Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Thursday, 29 October 2015

Tentang Dia

Okay,
So, I think, we need to talk, Haw.
About what? 
Her.

Mm? What's it?
Recently, I just realized what's the real cause for this obession of ours. Can you guess what?
Seriously? Wow, well yeah actually that's a pretty serious matters for me. I mean, the last time I'm obsessed with a girl, it feels like I'm pretty much putting myself on a distance from her. So, you've discovered what the cause was?

Well, from that statement you made, I can clearly see what's happening. What we were doing was really putting ourselves at a distance from her. We see her as something which is fit to fill our emptiness, but we aren't really thinking about how she felt. We only see her that way, as something that fills our emptiness.
Whut what? How come that's your conclusion? I still did talk to her sometimes, y' know?
Yes, yes. We did it together, remember? How funny of you. But from this experience of ours, I think that we're only looking at her as a profile, as a figure to be always looked upon. Not as a human who might want to be friends with us. We put her at a distant range from us. We don't let ourselves get closer to her. We don't let ourselves see the human-ish side of her. We didn't see her flaws. I think that's why we're so obsessed.
So you think we actually need to get closer to her to stop being obsessed with her?
I dunno, but that's my point actually. We need to see her when she's in a good state, and when she's in a bad state. We need to understand more about her from a human perspective. A human who needs social contacts, friends, supports. We shouldn't have seen her as someone who's already complete, who doesn't need us at all. She might need us, you know? She isn't flawless. She did sometimes make mistakes, and sometimes she needs someone who understand and give her the support she needs.
You say that as if you've done that before, bro.
No, no. This's just another form of my regret for letting our last 'something' friendship turns into a desperate guy and her crush figure.
So you think that what we should've done is just forget that she's our crush, and instead we come to the sea of her life, and start swimming, and diving there? Rather than just seeing that ocean of hers from the sideroad?
Yeah, I think that's what I mean. We need to come close to her as someone who wants to help her by her side. I think that's much more gentle than just seeing from afar, you know?
But it's just that I think I'm not that useful enough for her, bro :( . I never thought that I'll be someone good enough to be by her side. I was still under that nightmare that I might hurt her later on if I were to get close to her. 

Yes, I can see what we're afraid of. But don't you think that life's just too short to let something which hasn't happened yet to overwhelm us?
Yeah, but is it okay for you to do something for other people? I mean, what'll we get from doing something for other people? For her?
Well, we'll surely get closer to her. We're gonna be able to see her right from her side, when she's taking a decision, or when she get scolded by her seniors(huehehe). I just don't like it, you know, when we like someone and then we just sit back and watch her struggling. It's enough. I want us to be real in helping her. 
So, I should try to get closer to her circle in order to support her from some other side? Instead of just being someone who's far of her reach?
Yep.
Without her knowing?
That's better.
Should we talk it out to our parents?
Yes. We need to have a more objective opinion.

Okay then, it's settled.
Yeah :)

See you, 'her'.

Haw2  
 -----------------
Karena, in the end, menurutku ini kembali kepada whether we're a gentleman or not.
Share:

The Importance of Taking Action

        Beberapa hari belakangan ini, aku belajar beberapa hal dari buku Dale Carnegie & Associates, Overcoming Worry and Stress. Salah satu ide/konsep yang aku dapatkan dan menurutku menarik, sekaligus bisa langsung diimplementasikan adalah mengenai Taking Action.

Teman yang baik untuk seorang pencemas, like me

        Dalam hidup ini, kita emang sering banget berhadapan ama kecemasan dan ketakutan akan ketidakberhasilan, kekecewaan yang mungkin akan kita hadapi, and so forth. Sebenarnya nggak cuman itu aja, Life has got so much to offer. Bahkan, aku aja pernah, habis dapet suatu keberhasilan malah jadi bingung dan gatau kenapa, cemas. Aku gak tau harus kuapain keberhasilan itu, bingung lah pokoknya. Tapi ya intinya, kecemasan itu akan sangat menguras energi kita, baik secara fisik, ataupun mental kek cem cem kepikiran terus. Apa sih yang harus dilakuin untuk bisa mengatasi, walaupun sedikit, kecemasan itu?

        Di buku ini, diajarkan suatu konsep: mengambil suatu tindakan. Tentunya, pertama analisis fakta-fakta tentang apa yang kita cemaskan tersebut, lalu kedua cari tau apakah itu kecemasan yang beralasan(mungkin terjadi atau tidak, misal dengan menanyakan opini orang lain tentang kondisi kita tsb.), ketiga semisal itu memang cukup mungkin untuk terjadi maka pikirkan situasi terburuk, lalu terakhir, cari cara untuk meminimalisasi situasi terburuk tsb.

        Nah, seringkali, kita cemas, lalu berharap dengan melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan kecemasan itu akan bisa membantu meringankan kecemasan. Things like playing games, watching movies, or anything. Well, this obviously won't happen. Tindakan yang membantu adalah tindakan yang meringankan terjadinya hal terburuk dari apa yang kita cemaskan. Entah itu mengurangi kemungkinan terjadinya hal terburuk tsb., atau membuat hal terburuk tersebut jadi lebih baik.

        Contoh kasus, misal kita punya penyakit yang kerap kambuh ketika kita terlalu capek. Maka, orang yang memilih tindakan pertama, tentunya akan mengurangi kesibukannya agar tidak terlalu capek, jadi kemungkinan capeknya akan semakin kecil. Sedangkan orang yang mengambil tindakan kedua, justru akan mengambil tindakan dimana yang dulunya dia kalau capek dia langsung pingsan/tepar, jadi sesuatu yang lebih ringan dari itu. Dia mencoba ke dokter untuk mencari cara mengurangi level penyakitnya itu, misal hanya jadi pusing saja, atau letih saja. Jadi, kondisi terburuknya setelah tindakan itu masih lebih baik daripada kondisi terburuk sebelum dia mengambil tindakan tsb..

        Taking actions, akan sangat membantu kita dalam mengurangi rasa cemas yang kita miliki. Mungkin setelah kita pertimbangkan, kalau kita mengurangi kesibukan kita, kita akan jarang berinteraksi dengan teman-teman kita, atau malah kita akan jadi terlalu banyak waktu luang dan justru muncul kecemasan lain karena waktu luang tsb. Di saat-saat seperti ini tentu kita akan mengalami keragu-raguan apakah tindakan ini yang sebaiknya kita ambil. Karena, sepertinya tindakan ini bukanlah pilihan yang begitu bagus. But, you know, it's okay. Just make the choice! Apakah hal buruk yang kita cemaskan tentang dampak dari tindakan kita itu akan terjadi di kemudian hari atau tidak, who cares? Yang penting adalah, kita udah mengambil sebuah keputusan, dan kita punya keyakinan bahwa tindakan kita itu memang benar akan mengurangi kecemasan kita sebelumnya.

        You know, terkadang sekelumit sugesti sudah cukup bagi seorang yang dilanda kecemasan untuk bisa mengatasi kecemasannya, apalagi bila sugesti itu muncul dari sebuah tindakan. So, just forget about what might happen from that decision of ours. Taking action is already a good decision, rather than doing nothing and keep thinking about that worries of ours, which just wastes our energy. Mungkin memang tindakan yang kita pilih bukanlah keputusan yang terbaik, but you know, everyone make mistake. So, as long as that decision of yours can help yourself, let's talk about the worries that follows for some other time :)

Okay?


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Reference:
Carnegie, Dale. 2014. Overcoming Worry and Stress. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Share:

Friday, 25 September 2015

Obsesi

       Untuk kali ketiganya dalam hidup ini aku merasakan obsesi akan sesosok makhluk ciptaan Allah. Pertama, waktu SMP. Kedua, waktu SMA, dan sekarang, yang ketiga, waktu kuliah. Alhamdulillah aku sudah cukup bisa melupakan rasa mendalam dari obsesi ku yang pertama dan kedua. Rasa itu sudah dengan cukup baik ku-transform 'ubah' menjadi sebuah rasa yang biasa -- sekadar rasa suka saja --, atau menjadi sebuah rasa peduli-karena-kita-teman. Untuk yang kali ketiga ini, aku belum bisa bertindak apa-apa. Sekarang aku akan mencoba bercerita tentang obsesi ku yang ketiga ini:

       Perasaan ini sudah bukan perasaan secuil bijih jagung. Ia sudah tumbuh sekitar 2 bulan. Dengan awal mula pertemuan yang biasa-biasa saja, tetapi entah mengapa aku bisa merasa bahwa aku nyaman memilih dia sebagai 'persinggahan sementara'-ku yang ke-3. Memang begitu menenangkan hati rasanya, melihat, bahkan sekadar tahu pun, bahwa dia ada. Hanya itu saja. Memang mulanya begitu, tetapi makin lama hati ini sebenarnya semakin tersiksa. Hati ini khawatir bahwa ia akan jatuh terlalu jauh, dan lupa akan makna hidup yang sebenarnya. Dan aku serius. Obsesi ku bisa menggeser apa yang awal mulanya sudah kucanangkan dengan mudah, tanpa perlu terlalu banyak cingcong, tiba-tiba aku sudah melakukan hal-hal yang dahulu biasa kulakukan dengan obsesiku yang sebelumnya.

       Obsesiku sebenarnya bukanlah sesuatu yang muncul karena dibuat-buat. Ia adalah sebuah rasa, ingat, rasa bukan hanya sekadar penilaian apakah dia cantik atau tidak. Ia sebuah rasa yang muncul karena aku begitu tergoda untuk mencari tahu sumber dari sinar pemancar kehangatan yang kurasakan. Begitulah akhirnya aku mulai melakukan apa yang dahulu juga kulakukan di balik layar. Tentunya aku hanya setolking-setolking sedikit lha yea. Misi utamanya sebenarnya aku tu pengen tau cara pikir dia gimana sih. Dia tipe orang yang kaya apa. Itu lah, dan dalam setolking, aku lebih suka menemukan tumpukan hasil tulisan daripada menemukan sekumpulan foto milik dia ataupun tentang dia. Karena foto tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai kepribadian dari orang yang difoto. Begitulah.

       Sampai sekarang, aku masih belum tahu bagaimana aku harus menghadapi dan menangani obsesi ini. Secara mendasar, memang ini adalah sifat yang kumiliki sedari dulu. Dan yang aku tahu adalah bila aku salah menangani rasa ini maka tentu arahnya biasanya kepada sesuatu yang tidak baik. Karena walaupun aku terobsesi akan dia tetapi aku juga tidak ingin obsesi ku ini mengganggu dirinya. Mungkin aku hanya akan menghadapinya dengan berdo'a lagi, semoga hati ini cukup kuat untuk menjaga agar kepala tetap menunduk saat bertemu dengan akhwat(kadang aku berharap aku bertemu dengan dia), mata tidak terus-menerus mencari keberadaannya dimana aku mungkin menemukannya, dan hati bisa tetap terjaga bersih istiqomah tidak mengalami pergeseran niat karena ingin bertemu dengannya. Aamiin.
Share:

Monday, 7 September 2015

Belajar untuk Mengajar

       Well, of course tonight's reason for choosing this topic won't be so far from the fact that I am now a 2nd grade undergraduate. You know what that means? It means that now I have someone that look up to me. I have someone(or maybe many) that will know my name but I don't really recall who their names were, it's just too much :( From MSTEI(Muslim STEI) '15 guys for about 30-40 something, K*ndo guys for abt 20-30 something, and maybe soon Mata' guys dunno how many. Ya Allah, see how many that is? I even forgot some of the people that I already know in the previous week, my TPB friends, and it's a kinda confusing situation.

       But you know, what I really want to talk about today is the guys in K*ndo. In K*ndo ITB, the tradition of the population for each generation is quite strange, or totally unimaginable. From my generation, there were about 40 to 50 people at the list of people who registered to K*ndo. But soon, maybe only until UTS, or about 2 months later, the number drops to half. At the end of the semester, there were only 12 people who went to the grading examination. Finally, this year there's only about 7 persons staying. It's pretty tragic. Even more tragic looking at the sempais, the '13 guys who're still left standing is maybe only 4 persons. '12 only 1, or maybe 2. '11 only 1. :"

       I don't really know why that's happening. Sure, K*ndo ITB doesn't have any regeneration system which is pretty cool, systematic, and all. It's even far from cool. There's nothing that stop people who wants to leave K*ndo in ITB except their own will, or their friends. Including me, haha :D Had not I love sword and sword fighting so much, I'd have already left it, or even didn't join it in the first part.

       As for the reason for people to left K*ndo ITB.. Well, there's many to list, and let's just list it:

1) Not that many people can survive from ongoing and continuous exercise.
       Well, of course we know all too well that when 'mager' comes, there's almost nothing heavier than doing an exercise. Not to mention that with the flow of time, the hardship of K*ndo exercise will rise. From what's only known as an exercise without having to sweat becoming an exercise that tires us without us needing to sweat. Strange? Yeah, but that's true. Also, the needs to study more in lecture's lesson also arise. I think that's why many people can't survive well to the self-examination.

2) The traditions are good, but is not that good for Moslem.
       I won't bribe you readers with good words about its tradition, that's not my point. My point is that there's a lack of supportive community for Moslems who wants to join in the arena. It's not surprising because many of the seniors are Japanese-culture fan, me too. So, you know lha yea, one of the most interesting thing to mention about Japan. Hmm, what kind of man in this world who doesn't know about it? Well I'm sure there're many kind, but for man who lives in the diversity of ITB, and maybe already meet with so many different people in their (probably)famous senior high school and junior high school, it's quite strange for them not to know about it. So, well, I will be blunt to you that some of the sempais easily talk about it behind the stage(like after the routine exercise, eating together, or else) just as carefree as when they're talking about something else. Then, the people also likes to badmouth like mocking or in my city it's called misuh. Of course it's irritating and making the people who heard it feels as if it were normal. Because they happen too often. But, I think that's not healthy for both our mental state and for our long term way of thinking. Well, lastly it's about the shalat prayer. From my experience yesterday, having a journey from Jakarta to Bandung, the people are not that careful and paying attention to shalat that much. Well, we sometimes speak Alhamdulillah, istighfar, but somehow I rarely saw them have their shalat prayer. Except for the '11 sempai, it's pretty scarce to see the other do it.

       Sooo that's all, I think that's what I want to try to teach them. I wanna try to teach them to be consistent and istiqomah, to be attentive to their surroundings but still being able to filter between what's good and what's not, I wanna try to teach them that our surroundings very may have impact on our well being, or in my case, our state of iman, but still what's also important is how we can keep our Islamic values when facing these kind of condition. So, stay consistent, istiqomah, be attentive and have a good filter, hold dear to your values, Haw!

Trying to stay alive
source : http://wallpaper-download.net/wallpapers/3d-wallpapers-light-dark-wallpaper-35822.jpg

Share:

Thursday, 13 August 2015

Dedikasi

Aku pengen cepet masuk himpunan ah, biar bisa cepet berkarya.
Aku pengen cepet kuliah ah, biar bisa mulai belajar tentang keteknikan dan keinsinyuran.
Aku pengen cepet kerja ah, biar bisa cepetan cari duit.
Aku pengen ikut kepanitiaan ah, biar bisa improving my soft skills.
Aku pengen ikut keorganisasian ah, biar bisa membangun link ke banyak orang. 
Aku pengen cepet liburan lagi ah, biar bisa nonton anime dan manga sepuas-puasnya.
etc.

Kalau aku pribadi sih, sebenarnya cuma pingin dapet kerjaan. Gak mau gabut. Pengen seolah-olah aku ni orang yang bermanfaat, bisa berkarya dan gak omong doang. Tapi sejauh ini.. ya itu. Pengen punya kerjaan.

Ya nggak sih? Ada yang ngerasa juga nggak?

Aku tu suka ngerasa iri sama orang-orang yang bisa menumpahkan sekian banyak waktunya untuk melakukan sesuatu, sampai pada suatu titik dimana mereka lupa makan, lupa istirahat, lupa keluarga(eh, ga bener ni). Ya intinya mereka-mereka yang nggak cuman 100% dalam usaha mereka untuk mewujudkan sesuatu, kadang lebih, pake bantuan usaha dari teman-teman yang dia punya. Aku pingin bisa jadi kaya mereka, orang-orang yang sudah menemukan sesuatu dalam hidupnya untuk fight for.

Seperti misal di Jepang, menurut sumber pemateri suatu acara yang pernah kuikuti, orang-orang Jepang tu para penelitinya kalau sudah menemukan sesuatu yang menarik untuk diteliti dan layak dikembangkan mereka rela lembur di setiap hari kerja hingga (seingat saya) jam 8 atau jam 9 malam. Daan, esoknya jam 7 pagi sudah ada di lab lagi untuk siap melanjutkan pekerjaan mereka hari sebelumnya. Entahlah, pulang hanya untuk makan tidur bangun mandi makan pamitan istri/suami, anak, terus udah ke lab lagi. Gile beuds ya. Seolah-olah itu adalah hidup mereka, dan mungkin bukan seolah-olah tapi memang itu adalah hidup mereka. I mean, not just materially but also as a fulfillment for them as a human being who needs purpose in their life. Berbeda lagi ama Korea. Mereka yang sudah dijajah Jepang sekian lama, banyak dari mereka yang begitu ingin untuk mengalahkan Jepang untuk masalah apapun, sampai-sampai mereka ingin bekerja selalu lebih banyak dari orang-orang Jepang. Jika peneliti Jepang mau berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 8 atau 9 malam, orang Korea lebih ngambis lagi untuk sukses dengan rela pulang jam 10 malam dan berangkat pagi dengan jam yang sama dengan peneliti Jepang (seingat saya).

Bayangkan ya, yang satu bekerja untuk meneliti sesuatu yang they think it amuses them, yang satu bekerja untuk hal yang sama dengan motivasi tambahan, not gonna lose to their colonizer, Japan. Hebat lah, salut. Mereka benar-benar bekerja untuk sesuatu yang memang menurut mereka worth developing. 

Apa yang mau kugarisbawahi sebenarnya adalah bagaimana mereka rela mengorbankan sedemikian banyak waktu dan opportunity cost(kemungkinan-kemungkinan hal-hal lain yang bisa mereka dapatkan semisal ga melakukan penelitian itu) untuk penelitian itu. Menurut saya ini kembali lagi ke judul tadi,

D                e                 d                 i                 k                  a                    s                    i

Aku pengen bisa menemukan sesuatu yang worth it banget buat aku untuk mendedikasikan diri, waktu, dan fikiranku untuknya. Sesuatu yang mampu bikin aku lupa akan makan, minum, keluarga(selama bukan lupa sama Allah). Kalau orang-orang sih banyak ya hal yang untuk itu mereka rela mendedikasikan hidup mereka, seperti uang, keluarga(besok mau makan apa), passion, teman, kekayaan, posisi dan kedudukan, fame and recognition, gelar, cinta, dll.

Aku pengen di saat-saat luangku aku selalu bisa melakukan sesuatu yang menurutku able to fulfill my humanity needs for sense of purpose. Aku udah bosan di waktu luangku main games, buang-buang waktu, mikir sesuatu yang useless, dll. Aku berharap aku bisa menemukan satu hal itu.

Satu hal yang bisa membuatku gila dan mabok akan dia.



Trying to find my brightest candle so I can dedicate my life to it


Share: