanita, perhatiannya terjatuh pada salah satunya. Sang perempuan adalah seorang perempuan yang taat beragama juga, hijabnya tertutup dengan baik, warna pakaiannya tidaklah menarik perhatian, tutur katanya sopan, pemalu juga. Semua bermula dari suatu kejadian kecil yang menunjukkan keberanian sang perempuan untuk mengambil inisiatif untuk lebih saling mengenal satu sama lain(kalo mau tau gimana, baca :)). Semua berlanjut hingga ke email, surat, dan telefon, bahkan saat tengah malam ataupun setelah Shubuh.

Penggambaran sang wanita yang begitu anggun dan cerdas mempesona seolah membuatku turut dimabukkan dan seolah memiliki rasa yang sama dengan sang tokoh utama. Kesenduan yang disiratkannya sangat kentara. Tak sedikit waktu sang tokoh utama ter'buang' untuk bernostalgia tentang sebuah kenangan lama. ..  Di sana.

Di sana aku tampaknya mulai merasakan rasa takut itu.

Aku takut jatuh cinta. Aku takut jatuh dinda terlalu dalam.

Aku khawatir melihat perkembangan sang tokoh utama, yang awalnya begitu menghormati dan menghargai kekuatan agama seseorang, tetapi ternyata ketika bertemu dengan seseorang yang memiliki paras wajah yang sama dengan cerita lamanya, ia langsung tercekat dan seolah-olah dunia berputar kembali. Begitu banyak kenangan melintas mengenai sang cerita lama. Betapa ternyata, fisik masih merupakan perekat memori yang kuat di dalam kepalanya. Entahlah, aku baru baca sampe segitu.

Kupikir, aku takut. Aku takut kalau aku jatuh cinta kepada seseorang yang tak pasti akan jadi siapaku nantinya, aku akan tersiksa. Siksaan batin yang begitu mendalam ketika harus berpisah dengannya. Siksaan-siksaan yang tertera dalam cerita di buku ini dengan apiknya. Aku takut bahwa aku yang cinta ku kepada Allah saja masih belum baik benar, kemudian aku dilimbungkan dengan sebuah cinta horizontal kepada sesama manusia akan membuatku terbuai dan lebih memikirkan cintaku kepadanya daripada cinta kepada Sang Maha Kuasa. Aku takut semua hanya bermula dari fisik, dari rasa suka, menjadi pemabuk yang mampu merusak banyak rencana. Sebenarnya, haruskah seorang yang dilanda cinta melewati tahapan seperti itu ya? Ku tak tahu. Kuharap kisah cinta tak harus serumit dan sekompleks itu ya.

Ku berharap, hanya kepada Allah lah aku akan berharap..
Share:

Tuesday, 15 March 2016

Efek Jangka Panjang dari Ketergantungan(Apapun)

Sharing Quote(s):
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
       Dalam kehangatan ruang kamar seorang anak, di tengah dinginnya suasana angin bersalju di luar, seorang ayah sedang duduk berdampingan dengan sang anak, dengan mengalungkan tangannya di pundak sang anak. Rupanya, ia sedang mencoba untuk menghibur dan memberi nasihat keayaahan mengenai masalah yang sedang melanda sang anak akhir-akhir ini, yakni kebosanan yang membuatnya mencari kesenangan dari marijuana/narkoba. Kata sang ayah, "Well, Stan, the truth is marijuana probably isn't gonna make you kill people, and it most likely isn't gonna fund terrorism. But, well son, pot makes you feel fine with being bored. And it's when you're bored that you should be learning some new skill or discovering some new science or being creative. If you smoke pot you may grow up to find out that you aren't good at anything."
Arti : "Ya, Stan, memang benar bahwa mariyuana mungkin tidak akan membuatmu membunuh orang, dan sangat tidak mungkin dia akan mendanai terorisme. Tetapi, ya anakku, pot(marijuana) membuatmu merasa bahwa kebosanan adalah suatu hal yang normal/wajar. Padahal saat kamu bosan lah seharusnya kamu mempelajari kemampuan baru, atau menemukan sebuah sains baru, atau menjadi kreatif. Jika kamu mengonsumsi pot(marijuana) kamu mungkin akan tumbuh besar dan baru kemudian menyadari bahwa kamu tidak punya kemampuan/kompetensi apapun."

Gambar aslinya:
Stan's Father telling him the secret of consuming marijuana
Pembahasan:
       Ya, jadi ini adalah salah satu quote ter-'ndewo'(keren) yang pernah saya dapat di suatu forum yang pernah saya ikuti, suatu komunitas yang tujuannya untuk saling membantu melawan ketergantungan, seperti isi dari gambar di atas. Jadi, apa sih maksud dari quote itu? Pesan yang disampaikan oleh gambar di atas adalah, (lebih)berhati-hatilah terhadap ketergantungan. Ketergantungan membuat kita merasa normal untuk merasa bosan dan tidak melakukan apa-apa selain memenuhi hasrat ketergantungan tsb. Saat bosan, memang melakukan hal tsb adalah salah satu hal paling menarik untuk dilakukan, tetapi pada saat yang bersamaan ia juga merupakan hal paling tidak bermanfaat yang bisa kita lakukan. Seharusnya, kita justru melakukan hal-hal unik dan aneh. Misal bekerja di bengkel, belajar skill baru, menekuni hobi baru, membaca buku tentang pengembangan diri, ya, apapun yang akan bermanfaat bagi diri kita di masa depan.

       Pesan ini, menurut saya, adalah pesan yang hilang di masyarakat Indonesia. Seandainya saja setiap orangtua menasihati anaknya dengan ini dan menjelaskan secara lebih mendetail, generasi Indonesia tidak akan terlalu jadi yang seperti sekarang yang suka bermain DOTA(atau games lainnya), menonton film, anime, atau drama korea, merokok, minum-minum alkohol, atau jenis-jenis ketergantungan lainnya. Sesuatu yang dilakukan karena ingin mengisi waktu luang/menghilangkan kebosanan. Bila tiap remaja di Indonesia ini sadar bahwa waktu luang ada bukan untuk dihabiskan saja, tapi juga untuk dimanfaatkan, tentu(insyaAllah) Indonesia akan menelurkan orang-orang hebat dengan bidang spesialisasi yang unik-unik. Kapanpun mereka mendapatkan waktu luang, mereka akan melakukan hal yang mereka suka(dan bermanfaat), bukan malah "ah, aku bingung mau ngapain. Main aja lah, atau nonton yuk. Nonton film action kek, apa kek."
 
       Permasalahan mendasar dari ketergantungan adalah, mengonsumsi atau memenuhi hasrat ketergantungan kita itu tampaknya hanya akan berdampak pada diri kita saja, it's like a self-oriented behavior. Dan membuat orang lain tidak berhak untuk menghalangi/melarang kita melakukan hal tsb. Padahal kenyataannya, tidak. Rokok, minuman keras, dan narkoba telah membuat banyak orang tua kerepotan membiayai ketergantungan anaknya, apalagi bila anaknya sakit karena konsumsi berlebih barang-barang tersebut. Games, anime, manga, action films/movies, Korean dramas, internet, semua telah membuat banyak orang kehilangan (sangat)banyak opportunity cost yang sangat bernilai. Kebiasaan-kebiasaan(games, anime, dkk) seperti ini menurut saya sebenarnya adalah jenis ketergantungan yang paling menjebak. Kita dibuat merasa bahwa melakukan ini hanya akan berdampak pada diri kita. Tidak! Bisa jadi saat Anda melakukan hal tersebut, orang lain di luar sana sedang mencari-cari Anda. Bisa jadi masyarakat di luar sana sedang mengharapkan karya-karya besar Anda untuk bisa membantu keluarga dan teman terdekat Anda. Bisa jadi sebuah olimpiade sedang menunggu untuk Anda taklukkan(Wooah, keren beud). Seperti quote di atas, "Pot(or any kind of addiction) makes you feel fine with being bored." Banyak orang sebenarnya menumpukan harapan pada Anda, lalu apa yang Anda lakukan? Duduk di rumah, di depan laptop, menyetel film kesukaan Anda, atau bermain games kesukaan Anda. Bagi Anda yang masih biasa melakukan hal ini, ada sedikit saran pribadi, bila Anda belum bisa meninggalkan kebiasaan itu, setidaknya munculkan lah rasa bersalah dalam hati Anda.

       Sekarang, mari kita coba menghitung-hitung lama kebosanan kita. Bila saja dalam sehari minimal kita bosan selama 30 menit. Satu minggu, kita bisa merasakan kebosanan selama 3.5 jam(belum lagi kalau weekend waktu luangnya lebih banyak. Dengan asumsi waktu luang berbanding lurus dengan kebosanan). Satu bulan, sudah dapat 14 jam. Misal kita dalam waktu 14 jam(30 menit/hari) itu belajar menulis cerpen, atau melukis, atau belajar memasak. Dalam 1 bulan saja, kita bisa jadi sudah bisa menelurkan 2-5 buah cerpen, atau 1 buah mahakarya lukisan, atau kita sudah bisa hafal hingga 10 resep masakan. Bandingkan dengan melakukan hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas. Apakah hanya demi menghilangkan kebosanan, Anda rela mengorbankan kesempatan itu?

       Mari kita ambil contoh kasus yang lain, semisal rokok. Yakni terkait uang untuk membeli rokok, dan untuk membayar pengobatan dari konsumsi rokok itu sendiri. Misal 1 hari 1 kotak, dengan harga 1 kotak 15 ribu. 1 minggu menjadi 75 ribu. 1 bulan menjadi 450 ribu. 1 tahun menjadi Rp 5.450.000,-. Dalam 5 tahun, Anda sebenarnya sudah bisa membeli/menyicil motor/rumah baru! Atau malah, umroh! Ditambah lagi dengan biaya pengobatan paru yang harganya tentu lebih mahal lagi. Asumsikan hanya terkena kanker paru, berarti harus diterapi, per sesi terapi sekian ratus ribu. Misal harus 10 sampai sekian kali terapi. Berarti uangnya? Jutaan lagi! Bayangkan semua cost yang harus kita bayarkan tersebut. Bandingkan dengan hal-hal positif yang bisa kita lakukan. Menurut saya, itu amat sangat tak sebanding.

       Tujuan saya sebenarnya adalah hendak menyampaikan amarah baik, keprihatinan saya, kepada orang-orang yang masih melakukan hal di atas, termasuk juga diri saya sendiri(pembelaan: saya pribadi sudah banyak memotong kebiasaan-kebiasaan ini euy). Tolong lah, please, lakukan hal lain bila memang kebiasaan kita itu sudah terlalu berlebihan, atau bila yang kita lakukan benar-benar sudah tidak ada manfaatnya selain sekadar menghabiskan waktu. Coba investasikan hidup kita untuk hal lain yang lebih bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Dan juga demi pribadi diri kita yang lebih baik :". Jaga hidup kita agar tidak terlalu dikendalikan oleh ketergantungan. Coba, lakukanlah hal lain bila sedang bosan. Cari lah hal-hal menarik di sekitar Anda, lalu tekunilah dia. Maka insyaAllah suatu saat Anda akan bisa menuai hasil dari investasi 30 menit per hari Anda tersebut di masa mendatang.

       Berikut saya lampirkan 1 artikel terkait addiction, yha, dalam bahasa Inggris yang membahas mengenai ketergantungan secara cukup ringkas tetapi sudah cukup jelas. Sekian, terima kasih. Semoga bermanfaat.
Share:

Sunday, 14 February 2016

Overcoming Loneliness - Part 2

Hubungan Romantis - Alkohol Jenis Baru 

---------------------------------------------------------------------

       Hubungan romantis tampaknya adalah kamuflase paling umum untuk menutupi rasa fragmentasi. Ketika kita kesepian, adalah hal yang masuk akal bahwa kita butuh seseorang yang kita spesialkan! Masuk akal dan begitu dingin, seperti sebuah transaksi bisnis. Seorang pacar laki-laki/perempuan, sebuah kekasih, seseorang, siapapun! Kita telah merendahkan mereka hanya sebagai kamuflase belaka bagi kesedihan kita -- tidak ada bedanya dengan penyalahgunaan alkohol, suara keras dari televisi kita, atau menghabiskan waktu menelepon sampai benar-benar ada orang yang bisa ada di samping kita -- kayak kita punya waktu untuk dibuang-buang aja!
Hubungan seksual adalah suatu momen dimana kita bisa berada paling dekat dengan orang lain, pada level fisik, dan itulah alasan mengapa ia terasa begitu memuaskan. Dan ketika kita melihatnya dengan lebih tajam ke dalam hati kita, rasa fragmentasi muncul sebagai sebuah kebutuhan untuk dekat, menempel, untuk melebur dan menjadi satu dengan orang lain. Berapa orang yang sadar akan kekurangan itu? Seberapa umum kah perasaan mendasar pengasingan(alienation) manusiawi tersebut? Ya, cukup umum untuk bisa muncul pada sebuah tes psikologi yang sudah terstandarisasi.
       Dan akhirnya kita mencari 'seseorang' untuk menghilangkan perasaan itu. Ketika kita bersama dengan 'seseorang' tersebut, kita bisa melupakan pikiran-pikiran di alam benak kita tentang perasaan kejanggalan(disharmony). Tiba-tiba saja, keberadaan kita tampak seperti ada makna nya. "Aku tidak sendirian!" Kita berseru, saat kamu bercumbu, berpelukan, dan berciuman. "Aku dibutuhkan oleh orang lain, aku diinginkan! Aku cantik, aku diinginkan, aku berharga! Aku sudah tidak sendirian!"
       Dan ternyata, itu semua hanyalah penyamaran belaka hingga kapan pun. Bahkan, ketika kita bersama dengan orang yang kita cintai, kita masih tetap seperti kita yang sebenarnya - sendirian.
       Beberapa minggu yang lalu, Aku menonton sebuah film dokumenter tentang sebuah cabang kebudayaan - "Host" culture, pada sebuah distrik klub malam pada sebuah negara makmur. Film ini bercerita tentang pria muda tampan - dengan mengenakan pakaian yang menyolok mata, sangat terlatih pada merayu dan menggoda, dibayar untuk menunggui dan bersantai-santai di bar-bar spesial. Mereka menjadi "host" (semacam pelayan atau lelaki panggilan) bagi banyak wanita - seringkali yang muda, cantik, dan kaya - yang membayar perusahaan-perusahaan, untuk belaian dan cumbuan, dan untuk gombalan serta rayuan.
       Film ini terfokus pada "host" terbaik di kota - seorang lelaki menarik yang memiliki barnya sendiri. Hidupnya adalah mimpi setiap orang. Kejagoannya terkait urusan wanita telah membuat pria lain langsung berwajah pucat(minder, red.) ketika dibandingkan dengannya. Ia merebut wanita-wanita dari suami dan dari pacarnya. Wanita-wanita bertarung untuk mendapatkannya, terkadang secara fisik, terkadang dengan (berlomba-lomba, red.) memberinya uang, dan ia pulang dengan wanita yang berbeda setiap malamnya. Tampaknya ia adalah orang terakhir di bumi untuk merasa terasingkan dari orang lain.
       Menjelang akhir dari film dokumenter tersebut, aku ingat pada sang pewawancara bertanya padanya apakah semua yang ia lalui berarti baginya. Ia menundukkan kepalanya dan menarik napas panjang. "Pada beberapa tahun pertama semuanya sangat menyenangkan. Tetapi setelah beberapa lama... Aku tak tahu. Ini sudah tidak penting lagi. Aku adalah lelaki paling kesepian di dunia."


----
Ini adalah akhir dari lanjutan ke-2 ku tentang Overcoming Loneliness 'Mengatasi Kesepian'.
Post ini adalah lanjutan terjemahan dari post yang sebelumnya, 
http://lokiarawarisan.blogspot.co.id/2014/08/loneliness-beginning-of-romance.html
dengan harapan agar semua pembaca bisa lebih memahami maksud dari post tersebut. Sumber aslinya didapat dari urbanmonk.net, yang sayangnya sudah ditutup karena kontrak website tersebut tidak diperpanjang oleh Albert, sang pemilik website.
Semoga membantu :)
Share:

Monday, 1 February 2016

Berharap bisa Menjadi Lelaki yang Baik

Hari ini, aku mau sharing 'berbagi' quotes bagus banget yang aku dapet udah agak lama sih sebenernya. Gini.

Wanita yang baik tak berharap untuk dikagumi dan dicintai banyak lelaki. Ia punya harapan yang sederhana, yakni suatu saat ada satu orang lelaki yang baik, yang mengagumi dan mencintainya, yang bersedia menjadi imamnya.
Begitu juga lelaki yang baik. Tak punya obsesi untuk menaklukkan hati banyak wanita. Ia hanya berharap kelak bertemu satu perempuan shalilah, yang mengagumi dan mencintainya, yang siap menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.

- Ahmad Rifai Rif'an

How does it relate with my life? Here's how :
Semenjak aku aktif di Salman, aku telah ketemu sama sekian banyak perempuan yang insyaAllah shalihah, dan mereka juga definitely attractive. Sekarang aja, aku udah ada 2 lah kira2 yang kalau aku ketemu sebenarnya aku suka curi-curi pandang juga, walaupun dosa sebenarnya hehe.
Quotes ini mengajarkanku untuk lebih berhati-hati. Lebih menjaga diri. Jangan pernah memberikan harapan, sesuatu yang aku tidak yakin bisa penuhi. Dan janganlah pula terlalu bersikap tp tp(tebar pesona), upload foto keren lah, terlalu bersikap friendly sama perempuan lah. Aku harus selalu ingat bahwa harapanku memang seperti quotes di atas. Aku gak perlu banyak perempuan buat kagum sama aku. Sebenarnya, cukup 1. Yang bersedia yaa menyayangiku apa adanya. Baik banget sama aku, dan tentunya, respect.

Karena ada bahaya lain dari mencoba terlihat keren ataupun ganteng, GAK IKHLAS! Aktif di Salman telah mengajarkanku hal tersebut. Bagaimana ketika kita sedang bekerja(ngangkat-ngangkat misalnya. FYI, penulis suka ikut divisi logistik), lalu kita papasan sama perempuan, atau lebih parahnya, di sekitar ada perempuan yang kita suka banget kalo ngeliat. Beh, kadang suka muncul di dalam hati tuh, Rasa seolah-olah kita diperhatikan karena kita strong, atau karena kita rela berkorban. Yang lain duduk-duduk santai, eh anak-anak logistik malah angkat-angkat barang yang dilihat juga udah ketauan kalo nggak ringan barangnya itu. Kan rugi tuh, kalau udah angkat-angkat gitu, eh ternyata malah jadi gak ikhlas, malah cuman buat dianggep keren sama anak orang. Hilang deh pahala yang sebenarnya sudah disediakan oleh Allah untuk kita kalo misal kita benar-benar niatnya untuk membantu kesuksesan acara di Salman yang insyaAllah tujuannya kebaikan. Eman banget lah!
 
Solusinya, aku pribadi biasanya kalo pas lagi 'beraksi' lebih memilih untuk rambut ga usah dibuat gaya, kebawah aja biasa. Ya intinya malah berusaha gak kelihatan keren ataupun ganteng lah. Malah susah nanti kalo ada perempuan yang suka sama kita tuh. Gak ada yang suka aja udah berat tantangannya untuk menundukkan pandangan, jaga omongan waktu ngobrol, de el el. Apalagi, kalau ada yang suka sama kita aaa -__-" Bisa berabe.

Sekian. Wassalam.
Share:

Sunday, 8 November 2015

Overcoming Loneliness .. Part 1



Kesepian – Awal dari Sebuah Romantika

                                                                                                 


Ketika kita sedang merasakan kesepian yang mendalam, apa yang mampu menenangkan kita – apa yang mungkin mampu menghilangkan perasaan tersebut? Sebenarnya, apa? Seringkali, rasanya seolah-olah tidak ada satu pun pelipur lara karena kesepian, yang ada adalah seolah-olah kita sedang berlari dari bayangan kita sendiri. Dari satu sisi, perumpamaan ini memang benar adanya. Tidak ada yang bisa lari dari masa-masa kesendirian. Kita selalu sendiri. Tetapi, ada cara untuk bisa keluar dari rasa kesepian.

Semua usaha kita untuk lari dari rasa kesepian sebenarnya secara mendasar bercacat/tidak tepat karena kita tidak mengerti sifat alamiah dari rasa kesepian itu sendiri. Ada sesuatu yang indah dalam kesepian Anda. Dan ketika Anda melihatnya, ketika Anda memahaminya, lalu belajar untuk bersenang-senang dan bersuka ria di dalamnya, itulah saat dimana ada sesuatu yang berubah di dalam diri Anda. Ketika rasa kesepian Anda menjadi rasa kesendirian – itulah kebebasan! Itulah saat dimana Anda benar-benar bisa mulai untuk mencintai.




Fragmentasi dan pencarian untuk keutuhan(diri)
-----------------------------------------------------------------------
*Fragmentasi : rasa seolah diri terpecah menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Osho – hal penting pertama adalah untuk mengakui kesendirian. Kesendirian adalah sesuatu yang alami pada diri kita; kita tidak akan pernah bisa untuk tidak sendiri. Kita lahir di dunia ini sendiri, dan kita meninggalkannya sendiri. Dan diantaranya pun, kita juga sendiri – tetapi kita dengan penuh kebingungan bersembunyi dari nya, lari dari nya, berpura-pura seolah-olah itu tidak benar.

Saya ingat pernah menganalisa sebuah lampiran test dalam sebuah kelas psikologi. Tes ini ditujukan untuk mengetahui seberapa merasa aman kah kita akan hubungan-hubungan kita. Salah satu pertanyaannya adalah, “Apakah kamu pernah merasa seolah-olah ingin untuk menjadi satu dengan orang lain secara keseluruhan?”

Ruang kelas pun langsung penuh dengan gelak tawa yang canggung dan ragu-ragu karena pertanyaan itu. “Betapa tak masuk akalnya!” komentar mereka. Tetapi aku diam saja. Sebuah kenangan masa lalu menghantamku, dan aku ingat aku merasakan kesepian begitu mendalam seperti itu, satu kali, dulu sekali. Atau mungkin rasa itu tidak pernah benar-benar meninggalkanku – rasa pengasingan yang sangat mendalam yang membuat satu-satunya jalan keluar darinya adalah dengan meleleh dan menjadi satu dengan orang lain.

Merasa begitu terpisah dari yang lain di tengah-tengah kerumunan orang yang makan siang, merasa sendiri ketika sedang duduk berdekatan dengan pacar; selalu melihat kehidupan hanya dari luarnya saja, seolah-olah kita tidak memiliki kendali akan hidup kita. Aku ingat saat itu aku melirik ke sekeliling pada murid-murid ku. Tampang pada wajah mereka – tampaknya banyak yang merasakan hal yang sama.

Rasa pengasingan ini adalah sebuah dilema universal dari eksistensi seorang manusia – tidak pernah merasa tentram, tidak pernah merasa sedang berada di ‘rumah’. Ini mendorong hampir semua yang kita lakukan. Rasa kesepian dan keterpisahan adalah sebuah bagian dari sifat intrinsik dan permanen dari ego kita.

Pada ajaran-ajaran non-duality, inti dari banyak agama dan filosofi, pesan yang disampaikan sederhana – kita adalah bagian dari sesuatu yang tak terhingga, selalu ada, kehidupan abadi Yang Esa. Kita semua terikat dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
*non-duality : bahwa semua yang ada dalam hidup ini berasal dari satu sumber, satu kekuatan. Bahwa semua nya hanya berbeda secara wujud, tetapi pada dasarnya semua adalah satu hal yang sama. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.(sebenarnya ajaran Buddha sih)

Ego, kalau begitu, adalah ilusi universal, rasa ke-“aku” an yang berlebihan, dan akar dari semua kesendirian kita. Karena ketika kita merasa bahwa kita adalah sebuah “aku”, saat itu lah kita menciptakan “bukan-aku”, yang lain, apapun itu. Kita menjadi terpecah, terpisah dari eksistensi yang lain. Kita menjadi sebuah titik di dunia ini, yang dilupakan oleh Tuhan.

Rasa keterpisahan ini, bagi beberapa orang – mungkin orang-orang yang tidak bisa tertawa saat tes di ruang kelas psikologi – terasa nyata. Rasa ini muncul sebagai sebuah perasaan yang mendalam dan konstan akan suatu ketidakutuhan, ketidakcukupan.

Bagi yang lain, mereka yang tertawa saat tes, perasaan ini tidak secara sadar terasa. Mereka kekurangan sesuatu, tetapi mereka tidak tahu apa itu. Dan akhirnya mereka mencari, dan mengejar, dan berjuang, tetapi pada saat yang bersamaan mereka tidak tahu dengan apa rasa kekurangan itu mereka coba isi. Lebih banyak kepemilikan, lebih banyak hubungan dan seks, lebih banyak kedudukan, lebih banyak kekuasaan, lebih banyak pamor, lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak. Hampir semua dari usaha mereka berakar dari dorongan untuk keutuhan diri. Tetapi itu semua sia-sia – kita membuang energi kita kedalam sebuah jurang tak berdasar. Kenyataan bahwa kita mencoba mengisi kekurangan itu sendirilah yang menyebabkan kita merasa kurang.
.. (to be continued)
------------------
Post ini adalah terjemahan dari post yang sebelumnya, 
http://lokiarawarisan.blogspot.co.id/2014/08/loneliness-beginning-of-romance.html
dengan harapan agar semua pembaca bisa lebih memahami maksud dari post tersebut. Sumber aslinya didapat dari urbanmonk.net, yang sayangnya sudah ditutup karena kontrak website tersebut tidak diperpanjang oleh Albert, sang pemilik website.
Share: