Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Monday, 7 September 2015

Belajar untuk Mengajar

       Well, of course tonight's reason for choosing this topic won't be so far from the fact that I am now a 2nd grade undergraduate. You know what that means? It means that now I have someone that look up to me. I have someone(or maybe many) that will know my name but I don't really recall who their names were, it's just too much :( From MSTEI(Muslim STEI) '15 guys for about 30-40 something, K*ndo guys for abt 20-30 something, and maybe soon Mata' guys dunno how many. Ya Allah, see how many that is? I even forgot some of the people that I already know in the previous week, my TPB friends, and it's a kinda confusing situation.

       But you know, what I really want to talk about today is the guys in K*ndo. In K*ndo ITB, the tradition of the population for each generation is quite strange, or totally unimaginable. From my generation, there were about 40 to 50 people at the list of people who registered to K*ndo. But soon, maybe only until UTS, or about 2 months later, the number drops to half. At the end of the semester, there were only 12 people who went to the grading examination. Finally, this year there's only about 7 persons staying. It's pretty tragic. Even more tragic looking at the sempais, the '13 guys who're still left standing is maybe only 4 persons. '12 only 1, or maybe 2. '11 only 1. :"

       I don't really know why that's happening. Sure, K*ndo ITB doesn't have any regeneration system which is pretty cool, systematic, and all. It's even far from cool. There's nothing that stop people who wants to leave K*ndo in ITB except their own will, or their friends. Including me, haha :D Had not I love sword and sword fighting so much, I'd have already left it, or even didn't join it in the first part.

       As for the reason for people to left K*ndo ITB.. Well, there's many to list, and let's just list it:

1) Not that many people can survive from ongoing and continuous exercise.
       Well, of course we know all too well that when 'mager' comes, there's almost nothing heavier than doing an exercise. Not to mention that with the flow of time, the hardship of K*ndo exercise will rise. From what's only known as an exercise without having to sweat becoming an exercise that tires us without us needing to sweat. Strange? Yeah, but that's true. Also, the needs to study more in lecture's lesson also arise. I think that's why many people can't survive well to the self-examination.

2) The traditions are good, but is not that good for Moslem.
       I won't bribe you readers with good words about its tradition, that's not my point. My point is that there's a lack of supportive community for Moslems who wants to join in the arena. It's not surprising because many of the seniors are Japanese-culture fan, me too. So, you know lha yea, one of the most interesting thing to mention about Japan. Hmm, what kind of man in this world who doesn't know about it? Well I'm sure there're many kind, but for man who lives in the diversity of ITB, and maybe already meet with so many different people in their (probably)famous senior high school and junior high school, it's quite strange for them not to know about it. So, well, I will be blunt to you that some of the sempais easily talk about it behind the stage(like after the routine exercise, eating together, or else) just as carefree as when they're talking about something else. Then, the people also likes to badmouth like mocking or in my city it's called misuh. Of course it's irritating and making the people who heard it feels as if it were normal. Because they happen too often. But, I think that's not healthy for both our mental state and for our long term way of thinking. Well, lastly it's about the shalat prayer. From my experience yesterday, having a journey from Jakarta to Bandung, the people are not that careful and paying attention to shalat that much. Well, we sometimes speak Alhamdulillah, istighfar, but somehow I rarely saw them have their shalat prayer. Except for the '11 sempai, it's pretty scarce to see the other do it.

       Sooo that's all, I think that's what I want to try to teach them. I wanna try to teach them to be consistent and istiqomah, to be attentive to their surroundings but still being able to filter between what's good and what's not, I wanna try to teach them that our surroundings very may have impact on our well being, or in my case, our state of iman, but still what's also important is how we can keep our Islamic values when facing these kind of condition. So, stay consistent, istiqomah, be attentive and have a good filter, hold dear to your values, Haw!

Trying to stay alive
source : http://wallpaper-download.net/wallpapers/3d-wallpapers-light-dark-wallpaper-35822.jpg

Share:

Thursday, 13 August 2015

Dedikasi

Aku pengen cepet masuk himpunan ah, biar bisa cepet berkarya.
Aku pengen cepet kuliah ah, biar bisa mulai belajar tentang keteknikan dan keinsinyuran.
Aku pengen cepet kerja ah, biar bisa cepetan cari duit.
Aku pengen ikut kepanitiaan ah, biar bisa improving my soft skills.
Aku pengen ikut keorganisasian ah, biar bisa membangun link ke banyak orang. 
Aku pengen cepet liburan lagi ah, biar bisa nonton anime dan manga sepuas-puasnya.
etc.

Kalau aku pribadi sih, sebenarnya cuma pingin dapet kerjaan. Gak mau gabut. Pengen seolah-olah aku ni orang yang bermanfaat, bisa berkarya dan gak omong doang. Tapi sejauh ini.. ya itu. Pengen punya kerjaan.

Ya nggak sih? Ada yang ngerasa juga nggak?

Aku tu suka ngerasa iri sama orang-orang yang bisa menumpahkan sekian banyak waktunya untuk melakukan sesuatu, sampai pada suatu titik dimana mereka lupa makan, lupa istirahat, lupa keluarga(eh, ga bener ni). Ya intinya mereka-mereka yang nggak cuman 100% dalam usaha mereka untuk mewujudkan sesuatu, kadang lebih, pake bantuan usaha dari teman-teman yang dia punya. Aku pingin bisa jadi kaya mereka, orang-orang yang sudah menemukan sesuatu dalam hidupnya untuk fight for.

Seperti misal di Jepang, menurut sumber pemateri suatu acara yang pernah kuikuti, orang-orang Jepang tu para penelitinya kalau sudah menemukan sesuatu yang menarik untuk diteliti dan layak dikembangkan mereka rela lembur di setiap hari kerja hingga (seingat saya) jam 8 atau jam 9 malam. Daan, esoknya jam 7 pagi sudah ada di lab lagi untuk siap melanjutkan pekerjaan mereka hari sebelumnya. Entahlah, pulang hanya untuk makan tidur bangun mandi makan pamitan istri/suami, anak, terus udah ke lab lagi. Gile beuds ya. Seolah-olah itu adalah hidup mereka, dan mungkin bukan seolah-olah tapi memang itu adalah hidup mereka. I mean, not just materially but also as a fulfillment for them as a human being who needs purpose in their life. Berbeda lagi ama Korea. Mereka yang sudah dijajah Jepang sekian lama, banyak dari mereka yang begitu ingin untuk mengalahkan Jepang untuk masalah apapun, sampai-sampai mereka ingin bekerja selalu lebih banyak dari orang-orang Jepang. Jika peneliti Jepang mau berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 8 atau 9 malam, orang Korea lebih ngambis lagi untuk sukses dengan rela pulang jam 10 malam dan berangkat pagi dengan jam yang sama dengan peneliti Jepang (seingat saya).

Bayangkan ya, yang satu bekerja untuk meneliti sesuatu yang they think it amuses them, yang satu bekerja untuk hal yang sama dengan motivasi tambahan, not gonna lose to their colonizer, Japan. Hebat lah, salut. Mereka benar-benar bekerja untuk sesuatu yang memang menurut mereka worth developing. 

Apa yang mau kugarisbawahi sebenarnya adalah bagaimana mereka rela mengorbankan sedemikian banyak waktu dan opportunity cost(kemungkinan-kemungkinan hal-hal lain yang bisa mereka dapatkan semisal ga melakukan penelitian itu) untuk penelitian itu. Menurut saya ini kembali lagi ke judul tadi,

D                e                 d                 i                 k                  a                    s                    i

Aku pengen bisa menemukan sesuatu yang worth it banget buat aku untuk mendedikasikan diri, waktu, dan fikiranku untuknya. Sesuatu yang mampu bikin aku lupa akan makan, minum, keluarga(selama bukan lupa sama Allah). Kalau orang-orang sih banyak ya hal yang untuk itu mereka rela mendedikasikan hidup mereka, seperti uang, keluarga(besok mau makan apa), passion, teman, kekayaan, posisi dan kedudukan, fame and recognition, gelar, cinta, dll.

Aku pengen di saat-saat luangku aku selalu bisa melakukan sesuatu yang menurutku able to fulfill my humanity needs for sense of purpose. Aku udah bosan di waktu luangku main games, buang-buang waktu, mikir sesuatu yang useless, dll. Aku berharap aku bisa menemukan satu hal itu.

Satu hal yang bisa membuatku gila dan mabok akan dia.



Trying to find my brightest candle so I can dedicate my life to it


Share:

Saturday, 25 July 2015

Rena Elhasanah

Siswa kelas dua yang sangat cemerlang.
Di samping tingkah lakunya yang santun, ia dikenal sebagai siswa yang taat beribadah.
Dalam banyak kesempatan, ia menyempatkan diri shalat Dhuha dengan minta izin kepada guru saat jam belajar.
Ibunya sudah tiada
ayahnya kawin lagi di rantau orang dan tidak pulang-pulang.
Kini, ia tinggal dengan neneknya.
---
Cewek manis yang rambutnya sering berkepang dua itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
---
Sebuah suara mengalir lembut dari arah belakangku,
Ia terlihat makin manis dengan rambut yang tergerai rapi sepinggang dan bersahaja dengan baju kaus putih oblong dan celana jean yang sedikit longgar.
ia memang manis dan cukup semampai.
tingginya sekitar empat sentimeter kurangnya dari tinggi badanku yang 169 sentimeter.
incaran Adi bermata teduh 
---
satu perempuan cemerlang berhati sabar ini.
dari matanya yang sejuk, tak ada rona kecewa dan sesal di wajahnya walau jalan hidupnya berat.
---
"Tapi, Rena merasa Uni Laura menjadi perempuan yang beruntung mendapatkan Uda," ucapnya pelan dengan wajah cemburu.
---
"Ada apa, Uda Rul?" sapanya hormat, tepat membelakangi dinding kelas.
"Eh, ini, Ren. Aku mau minta tolong. Begini.... Tapi, bisa, kan?"
"Iya. Selagi bisa, Rena usahakan. Apa itu?"
"Ini, aku mau titip ini ke Radio Alphabet. Bisa?"
"Apa ini?"
"Puisi Hati."
"Untuk siapa?" tanyanya selidik.
"Pokoknya aku minta tolong. Bisa, kan?"
"Iya. Tapi, bilang dulu, ini untuk siapa?" tanyanya merajuk.
"Rahasia, Ren. Please, bantu aku, ya?"
"Untuk Rena, ya?"
Aku tercekat dan diam saja.
"Iya, Uda?"
Terkejut juga aku ditanya seperti itu.
Dengan perasaan senang, ia menerima amplop putih yang berisi Puisi Hati itu. Lalu, masuk kelas dengan riang.
---
ia langsung bergegas menuju tempatku yang masih terpaku di gerbang sambil tersenyum manis.
Ia terlihat makin manis dengan rambut yang masih dikepang dua dan lebih terlihat bersahaja.
ia berhenti dan malu-malu.
Kedua pipinya merona dan tersenyum lagi dengan cerahnya.
---
wajahnya yang semula cerah berubah pucat dan malu.
Tanpa permisi, ia segera berlalu dengan tergesa-gesa.
---
salah satu siswi cemerlang yang masih kelas dua dan terkenal sangat taat dalam beribadah itu.
Tak pernah ia bicara panjang lebar di depan siapa pun selain ini.
---
Si manis bermata teduh
---
"... . Sebelum tenda biru ditegakkan, sebelum ijab kabul diucapkan, maka selalu ada usahaku untuk mendapatkan Rena Elhasanah, satu dari sekian perempuan langka itu. Karena apa, Rul? Karena, sampai sejauh ini, aku tak pernah merasa tersinggung oleh tutur bahasanya. Dan, ia sangat alim. Syarat-syarat istri shalilah ada padanya walau ia masih berumur delapan belas tahun. ...."
---
Dan, aku tahu ia jujur saat melihat seorang perempuan manis.
Rambut hitam tebalnya diatur dengan jepit rambut.
Ia terlihat manis dan sederhana
Ada sesuatu dalam matanya yang teduh.
Ada cinta mendalam di sana, lebih dalam dari samudra terdalam.
Ia segera mengalihkan pandangan.
---
Sebagai perempuan baik-baik, tentu ia tak mungkin menyatakan rasa sukanya terang-terangan kepadaku.
---
Tahu dari mana cewek manis ini?
---
Matanya yang teduh sungguh sebuah pesona.
---
rambutnya yang lembut dan terurai pasrah
perempuan berhati mulia ini
---
Tiba-tiba, ia tersenyum manis.
Lebih manis dari yang pernah aku lihat.
Ia merasa damai, setenang-tenangnya diri.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah karakter dari novel karya Yoyon Indra Joni dengan judul Puisi Hati. Ia adalah sesosok yang seperti yang tertulis di dalam novel itu sendiri. Begitu memikat, seandainya ia ada di dunia ini, maka aku berharap bisa menjadi suaminya yang beruntung. Secara fisik, kekurangannya salah satunya adalah memang dia belum berjilbab, tidak tahu lagi kekurangan-kekurangan lain yang belum disebut. Meskipun frasa 'Matanya yang teduh sungguh sebuah pesona' seolah sudah bisa menjawab dan menghapuskan segala kekurangan fisiknya yang lain :"". Secara karakter, menurut saya ia adalah sesosok wanita idaman. Kenapa tidak ada di dunia ini saja? Ketika sesuatu terjadi padanya, saya benar-benar sedih. Sesosok wanita seperti itu seharusnya dijaga, tidak disia-siakan. Setidaknya kalau memang dia harus terluka karena cinta, saya benar-benar bersedia menerimanya apa adanya(InsyaAllah).
Begitulah, begitu menyentuh memang novel ini. Setelah kejadian kurang menyenangkan yang menimpa tokoh utama yang pacaran secara backstreet ini, begitu banyak kata-kata bijak dan kearifan-kearifan pribadi dalam tokoh-tokoh di buku yang tumpah ruah. Pelajaran tentang mencari makna cinta dan mengejar cita-cita. Begitu banyak, subhanallah. Saya benar-benar merasa beruntung telah membeli buku ini. Lebih akan merasa beruntung lagi bila saya tahu bahwa tokoh seperti Rena Elhasanah bukanlah sebuah sosok fiktif. Ia benar-benar sebuah sosok yang menginspirasi.
Terima kasih, Bpk Yoyon Indra Joni.
Share:

Friday, 10 July 2015

Duhai Pemerintahan Pak Joko

"Dengan sumberdaya kita yang banyak dan berlimpah harusnya kesejahteraan itu bisa terwujud. namun pemimpin politik seperti tidak mempunyai fokus dan tujuan yang jelas, bahkan tidak punya komitmen untuk mencapai kondisi kesejahteraan."
"Menurut saya melepas harga energi ke pasar tidak realitis, harus ada perlindungan terlebih dahulu bagi masyarakat menengah ke bawah."
"Jadi sebaiknya, belanja pendidikan itu difokuskan sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing, karena kebutuhan tiap wilayah berbeda."
-- Maudy Ayunda

source : http://netsains.net/2012/09/amudy-ayunda-perpaduan-sempurna-bakat-dan-kecerdasan/

SETUJU BEUDS!
Pemerintah Pak Joko sekarang itu kek gak fokus Indonesia ini mau dibawa kemana. Apa gara2 kebanyakan janji ya?
Bahkan untuk menjadi seorang pribadi yang benar-benar bisa dipercaya dan (InsyaAllah) sukses pun perlu ada yang namanya skala prioritas! Dan prioritas itu jangan disimpen sendiri, orang perlu tahu , apa sih yang mau kita dahulukan dan capai?
Jangan kek sekarang ini, baru juga memulai pemerintahan gak pake izin atau sosialisasi dan tindakan perlindungan terhadap kalangan menengah ke bawah tiba-tiba harga BBM udah dinaikin aja. Belum masalah-masalah yang lain, banyak lah pokoknya. Tunjukin kek kalian tu mau bidang apa yang dikembangin dulu! Jangan semuaa pengen dimajuin seolah2 duit, SDA, dan SDM nya ada (not to mention the 'unexplainable' x factor, that's the confusion inside the government itself, you know lha yaa, permasalahan birokrasi). Kebanyakan janji kali ya jadi ga fokus?
TUNJUKIN DONG KAMI ENGINEER, ITU HARUSNYA RESEARCH & DEVELOPMENT DI BIDANG APA! APA YANG KAMU BUTUHIN? BIAR KAMI TUH BISA MAKSIMALKAN TUH BIDANG DAN BERKONTRIBUSI SESUAI AMA YANG KAMU BUTUHIN, WAHAI PEMERINTAHAN PAK JOKO! BIAR KAMI TU BUKAN KULIAH CUMAN BUAT JADI PENGANGGURAN, GAK KEPAKE! DIKIRA ENAK JADI SAMPAH MASYARAKAT? BEBAN KELUARGA?
PLEASE, TUNJUKIN PRIORITAS LO, DAN YANG SERIUS KALO UDAH PUNYA PRIORITAS! JANGAN MAEN-MAEN! LO KIRA LO MAEN AMA SIAPA? MASA DEPAN INDONESIA NIH!
*udah kek habis pidato megap-megap pascademo aja, wkwkwk. Itu sih, salah satu curahan hati gue akan keadaan Indonesia sekarang. :"

Share:

Sunday, 5 July 2015

Tidur maleem banget.

Tahu nggak kenapa?
Aku lagi jatuh dinda, dan ampe sekarang masih kangen pengen ketemu lagi. Jadinya gak pengen tidur banget. Tapi kayaknya habis ini tidur aja deh, ada kerjaan banyak besok.
Rasanya agak nyesek sih sebenernya.
Astaghfirullah..
Tau nggak pelarianku apa? Liat berita-berita tentang keburukan Pemerintahan Pak Joko.. Dosa nggak sih?
Share: