Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Sunday, 15 October 2017

"Nggak Bisa " —  part 2.1 : Penanaman Awal Idealisme

.. continued from “Nggak Bisa”  —  part 1

       Kesadaran akan hal-hal tersebut telah membuat aku bisa melihat secara lebih jelas kejadian-kejadian terkait hal ini dalam diri sendiri, maupun orang lain. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seseorang yang berusaha untuk menjadi seorang idealist but realistic person, termasuk aku.

"Is it possible to become a person like that? How’s that possible?"

Well, before we go further into how we can become an idealist but still realistic person, I think I'll try to tell you a stories of my life about one of my always-kept-idealism.

       Aku terlahir dalam keluarga Muslim yang sangat perhatian dengan pendidikan agama. Hal ini ditunjukkan salah satunya lewat dimasukkannya aku dan kakakku ke sebuah pondok yang berjarak sekitar 1 hari naik bus antarkota. Pondok ini banyak memberikan kesan yang luar biasa. Maklum, tempatnya ndeso juga sih, beda sama kota asal hehe. Tapi, gak semua tentang desa saja yang berkesan sih, hal-hal lain selain itu juga ada yang berkesan. Salah satunya tentang tradisi pondok terkait penjagaan jarak dan komunikasi antara santri dan santri putri.

       Pertama, bangunan dan tempat shalat untuk santri putra berbeda dengan untuk santri putri. Jaraknya sekitar 100 m. Jarak ini membuat sangat jarang terjadi kasus dimana kami bisa bertemu dan bercengkerama di luar kegiatan sekolah atau acara-acara gabungan, seperti misal bermain bareng atau ngobrol-ngobrol. Yang laki-laki mainnya dengan sesama ngelakuin sesuatu yang sometimes pretty adventurous, like throwing cutter to a banana tree, making bows and becoming an archer, and some other cool experiments :). Meski biasanya kami santri kalau mau main ayun-ayunan juga ke daerah depan dari tempat santri putri sih(aku inget soalnya pernah ada kejadian menarik di sana). Sedangkan yang santri putri, ya gatau.

       Entah rasanya sudah menjadi tradisi turun temurun atau gimana, tapi suasana 'permusuhan' antara santri putra dan putri di pondok kami itu sangat terasa. Ini memuncak saat sekitar kami berada di kelas 4. Biasanya kalau lagi sekolah, kami berada pada satu kelas, biasanya nanti santri putra di satu sisi dan santri putri di sisi lain. Awalnya hari-hari berjalan seperti biasa, sampai suatu ketika karena perseteruan kecil yang makin lama makin memuncak, santri putri berbuat tidak menyenangkan -_-. Saat itu sedang waktu istirahat, tiba-tiba kelas ditutup oleh santri putri karena mereka tidak senang dengan kehadiran kami, which is.. annoying -_- . Waktu itu kami tidak terima, kami meminta kelas dibuka, untung dibuka. Usai itu, kami pun merencanakan pembalasan.

       Sepulang sekolah kami pun berkumpul dan mencari ide, sampai akhirnya diputuskan agar kami mempelajari sebuah sandi (yang gak tau dapetnya dari mana) untuk menyerang santri putri. Tentu, kode-kode itu hanya santri putra yang tahu. Esoknya saat kelas, kami membuka salinan huruf dan kode yang tersedia pada sebuah kertas. Dari sana, kami buat kalimat-kalimat yang bersifat menyerang pada secarik kertas(yang tentunya tidak akan pernah diketahui oleh santri putri apa maksudnya). Kata-kata macam apa ya, aku lupa sih, tapi kayanya sih ngejek gitu. Lalu, kami lipat kertasnya dan kami lempar ke para santri putri. Sampai puncaknya, ternyata mereka mengunci kami lagi saat istirahat .. -_-. Kami pun menyerang tanpa ampun. Lewat jendela, lewat bawah pintu, kertas-kertas beterbangan. 'Peperangan' asik dan seru itu berlangsung beberapa kali. Sampai seingetku akhirnya guru pun turun tangan dan menenangkan. Phew.

       Seusai peperangan itu, ternyata ketegangan tidak menurun. Saking tegangnya, rasanya jika dalam satu ruangan ada banyak santri putri hanya ada 1 santri putra, sudah jelas. Akan muncul 'tenaga gaib' ketidaknyamanan suasana yang akan membuat santri putra ini tidak tahan di kelas hingga akhirnya memilih untuk hengkang dari kelas, atau sebaliknya. Jadi, mulai dari sekadar berada dengan lawan jenis dalam satu ruangan, apalagi sampai berdekat-dekatan, itu sudah sangat terkondisikan dalam pesantrenku. Semenjak itu pula, dalam diriku mulai muncul sebuah bibit penjagaan jarak dengan lawan jenis.

.. continued in “Nggak Bisa”  —  part 2.2
Share:

Tuesday, 10 October 2017

Mimpi

Baru-baru ini aku bermimpi. Mimpi yang membingungkan. Tiga kali berturut-turut semua memiliki kesamaan tema dan membingungkan.

Saat mimpi mu tak memihak, mungkin kamu masih merasa tenang.

Tapi saat ia menjadi memihak pada satu sisi, pada satu nama? Bukankah kamu akan bingung?
Share:

Friday, 22 September 2017

“Nggak Bisa”  —  part 1 : Asumsi dan Idealisme

       "Idealisme." Saat kamu punya idealisme, secara tidak langsung kamu akan mempertahankan keberadaan idealisme itu. Dimulai dari diri sendiri, lalu mungkin kamu akan mencoba untuk beranggapan bahwa dunia di sekitarmu juga akan bisa menerima idealisme-mu, sesuatu yang kamu anggap ideal dan seharusnya, tersebut. 

       "Asumsi." Banyaknya hal yang tidak kita ketahui seringkali membuat kita mulai untuk berasumsi. Asumsi muncul untuk menjawab kebutuhan dan keinginan kita agar sesuatu itu seperti harapan. Itulah sebabnya asumsi seringkali sangat subjektif dan jauh dari kenyataan. 

       Asumsi memiliki hubungan dekat dengan subjektifitas, yang berhubungan dengan idealisme seseorang. Idealisme membantu membentuk kerangka berpikir seseorang dalam memandang sesuatu. Ia berkaitan erat dengan nilai, apa yang kita anggap benar ataupun indah. Maka saat kita menilai sesuatu secara subjektif, kita akan melakukan sebuah perbandingan antara apa yang ada dengan nilai-nilai yang kita miliki. Apa yang kita anggap ideal.

       Asumsi sendiri adalah suatu proses menilai sesuatu yang tidak kita ketahui, memberikan sebuah ‘kondisi awal’ yang kemudian akan diiterasikan dan diperbaiki setiap kali ia menghadapi kenyataan. Kita berasumsi bahwa orang lain itu bisa menerima idealisme kita dan mereka akan menerapkan idealisme kita,

       Asumsi bahwa orang lain itu shalatnya tepat waktu, orang lain itu masih shalat isya’ lah kalau semisal udah pulang dari acara malem, orang lain itu masih beragama, orang lain itu masih percaya Tuhan. 

       Asumsi-asumsi ini kita buat sebagai bentuk melindungi diri kita sendiri dari ketidakidealan kenyataan. Karena jika sesuatu menjadi sangat jauh dari ideal, maka sesuatu dalam diri kita akan merasa tidak nyaman, berontak, atau bahkan hancur. Keberadaan asumsi ini akan membantu membuat kita merasa nyaman dan ‘tidak hancur’ ataupun kecewa saat kita tidak mengetahui kenyataan. 

       Kesadaran akan hal-hal tersebut telah membuat aku bisa melihat secara lebih jelas kejadian-kejadian terkait hal ini dalam diri sendiri, maupun orang lain. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seseorang yang berusaha untuk menjadi seorang idealist but realistic person, termasuk aku.

"Is it possible to become a person like that? How’s that possible?"

.. continued in “Nggak Bisa”  —  part 2
Share:

Monday, 11 September 2017

Satu Nafas Panjang

       Kata-kata ini kutemukan dari seorang pemateri dalam sebuah acara di Depok. Aku harus berangkat dari Bandung ke Depok demi memenuhi semangat menggebu untuk mendapatkan materi Karya dari dua tokoh idolaku, Dalu Nuzlul Kirom dan Ricky Elson. Aku baru saja menjadi kepala divisi di organisasiku, divisi Karya. Wajar, semangat itu masih membara. Bandung-Depok, tak masalah. Seperti biasa, aku membuat catatan dari keseluruhan rangkaian acara hari itu. Di akhir aku juga bertemu dengan teman dari Surabaya. But, well, that’s not my point of this writing.

       Satu frasa yang sangat berkesan dari hari itu. Kata-kata ini diucapkan oleh Mas Dalu saat ia bercerita tentang bagaimana ia memulai gerakan yang ia buat, yakni Gerakan Melukis Harapan. Sebuah gerakan yang secara nyata telah memberikan harapan bagi siapapun yang mencarinya, bahwa sebuah daerah yang awalnya adalah prostitute and gives a very bad perception about it, berubah menjadi sebuah daerah produsen oleh-oleh, kampung wisata. Luar biasa :)

       Satu frasa itu adalah “Nafas Panjang”. Beliau menganalogikan apa yang beliau lakukan sebagai hal itu. Momen saat ia mengambil satu langkah besar perubahan dalam hidup, bukan sekadar hidupnya, tetapi juga hidup orang lain, adalah momen di saat beliau menghirup sebuah nafas panjang. Sebuah nafas yang akan sangat lama ia tarik dan sangat lama pula untuk ia hembuskan. Saat yang diawali dengan pengambilan bekal yang panjang dan penggunaan semua sumber daya yang juga tidak sebentar. 

       Menarik nafas panjang juga biasanya merupakan sebuah cara yang biasa digunakan untuk mencari ketenangan dalam hidup, seperti pada meditasi, atau olahraga. Satu per satu nafas panjang dihirup, dan dilepaskan. Hingga pada akhirnya ia mencapai satu titik konstan waktu nafas dan ketenangan yang tak tergoyahkan. Mungkin, ini pula yang kucari. Sebuah jawaban akan keresahan yang selalu terjadi pada diri saat melihat orang lain, lalu membuatku merefleksikan dengan diri sendiri.

       Pengalaman-pengalaman yang telah kudapatkan selama ini. Amanah dan jabatan tahunan, usaha mengikuti lomba, soft-skill yang diasah, kursus, bimbingan dari mentor dan orang-orang khusus. Semua nafas-nafas pendek itu akan menjadi sebuah bekal untuk satu nafas yang lebih bermakna pada hidup. Sebuah nafas yang ingin diambil untuk mencari ketenangan akan hidup.

       Mohon do’a nya. :)
Share:

Sunday, 6 August 2017

Ada Hati yang Harus Dijaga - Part 5 (Extended Final)

Bagian ini adalah bagian yang (almost) terlupakan. Bagian untuk menjawab sebuah pertanyaan,

"Hati siapa yang harus dijaga, Haw?"

       Aku sudah pernah terpikir tentang pertanyaan ini sejak jauh-jauh hari. Sejak tulisan tentang perceraian kukisahkan, aku sudah terpikir untuk berhati-hati dalam menjaga hati. Eh, lagi-lagi, kemarin diingetin umi tentang kondisi anak muda yang suka pacaran jaman sekarang. Putus, yang satu pacaran lagi, eh ternyata mantannya gagal move on. Sampe yang satu nikah juga masih aja si gagal move on ini kepikiran, kan sakit yak rasanya. Mending kalau dipendem, yang sulit kalau jadi ngegangguin hubungan mereka, curi-curi kesempatan waktu rumah tangga mereka lagi retak misalnya. Hmm.

Dari sekilas cerita itu tentu ada di antara kalian yang bisa menduga, hati siapa yang harus dijaga.
Atau.. belum cukup jelas?
Baiklah, akan kujelaskan. Sedikit mengutip kembali dari tulisan tentang perceraian tadi,

       "We are the people who think that marriage is much better than having a temporary boyfriend or girlfriend. It gives us more time to chat with friends, it doesn't distract us from our top priority mission which is studying, it removes a whole lot probability of problems which may arise by having one, or maybe like me, it makes me appreciate my future wife even more. I need someone who put being with me in her priority, so the one thing I should never do is to hurt her intentionally(regardless of the traits or qualities that she has). Especially, comparing her with another woman, particularly, a woman from my past, or even worse(imaginary women, or pixelated women, if you know what I mean)."

       Yak, kukira di situ sudah cukup jelas disebutkan. Bahwa satu hati, selain hati ortu tentunya, satu hati yang harus kujaga untuk masa depan nanti dan harus kumulai dari sekarang adalah hati-nya. Hati dia yang akan menjadi pendampingku, yang akan mengikat dengan perjanjian yang agung, yang akan diserang badai bahtera rumah tangga bersama, yang akan paling mengerti masa lalu, kini, dan masa depanku. Dia yang berusaha menjaga hatinya demi menjaga hati calon pendampingnya juga di masa depan. Seperti aku.

       Sederhana saja, jangan sampai aku membuat hati-mu berkompetisi dengan hati lain, nama lain, baik di masa lalu maupun di masa itu. Aku (berdo'a -- karena ini teramat sangat berat, dan aku sangat yakin aku bukanlah manusia yang sempurna) agar hati ini terkunci dengan baik dan hanya benar-benar terbuka saat ia bertemu dengan kuncinya yang sempurna. Yang berani mengikat perjanjian suci sehidup semati.

       Yakinlah kawanku, rasanya sakit saat engkau memberikan hatimu kepada seseorang, tetapi ia tak menganggapmu melakukannya. Makan tak sedap, tidur tak tenang, well itu jika cintamu kepada sesama manusia terlalu berlebihan sih. Tapi, yakinlah bahwa setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Saat kamu menyimpan hatimu untuk hati dia yang akan bertemu di ujung perjalanan kesabaran ini, ia akan menjadi kunci yang secara sempurna membuka hatimu. *Click* Kelegaan luar biasa akan menjalarimu, seolah kamu adalah musafir kehausan yang dengan setetes air saja sudah seperti merasa berada di tengah derasnya guyuran air terjun. Kenapa? Karena kalian cocok, satu sama lain, dalam semua aspek.

Maka dari itu, kembali lagi, kepada para penjaga hati di jalan kesabaran. Saya meminta do'a, sekaligus mengajak kalian untuk becermin lagi. Perhatikan hatimu, satukan dulu cintamu hanya kepada Sang Pencipta Cinta, yang dengan itu ia akan menyatukan hatimu dengan hati yang terbaik. Aamiin.
Share: