Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Kehidupan dan pencarian maksud dari sesuatu yang tampak absurd

Bila kamu menemukan sesuatu yang menurutmu cukup merubah mindset atau pemikiranmu akan sesuatu di dalam dunia ini menjadi lebih baik, ga ada salahnya kamu mencoba menyebarkan sesuatu tersebut kepada orang lain. Semoga dia juga merasakan manfaatnya.

Motivasiku Menulis

Bermula dari pertanyaan seorang teman, menjadi sebuah jawaban bagiku untuk lebih memaknai dunia penulisan

read more

Merubah Kepribadian Demi Sesuatu

Karena untuk setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Berani dan mampukah kita mengorbankan kepribadian kita untuk sesuatu yang kita kejar? Menjadi orang lain.

read more

Redefining Beauty

Secantik apa Anda setelah membaca tulisan ini? Karena menurutku cantik itu relatif.

read more

Monday, 28 October 2019

Perempuan Seperti Apa yang Kau Cari? Part 2 : Mencari Diri Sendiri

       Dalam kelas Bahasa Jepang yang sedang kuikuti sekarang-sekarang ini, sebagai persiapan kerja, aku belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang orang Jepang, dan terkadang, tentang diri sendiri. Di dalam buku paket Bahasa Jepang yang digunakan, ada berbagai macam soal dan pertanyaan-pertanyaan keseharian, dan terkadang ada hal-hal menarik. Seperti, kalau ada uang tabungan, memangnya apa yang paling ingin dilakukan? Sampai sekarang, hadiah dari siapa yang paling dijaga sampe sekarang? Kalau anak pengen ngelakuin apa pun apa bakal dibolehkan? Dan yang ngga kalah menarik, tolong definisikan kepribadian diri sendiri dan kepribadian pasangan yang diinginkan!

       Well, pertanyaan-pertanyaan itu awalnya kedengeran sederhana, tapi begitu udah mulai dipikir tuh, kayak sampai 10 menit juga kadang belum dapet jawabannya. Ya, kalau jawaban normatif sih ada, tapi biasanya bukan jawaban sebenernya. Kalau mau dapet jawaban sebenernya, mesti dipikir lebih dalem lagi. Salah satu pertanyaan yang begitu akhirnya berhasil kutentukan aku merasa dapet banyak tenaga dan semangat baru dalam hidup adalah pertanyaan yang paling terakhir.

       Akhir-akhir ini, aku beberapa kali terpikir tentang calon pasangan yang kuinginkan. Dan makin lama dipikir dan dirunut, rasanya tetap saja bagaimanapun kriteria yang kutentukan, rasanya tidak akan pernah terasa cukup aman untuk dipilih sebagai seseorang untuk dinikahi. Masih tetap ada kekhawatiran apakah yakin kriteria ini sudah merupakan yang terbaik buatku? Gimana kalau dia berubah nantinya? Apakah aku pantes buat orang sebaik ini? Dst.

       Dan aku pun mengubah sudut pandangku. Aku inget dulu waktu suka main game online bahwa pasangan idealku adalah pasangan yang dalam kondisi apapun kami bisa saling melindungi dari serangan dunia luar. Punggung bertemu punggung, bersama menghadapi segala serangan luar. Yang pada makna lainnya adalah bahwa kami saling melindungi, mungkin melengkapi juga. Di titik mana aku lemah, di sana dia akan ada untuk membantu. Hingga pada akhirnya ini semua kembali kepada aku sendiri lemah dimana? Aku sendiri orang yang seperti apa? Dan tidak hanya berhenti disitu, alhamdulillahnya waktu sedang merunut kepribadian masing-masing dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jepang, aku mencoba mengambil jalan lain. Aku menambahkan slot kepribadian ketiga yang kuberi judul, Kepribadian di Masa Depan yang Diinginkan.

       Di sana, pertama kalinya (mungkin) aku membayangkan benar-benar bagaimana aku nantinya di masa depan. Akan jadi orang seperti apa? Karena seperti halnya juga dengan sebuah target pekerjaan atau karir besar yang bisa diturunkan menjadi sub-target yang lebih mudah dicapai, target kepribadian pun juga bisa diturunkan menjadi kepingan kepribadian lebih kecil yang lebih mudah untuk dicapai secara bertahap. Selain itu, mungkin saat ini aku memiliki beberapa kelemahan yang aku kurang merasa nyaman dengan diriku sendiri, tapi dengan memiliki rencana kepribadian jangka panjang, aku jadi lebih terorientasi pada bagaimana mengubah kelemahan itu menjadi seperti yang kuinginkan di masa depan, daripada kepikiran terus kenapa aku 'terlahir' dengan sifat itu. Karena kepribadian itu bukan sesuatu yang permanen. Dan hanya berpikir tanpa melakukan apapun tidak akan membantu banyak.

       Dalam pernikahan, kedua belah pihak perlu untuk saling mengenali kepribadian satu sama lain. Di satu sisi, hanya mengetahui kepribadian dari calon pasangan di saat ini terkadang bisa membuat kita menjadi seolah mudah ragu dan memilih untuk mundur. Sepertinya penilaian kita sudah penilaian terbaik. Tapi, sadarkah bahwa kondisi seseorang pada suatu waktu belum tentu berarti itu adalah kondisi final (steady state) yang tidak ingin diubah olehnya? Bisa jadi dia di masa depan memiliki impian ingin menjadi orang yang seperti A, bisa melakukan B, dan sebagainya. Mungkin jika kita mencoba bertanya tentang itu, dan mencoba mencari lebih dalam lagi apa usaha yang sudah dilakukan untuk mencapai hal-hal tersebut, hati kita akan menjadi lebih lapang dan bisa menerimanya. Mampu melihat dia secara lebih utuh, dan bisa mendukung apa yang ingin dia capai di masa depannya, termasuk mengingatkannya ketika ia melenceng dari 'kesepakatan' yang telah dia buat dengan dirinya dan telah dia sampaikan pada kita untuk meyakinkan kita bahwa dia adalah yang terbaik untuk kita. Mungkin, dengan begitu akan lebih mudah.

       Dan aku merasa bersyukur karena telah menjawab kepada diriku sendiri bahwa di masa depanku aku ingin menjadi orang seperti apa. Mungkin masih jauh. Mungkin sekarang masih banyak hal yang terasa aneh, mustahil untuk diubah, sangat tidak menyenangkan, mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai sesuatu yang membosankan, tapi karena aku sudah terbayang di masa depan aku nanti akan jadi seperti apa, rasa puas itu pun muncul saja. Bahwa aku yang nanti bukanlah yang sekarang. Hidup terus mengalir, jalan bisa berubah, sifat pun bukanlah hal yang saklek. Perubahan tentu tak mudah, tapi dengan sadar diri membuat catatan-catatan apa yang ingin diubah dalam diri dalam seminggu, sebulan, setahun, 5 tahun, dst. Dan menurunkannya kepada target-target kecil yang akan membantu mencapai itu, akhirnya hidup terasa lebih mudah untuk dijalani. Alhamdulillah.

Ya Allah, tunjukilah hamba-Mu ini kepribadian yang Engkau ridhoi, dan bantulah hamba untuk mencapai kepribadian tersebut. Aamiin.
Share:

Thursday, 15 August 2019

Perempuan Seperti Apa yang Kau Cari? Part 1 : Sebuah Pengantar

       Jepang hari ini lagi musimnya natsu yasumi. Atau, libur musim panas. Di sini ada 3x libur yang ditunggu-tunggu, panjangnya hampir 1 minggu (tergantung perusahaan). Ada natsu yasumi (libur musim panas) di bulan agustus, fuyu yasumi (libur musim dingin) di bulan desember/januari, dan golden week (rentetan hari dimana di sana ada banyak hari libur jadi seolah-olah satu minggu libur) di bulan mei. Seperti namanya, pada saat natsu yasumi, suhu biasanya lagi panas-panasnya. Tapi, untuk tahun ini, rasanya 2 minggu lalu lah puncak panas-panasnya musim panas. Kemarin dan hari ini bahkan lagi sering hujan. Katanya sih gara-gara ada typhoon (angin kencang) yang lewat, kayaknya cukup dekat dengan Nagoya.

Bayangin, satu minggu libur, mau ngapain?

       Awalnya aku mau cari-cari dojo kendo, mau mulai latihan lagi. Eh, penyakit mager udah keburu menyerang. Sial. Banyak wacana yang berhenti, tapi beberapa masih terus jalan kek beli robot yang bisa ngomong bahasa Jepang, dan wacana mau belajar IOT untuk persiapan kerjaan. Dua-duanya beli perlengkapannya dari Amazon, gampang banget desu yo (lho). Bisa langsung motong dari tabungan di debit, atau bisa juga bayar di konbini (convenience store, ex: seven eleven, family mart, lawson, dll). Hal-hal lainnya paling cari-cari HP dan SIM Card baru yang masih belum bisa karena kartu cash ku masih belum sampe.

       Tapi, ada hal lain yang aku baru sadarin. Sebetulnya di liburan ini aku ada sedikit kekeosan masalah diri sendiri. Hal-hal yang kulakukan untuk menutupi kebosanan, ataupun ketidakinginan untuk merasakan suatu perasaan. Dan sekarang ini, aku mulai mendekati titik kebenaran, ketika aku sudah agak berjarak dari aktivitas pengalih perhatian itu.

Aku sedang lari dari suatu kenyataan. Dari suatu perasaan.

       Tentang kebingungan akan onna no hito (perempuan) seperti apa yang mungkin sebenarnya akan kubutuhkan untuk menjalani kehidupan. Sebuah kebingungan. Yang semestinya tidak perlu sampai dibawa kepada hal-hal yang kurang perlu. Tapi, dari hal-hal pengalih perhatian itu sebagian ternyata menarik juga. Kemarin ada sempet baca Kimetsu no Yaiba, dan dari sana belajar keinginan untuk menjadi lebih kuat untuk orang lain. Aku harus bisa menjadi lebih kuat dalam berdisiplin, berani untuk melawan nafsu, dsb. Well, that's other things. Aku berencana untuk membuat tulisan tentang itu juga. Cuman balik lagi, tentang onna no hito ini, benar-benar meresahkan di dalam sana. Kebingungan antara cantik dengan baik. Antara nafsu dengan agama.

       Terakhir aku bikin serial tulisan yang bener-bener jalan (sebelumnya yang Ruang Ketidaksempurnaan), adalah tentang melupakan. Sekolah Melupakan. Yang berakhir pada sebuah kesimpulan bahwa pada akhirnya aku sadar ikatan rasa yang ingin kutambatkan itu muncul karena adanya suatu rasa yang selama ini tidak pernah aku rasakan pada orang lain sebelumnya. Tapi, bukan berarti bahwa rasa itu hanya akan bisa kudapat darinya lagi. Nggak kok, aku yakin aku akan bisa memupuk rasa itu bersama dengan orang lain lagi. Semoga. Ya, kesimpulannya aku berhasil melupakannya. Pretty unexpected, but, yeah well. Apa yang udah berlalu ya berlalu.


       Cuman aku dibalikkan pada sebuah kondisi yang seperti basecamp (?). Titik awal. Mungkin ada yang bilang ground zero juga. Jadi, donna onna no hito wa osagashi desu ka? Perempuan seperti apakah yang kucari? Aku baru sadar akan pertanyaan ini setelah semalem kami anak-anak seasrama ngobrolin tentang taaruf, tentang calon. Ternyata pada tertarik bahas itu juga di sini, heheh.

Ya, mungkin aku akan membuat beberapa catatan pribadi tentang itu,

donna onna no hito wa osagashi desu ka?

bismillah..
Asrama CBS Tekno, Nagoya.
Share:

Wednesday, 7 August 2019

Lelahkah Penyebab Jarang Menulis?

       Somehow, sejak aku sampai di Jepang sekitar sebulan lalu, aku jarang banget menulis. Banyak hal sih yang terjadi, sebagian besar adalah bagian dari proses aku adaptasi dengan pola hidup dan segala perubahan yang ada. Mungkin, sampai saat ini aku sudah sedikit lebih menemukan titik kestabilan.

       Hanya, kenapa jarang menulis? Ya, kurasa tinggal disini memiliki pace yang cukup tinggi. Seringkali aku baru bisa tidur lewat di atas jam 12, dan baru bangun mungkin sekitar jam 6. Yang tentunya aku tidak inginkan, tapi agar bisa membentuk pola belajar yang cocok, sampai saat ini baru bisa seperti itu. 

       Sedikit banyak aku bersyukur karena aku mendapatkan sebuah fokus yang tidak terlalu berat, tapi masih membuatku tergerak agar mau belajar mandiri dan memasang target-target pribadi. Meskipun, di luar itu ada faktor-faktor lain seperti kemonotonan makanan sehari-hari dikarenakan masakan sendiri yang gitu-gitu aja agak membuat ada yang terasa seperti hilang. Nggak bisa lagi mau makan geprek tinggal jalan ke ganyang. Nggak bisa lagi mau anget-anget bau enak dan rasanya kenyel tinggal ke bakso, di ganyang juga. Mau makan kenyang bareng temen malem-malem tinggal ke 86. 

Semua tinggal masa lalu.

       Disini, mencoba mengatur tatanan hidup yang baru. Mencari cara untuk bisa lebih fleksibel satu dengan yang lain, agar tetep bisa ibadah bareng, belajar kondusif, dan tetep bisa ngurus diri sendiri. Hanya, mungkin agak sedikit lelah. Chotto tsukaremashita ‘sedikit melelahkan’ (dalam bahasa Jepang).

       Selain itu, mungkin aku ada beberapa hal yang mesti dengan baik kusimpan, dan kurang kusampaikan ke yang lain agar tidak melukai perasaan yang lain. Tapi seringkali masih terus menyenangkan berdiskusi dengan teman-teman yang lain. Namun, mungkin boleh dibilang agak datar ya? Emosi ku rata-rata terasa lelah, kadang agak terganggu dengan satu hal, dengan puncaknya mungkin saat bercanda dan tertawa bersama yang lain. 

       Mungkin itu bisa menjawab kenapa jarang menulis. Karena kurang ada emosi yang sebegitu mendorongnya untuk menulis, dan adanya rasa lelah yang sedikit menggelayuti punggung dan tangan ini saat tangan mulai mengetik. Mata pun agak tertarik ke bawah mengajak untuk menggelap bersama. 

Ah, sudah akan masuk jam pelajaran lagi. C ya later.

note : semoga tetap istiqomah dalam kebaikan, gaes :)
disini susah. harus dari dalem sendiri semangat. trus ngajak temen2 utk semangat jugak. trus baru jalan. yaa seenggaknya berusaha mengondusifkan temen-temen sendiri. Semoga nanti Allah mudahkan. Aamiin.
Share:

Wednesday, 17 July 2019

Sebuah Mimpi Flashback tentang Komitmen : Dimana Mulutmu?

       Pagi ini aku bermimpi, back to school, back in business. Sekolah yang telah mengubahku 180 derajat. Menjadi seseorang yang benar-benar berbeda, melalui proses MOS nya, dan pelatihan menjadi panitia MOS. Dan tadi aku bermimpi tentang berselah setahun setelah kami selesai menjadi panitia MOS.

        Aku gatau gimana, tapi setting tempatnya bukan di Smala, tapi di Spensix. Sekolah ini kecil kalau dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Hanya ada satu lapangan yang bisa digunakan untuk main bola, atau acara-acara. Walaupun di sampingnya ada ruangan beratap yang menghubungkan antara mushola dan ruang guru. Selain itu, tempat ini tinggi. Ada tiga tingkat yang diisi oleh kelas-kelas, laboratorium, perpustakaan, dan di sela-sela kelas biasanya akan ada kantin yang menjajakan makanan yang benar-benar enak. Kukira tempat ini muncul lagi dalam mimpiku karena baru saja beberapa minggu yang lalu aku mengunjunginya.

       Di mimpi itu, aku sedang berada di salah satu pojok dari lapangan. Sedang ngobrol berdua sama seorang temen, ga jelas siapa. Kayak bawa proposal/laporan gitu, kami ngobrol, askar apa ya. Tiba-tiba, kami disapa sama Ketua OSIS Smala yang baru, dia kayak baru keluar dari rapat gitu. Bareng sama wakilnya, cewe berkerudung. Dia nyapa, dan kami saling tos.
Terus mereka jalan ke ujung seberang yang satunya, deketnya labkom yang dulu. Disana ada beberapa anak yang lagi kek berantem-berantem bercanda gak jelas. Kek pukul-pukulan, ketawa-ketawa, gitu lah. Lima (atau empat ya?) orang. Baju mereka acak-acakan, bagian bawa bajunya udah keluar-keluar dari celana, ga rapi banget lah. Padahal sebagian besar aku kenal. Ada Toni P8, Amun IPS, Tekung Xentury, sama Renan IPS kalo ga salah. 

       Terus mereka disamperin lah sama ketos dan wakilnya ini. Entah kek dibilang mau ada acara, harap agak kondusif dikit. Atau diajak buat ikut acara bareng sama siswa yang lain, atau gimana. Sampe mereka nurunin standar, ya udah lah ga usah ikut acara, tapi mbok ya tolong jangan di situ kalau bercanda-bercanda yang gak bagus dicontoh gitu. Penampilan awut-awutan, dsb. Awalnya ngobrol baik2, tapi lama-lama sampe harus disemprot pake aer selang sama si waketos yang cewe ini. Kek mau ngusir banget. Tapi masih juga bertahan di sana mereka. Sampe akhirnya pasangan ketos waketos ini pasrah, ah yaudahlah suka-suka mereka.

       Aku yang ngeliat ini pun panas. Hedeh, ini perasaan mereka dulu panitia MOS yang suka ngajarin tepat waktu, atribut harus lengkap, pakaian harus rapi, penjaga nilai banget lah. Kok malah jadi kacau gini. Somehow, di mimpi aku marah banget. Langsung teriak kenceng. 

“WOOOII!”

Langsung jalan kenceng ke mereka. Sambil ngelempar proposal yang udah kulipet jadi silinder ke arah mereka. Gak kena.

“Kalian ngapain sik!”

Begitu sampe di depan mereka aku langsung nendang perut si Rio saumun yang waktu itu posisinya lagi geletakan di bawah. Nendang pelan, trus ngangkat badannya sambil bilang,

“Sorry mun.”

(Maksudnya nendang cuman buat dramatisir aja kok, gak beneran nendang kenceng.)

Terus kuceramahin.

Kalian ini ya, gak lihat apa ini panitia lagi pengen menenangkan kondisi. Lagi pengen mau ngadain acara. Mereka lagi cari orang buat hadir di acara, termasuk ngajakin kalian. Kalian malah gini aja, ketawa-ketawa bercanda, udah bantuin belom?!?

Aku tau sekarang itu mungkin baru sekitar setahun setelah kita jadi panitia MOS (di mimpi sih lagi kelas 3 SMA). Tapi masak kalian udah gak kuat memberikan contoh yang baik sih?!?
Woi, tolong lah. Dimana mulut kalian?!?!?!

(sambil teriak mataku sampai basah, hampir nangis. Dan kayaknya ada di antara mereka yang hampir nangis juga.)

 — terbangun.

Di sholat Isya’ kemarin, imam sholat kami baru aja baca surat As-Shaff ayat 1–4. Dimana, ayat 2 nya berisikan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lima taqụlụna mā lā taf’alụn 

Arti: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”


       Dan malemnya, aku mimpi, eh well pagi sih, tentang ini. Jadi inget banyak hal, cuman aku jadi sadar untuk ingat terus akan komitmen, melakukan apa yang diucapkan, walaupun berat.

       Ketika aku teriak mulut kalian itu aku hampir nangis. Karena aku tahu juga beratnya beban yang ditimpakan ketika aku menjadi seorang panitia MOS, bahkan selepas itu. Ada sebuah frasa yang kudapat selama masa pelatihan panitia MOS tersebut,

       Seorang pendidik itu tidak akan pernah berhenti dilihat oleh yang dididik. Kalian akan terus menjadi tolak ukur bagi yang kalian didik, maka dari itu, teruslah jaga kehormatan dan wibawa seorang pendidik tersebut. Kira-kira begitu.

       Aku tahu, berat untuk terus berusaha rapih. Memberikan contoh yang baik, all and all. Menjadi pribadi yang baik. But, guys, don’t give up, please. Untuk masa depan adik-adik kita yang lebih baik.

Catch ya later.

Nagoya, Jepang
17 Juli 2019
Share:

Sunday, 14 July 2019

Menjadi Kreatif atau Berbeda?

       Sebagai seorang yang terkadang memiliki ledakan gagasan-gagasan, tentu memberikan penghargaan terhadap gagasan sendiri merupakan sebuah tantangan tersendiri. Seringkali jika orang lain menganggap gagasan kita aneh, konyol, geje, jayus, gak relatable, terlalu jauh, gak feasible, ga memungkinkan, dsb, seorang ideator sepertiku mungkin akan merasa gak pede. Sehingga kedepannya kita mungkin akan lebih ragu-ragu untuk mengungkapkan pikiran-pikiran kita, dan boleh jadi kitalah yang akan menjadi kritik paling keras terhadap gagasan-gagasan kita. Dan kita pun akhirnya berhenti berpikir dan menggagas ide.

       Aku bersyukur aku pernah belajar tentang kreativitas dari sebuah lembaga pelatihan kreativitas yang kek lagi promo di SMA-ku di Surabaya. Sayangnya, aku lupa nama lembaganya apa, padahal dia udah ngebantu mengubah hidupku banget dengan mengajarkan konsep kreativitas. Well, aku sendiri pernah menggunakan metode yang mereka gunakan pada sebuah seminar desain untuk memahamkan kepada para peserta bahwa kita jangan terkaburkan oleh definisi dari kreativitas di pasaran. Bahwa kreatif itu idenya gak dipikirkan oleh orang lain sama sekali, kreatif itu artistik, kreatif itu bisa memecahkan semua masalah. Bukan, boy. Yang kupelajari, menjadi kreatif itu berarti menjadi orisinal.

Sekarang, apa maksudnya kata-kata tersebut?

       Ya, dalam kelas pelatihan kreativitas waktu itu, peserta yang mendapatkan hadiah adalah mereka yang memilih menggambar sesuatu yang menurut mereka itu pengen mereka gambar, lalu gak ada peserta lain di seminar yang menggambar ide itu. Makin sedikit yang memiliki ide itu, berarti dia makin orisinal, bener-bener ide dia gitu loh. Dipikir, tapi gak mengikuti arus pemikiran pasaran atau orang-orang pada umumnya.

       Dari kelas itu aku sangat mendapatkan pelajaran tentang bahwa kamu dengan ide mu itu sesuatu yang luar biasa. Bukan sebuah kebutuhan untuk mencoba menggunakan cara kreatif orang lain, atau mencoba ide yang mirip dengan ide orang lain agar bisa jadi kreatif. Itu malah melenceng dari makna kreatif itu sendiri. Kreatif adalah sebuah jalan yang kamu tempuh untuk mengekspresikan dirimu sendiri, dan kamu mengambil jalan itu sendiri tanpa berpikir apakah orang lain akan ada yang mengikuti jalan ini atau tidak. Kan kadang kita berpikir gini,
Wah, kenapa ya di jalan ini aku yang paling depan? Di depanku gak ada siapa-siapa, jangan-jangan aku salah jalan lagi.

       Santai, mabro. Memang pada dasarnya jalan kreatif adalah jalan yang kita rakit, kita pahat, kita sketsakan dengan cara kita sendiri. There’s no quick simple creative way for you that’s made from someone else’s creative way, it just doesn’t work like that. Your creative path is yours to walk into, and yours to pave the path. Kamu sendiri yang bikin jalan itu, dan kamu yang melewatinya.
Tapi, memang, aku kadang terpikir dengan sedikit gelisah. Tentang kreativitas, diri atau gagasan-gagasan yang seperti salah zaman. Inget aja contohnya tentang galileo, beride tentang alam semesta dan berujung dipenjarakan. Atau Einstein dan e sama dengan emse kuadrat-nya. Atau Rasulullah ketika bermimpi bahwa Islam akan menaklukkan Persia dan Roma, dan Konstantinopel. Sebuah pandangan-pandangan yang unik, orisinal, tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sebelumnya, tapi hampir tidak ada orang yang paham. Seriously. Gak ada yang bisa memahami semua pernyataan mereka-mereka itu, setidaknya saat itu. Tapi gagasan-gagasan itu baru mulai terbukakan jalannya setelah beliau-beliau itu wafat. Penerusnya mulai terstimulus dengan ide tersebut, mulai menelusuri bagaimana membuat gagasan tersebut menjadi kenyataan, dan berpegang teguh percaya sampai mati bahwa suatu saat gagasan itu akan menjadi kenyataan, atau gagal sama sekali. But, it doesn’t matter. Gagasan itu mungkin tidak sepenuhnya logis, realistis, mudah untuk dijadikan kenyataan, tapi gagasan itu memberikan arti pada kehidupan setidaknya seseorang, dua orang, hingga jutaan manusia. Seperti mungkin Elon Musk sekarang? Eh, lagi skandal ya, yang kemarin-kemarin deh. Gagasan untuk membuat perumahan di Mars. Coba liat disini deh,

https://www.youtube.com/watch?v=b0ldMakvcyw
       Oke, tapi aku gak cuman akan bahas tentang gagasan kreatif yang bisa bertahan. Tapi, juga tentang diri kreatif dengan segala fisik ataupun non-fisiknya. Cuman, mungkin akan berlanjut di part 2 yaa, udah terlanjur terdistraksi hehe :D
Share: