Selamat datang di blog seorang pribadi pembelajar :) Namaku Hawari, namamu siapa?

Tuesday, 28 May 2019

Mencari Nafkah di Negeri Sakura - Part 4 : Pulang Kampung


-----------------------
Benarlah ketika salah seorang Ustadz berbagi hikmah bahwa,

Sesungguhnya musibah yang menimpamu itu tidak lain adalah karena dosa. 
------------------------



       Hari ini adalah hari yang diawali dengan baik insyaAllah, insyaAllah diakhiri dengan baik juga, tapi di tengah-tengah tadi sempat riweuh banget.

       Why? Long story short, sebabnya yaitu terbuangnya menit-menit yang terasa berharga di momen-momen krusial. Dan berakibat fatal.

       Hari ini diawali dengan mengikuti sebuah kegiatan thalabul ‘ilm, mendapatkan banyak nasihat dari seorang guru yang baik dan mengajarkan kebaikan. Lalu, dilanjutkan dengan melanjutkan komunikasi dengan temen-temen yang kemarin sudah pesen buku-buku ku yang rencananya ingin kubagikan. Masih pagi-pagi, sudah ada dua orang yang datang ke kosan dan mengambil buku. 
Lalu, menunggu siang, aku mulai beres-beres barang untuk persiapan pulang ke Surabaya. Beres-beres ini tidak mudah karena aku harus memilih ulang barang-barang yang harus kubawa untuk sekaligus kubawa ke Jepang — itu request dari ortuku. Akhirnya barang-barangku terpecah dua menjadi barang yang penting dan tidak penting. Baru awal beres-beres, ada teman yang men-share info kajian salah seorang guru yang kuikuti kajiannya, seorang Ustadz dari Cimahi. Beliau orangnya lembut, gaya bahasanya humoris, dan memiliki ilmu tafsir yang dalam. Akhirnya, kuputuskan untuk berhenti packing, lalu berangkat ke masjid Salman untuk meletakkan buku-buku yang telah dipesan. 

       Kira-kira menjelang Dzuhur, baru aku balik ke kosan. Lanjut packing lagi sampai Dzuhur, dan begitu pula selepas Dzuhur. Saat siang ini, satu temanku lagi datang untuk mengembalikan sebuah buku. Sekalian, kuwariskan peralatan-peralatan elektronik yang masih kumiliki yang kukira tak akan mungkin untuk kubawa ke Jepang. Di sana masih bisa beli lagi. Sambil aku memutuskan barang-barang apa yang sebaiknya kubawa dan tidak, kami ngobrol. Aku yang sedang kebingungan dengan banyaknya barang yang ingin kubawa tapi tak bisa kubawa karena isi tas yang sudah terlalu penuh, akhirnya memilih duduk dan berpikir. Alhamdulillah, temanku ini nyeletuk memberi saran, 

“Maaf banget nih, Haw, tapi emang kalau nggak usah semua dibawa langsung aja gimana? Kalau menurutku, apa nggak mending dicicil?”

“Hm, iya enak gitu. Tapi masalahnya ortu ga mau ada barang yang ditinggal di rumah.. Gimana dong?”

“Hoo, gitu ya.”

       Dan akhirnya aku lanjut packing, sambil memikirkan saran dia. Dan menurutku ada benarnya juga. Oke kalau memang di rumah tidak bisa ditampung, mungkin kan nanti secara berkala bisa dikirimkan ke Jepang. Sebentaar aja minta tolong ke yang lain utk dikirim. Akhirnya cara menyeleksi barangku pun kuubah. Menambahkan opsi tidak hanya dibuang dan dibawa, tapi juga dikirim menyusul. Things get easier. Setidaknya di hati tidak terasa berat lagi karena barang yang kusayangi dibuang-buang begitu saja. Sungguh terasa berat, cuy.

       Akhirnya, sampailah kami pada 3 buah barang besar yang akan kubawa, beserta satu kresek jajan untuk menemani masa penantian di atas kereta. Dua buah tas, dan satu koper. Tak ada yang ringan di pundak. Meninggalkan barang-barang yang kutinggal juga sebenarnya tidak ringan. Saat sore menjelang Ashar, ada satu orang teman lagi yang ingin membawa dan menjaga buku-buku yang selama ini kumiliki. Usai diambil, ada rasa kosong. Ah, ditinggal pergi lagi.. sama buku-buku yang telah begitu berharga buatku. Agak berkaca-kaca, tapi ya udah gapapa. Semoga mereka jadi lebih bermanfaat lagi di tangan temen-temenku :”).

       Masuk Ashar, aku memutuskan untuk shalat di dekat kosan. Dari sini aku merasa tak nyaman dan memiliki firasat buruk. Bahkan saat berdzikir. Apakah langkah yang tepat aku berdzikir? Apa nanti nggak akan telat? Akhirnya kucepatkan dan aku langsung pulang.

       Pulang, koper yang kupunya terlalu besar untuk dibawa oleh motor. Kukira awalnya begitu. Akhirnya aku memutuskan memesan G*-Send. Lama menunggu, akhirnya mamangnya sampai, dan gak mau masuk ke dalam gangku untuk mengecek barang. Pun ketika kusebut ‘koper’, Mamangnya langsung auto ogah bawa. wkwk. Ya udah deh Mamangnya kukasih bawa dua tas ranselku dan aku bawa koper. Di bagian depan motor, dengan posisi tidur, dan berakibat motorku ga bisa muter seperti seharusnya dia muter. Karena ketahan sama koper yang telentang di depan badanku itu.
Berangkatlah kami ke Stasiun Bandung. Sang Mamang dengan tas ransel, dan aku dengan koper beriringan. FYI, stasiun keberangkatanku ke Surabaya itu dari Kiaracondong, tapi ada amanah dari abi untuk mengirimkan motor ke Surabaya, dan itu di Stasiun Bandung. Firasatku sempat memburuk. Karena itu jam 15.35 dan aku baru berangkat dari kos-kosan. Padahal masih harus ke Stasiun Bandung, mengurus pengiriman motor, lalu ke Stasiun Kiaracondong. Secara jarak sudah lumayan, tapi diperburuk dengan kenyataan bahwa itu adalah sore hari dimana orang-orang banyak pulang kerja, dan mencari buka puasa. MACET boyyy.

       Kupaksakan berangkat dengan memaksa tidak usah memikirkan hal-hal buruk. Fokus pada keamanan keberangkatan ke stasiun saja. Koper di depanku ini sudah bikin agak waswas. Akhirnya aku dan Mamang sampai di Stasiun Bandung sekitar jam 16.15. Aku agak lega. Masuk ke kargo L*H, dapat kabar shocking, pengiriman motor udah gak bisa di kargo itu. Panik. Berarti motor ga bisa dibawa. Berarti harus diparkir di stasiun. Ditinggal sekitar 1 minggu, semisal semalam 10 ribu, berarti seminggu 70 ribu. Mending kalau bukan 20 ribu/malam. 

Okeh okeh. Kucoba menenangkan diri.

       Oke berarti kutinggal di stasiun. Cuman sekarang, Sang Mamang sudah pergi dengan senyumannya, tinggal aku yang bingung di depan kantor kargo. Dua ransel, satu koper ukuran besar, snack. Okeh, kalau tadi koper bisa dibawa, insyaAllah optimis sekarang tas tinggal kucangklong-cangklongkan, somehow akan bisa kubawa. *Maksa*. Jeder. Mendadak aku kehilangan kunci motor. Panik. Cari di saku. Nihil. Tas, Nihil. Apa udah diambil orang? Tapi kok motornya masih ada? Aduh… Balik lagi ke kargo. Nanya,

“Pak, apa tadi saya nggak naruh kunci di sini?”

“Nggak, mas.” Nihil.

Balik lagi ke motor. Mikir-mikir, sugesti-sugesti menenangkan diri. 

Tenang, kalau kamu panik gak akan bikin kamu bisa lebih terjamin sampai stasiun Kiaracondong, Haw. Tenang, tenang.

Okeh, tenang. 

       Cek lagi yang mungkin terlewat. Dan… di kantong ternyata kuncinya. Asyiap.. Petak umpet di waktu kritis. Oke men. Jadi udah jam 16.25 dan keretaku jam 17.02 di stasiun Kiaracondong. Busyet. Mukjizat dari Allah kalau bisa sampe. Antara waktu diperlambat, atau keretaku dibuat terlambat berangkat. Yang ternyata yang terjadi, yah baca sampe akhir yaa, ujian kesabaran buat pembaca nih, hehe. 

       Oke aku berinisiatif untuk berangkat seperti bagaimana aku berangkat ke Stasiun Bandung. Pesan G*-Send untuk membawa ranselku. AIHGDILSJBDNLKJSHNPWEOIHF. Mamangnya malah mangkal di depan hotel zodiak. Nunggu 3 menit. Trus dia yang cancel sendiri. ASDIUEWEF:KA. Entah apa rasa di hati ngedongkol setengah mati. Mang, kenapa diacceptttt!

       Ya sudah. Emang berharap sama manusia mah gitu. Sakiye kiye. (Apasik, pokonya sesuka-suka lah. Gak paham apa ini ada orang pusing setengah mati). Jadi.. usut punya usut, satu tombol cancel yang kamu tekan bisa berakibat fatal pada kehidupan seseorang, gaes. Ingat. Nanti kalian ngerti maksudnya.

       Beneran ngerasa bodo. Kalo di-cancel ngapain aku pesen segalak. Yauda fix berangkat sendiri. Paksain koper di depan, tas ransel bawa, snack taruh dalem jok. Wah fix panik. My heart is racing. Eh sorry, was racing. Lihat jam, 16.30. Lihat google maps, ke Stasiun Kircon butuh waktu 32 menit. Okeh, I accept the challenge!

       Dengan sok-sokan mengingat lagi bahwa selama ini kalau aku sudah berangkat belum pernah tuh terlambat. Paling buruk ya kereta udah mau jalan. Which is udah buruk juga sebenarnya.
Jalan lah. Tab ber-google maps ditaruh di atas koper, ditahan sama setir motor. Dan perjalanannya berlangsung kira-kira begini.
  1. Belokan pertama, setelah lurus dari stasiun Bandung, ke kiri.
     
  2. Ke kiri lagi. One and first mistake. Aku harusnya ambil belokan kiri yang lewat stasiun. Karena biasanya gak macet. Paling pelan-pelan aja supaya motor ga rusak. Tapi seenggaknya bisa jalan terus. Sedangkan jalan yang kuambil.. Macyett mak e. Awalnya nggak tapi lama-lama makin tampak meyakinkan macetnya.
  3. Lewat balai kota, lancar. Trus belok kanan.
  4. Lewat jalan yang deketnya BIP tapi ke arah Antapani, lancar.
  5. Jelang mendekati Antapani, ada tuh satu macet lagi, deketnya Bandung workspace. Lampu merah. Aku ke kiri, lampu merah ngelarang ke kanan. Oke fix nungguin orang-orang pas udah lampu ijo. Mikir buat jalan di trotoar, masih maksa idealis. Second mistake.
  6. Akhirnya jalan, trus masuk ke daerah sekitaran Antapani, ehhh, malah sempat kelewatan di satu belokan. Terpaksa puter balik. Dan you know lah ya, dengan koper segede eta di depan, puter balik itu kek mundur kiri, maju kanan. Gitu ae terus sampe di belakangku itu udah ada sampe 3 akang-akang naik motor yang ngantri. Selemot itukah aku gaes? Emang. Third mistake.
  7. Akhirnya lanjut lagi, masuk jalan kecil, ga bisa ngebut. Banyak anak kecil. Jalannya juga udah lumayan padet. Kayaknya semua yang motor pada ngikut saran dari googlemaps. Selow lagi lah. Bahkan yak, waktu di jalan itu kan aku sempat maksa nyerobot jalur kanan. Eh, ada bapak yang kesel. Sengaja dia diem, nunggu aku lewat, trus dimiringin spionnya ke spionku. Bunyi.

    Wah yakin, bapaknya kesel banget ini.

    Tapi ya maaaaf banget pak. Saya ini udah panik level akut. Terakhir saya gak bisa pulang karena hangus tiket kereta berlanjut dibelikan tiket pesawat. Tiket pesawat pertama missed. Tiket pesawat kedua missed. Dan berakhir aku gak bisa pulang ke salah satu pemakaman keluargaku. Kek semuanya membenci. Sudah cukup, pak.
  8. Keluar, udah sampai jalan antapani. Alhamdulillah. Puter balik, teruss, bertemu macet lagi. Maksa. Ambil jalan trotoar. Dan waktu kucek HP, udah jam 17.02 my boyy. Sesuai dengan prediksi googlemaps yang mengatakan 30–33 menit. Padahal aku udah ngusahain ngebut di semua jalur yang itu lancar. Gilee emang keren banget googlemaps.
  9. Dan terdengarlah suara itu. Tiiduu tiiduu tiiduu.. Pertanda palang penutup jalur kereta api diturunkan. Ada kereta api yang mau lewat. Dan fix aku yakin kalau itu keretaku berangkat. Oh Allah, ampuni dosa hambamu ini.. Ini bukan guyonan ya, tapi aku memang langsung introspeksi gitu. Beneran yaa, Allah kalau kasih adzab itu ya segera ya bisa aja.
  10. Maksain masuk ke stasiun dulu sampe lihat dengan mata kepala sendiri, eh ada kejadian lagi. Tiang palang tiket untuk motor rusak. Aku di antrean ke-3 motor yang masuk dan mamang di depan kaga bisa masuk. Tiketnya gak keluar-keluar. Fix, tanda selanjutnya dari Allah ini mah.. Yaudah, aku ambil tiket mobil dan maksa masuk.
  11. Sampe. Udah gak peduli, cuman bawa tas ransel yang isinya laptop. Motor dan koper dan tas kecil satunya kutinggal. Peduliiii. Mau tau keretaku udah berangkat atau belum.
  12. Ada mamang yang ngangkatin koper kutanya,

    “Mang, kereta Mutiara Selatan sudah berangkat? (jam 17.10)”

    “Oh ya sudah mas.” (sakit)
  13. Puyeng sebentar. Apa kata orangtua? Gimana kalau telat pulang, gimana kalau ga ada tiket? Gimana kalau ga pulang? Padahal udah dibeliin tiket sekeluarga untuk mudik luar jawa? Dan aku gak jadi pulang? Ah.. duh. Pusing da aing.
  14. Balik lagi ke motor dengan loyo. Dan baru sadar kalo lampu motor masih nyala. Okeh. Tadi aku ninggalin gak cuman koper dan tas, tapi juga motor yang kuncinya masih nancep di lobang kunci. Jenius ya.

    Yang ini bersyukur banget sih. Alhamdulillah sama Allah gak dihilangkan juga motorku. Bisa panik bertingkat-tingkat. Ya Allah, cukupkan adzab-Mu pada hamba di dunia saja, jangan kau adzab hamba lagi di akhirat..
  15. Oke, cabut kunci. Hmm, kalau gak ada tiket lagi, berarti aku harus naik motor ke Surabaya. Ya, supaya aku bisa pulang, motor bisa pulang. Cek googlemaps. 15 jam naik motor. Hmm, sama kayak naik kereta dong. Oke mantapkan tekad. Trus liat ke tangan lagi, kek udah melepuh-melepuh ringan gitu gara-gara harus nahanin setir supaya motor tetap di arah yang benar dengan beban bawaan dan setir yang ketahan sama koper. Mikir.

    Yakin, haw?

    Apa balik dulu, lengkapin perlengkapan touring, baru berangkat?
  16. Setelah mikir sebentar, aku ingat bahwa ada fitur Go-show, atau beli tiket ke luar kota, yang bisa dibeli hanya di loket, tidak di traveloka atau online lainnya. Untuk pembelian tiket-tiket yang dalam waktu sebentar lagi. Informasi ini kudengar saat kemarin-kemarinnya aku meng-cancel tiket-tiket ku yang lain. Alhamdulillaah. Ada setitik cahaya harapan agar aku bisa pulang hari ini.
  17. Setelah mastiin kunci motor tercabut, aku balik ke stasiun lagi. Nanya mamang-mamang porter, dan katanya,
    “Coba ke loket 1, a’.”
    Allaaah, masih ada harapan.
  18. Fix ke loket 1. Di depan ada 2 ibu-ibu. Yg paling depan cancel tiket, lumayan lama. Yang kedua ada ibu-ibu beliin tiket untuk anaknya. Yang ini lebih lama lagi karena si akang-akang penjaga pos-nya ninggalin dulu berapa menit gitu. Time is ticking. Tick tock tick tock.
  19. Akhirnya sampe giliranku.
    “Kang, ada tiket untuk ke surabaya?”
    “Untuk kapan, mas?”
    “Hari ini atau besok.”
    “Wah kalau yang lama-lama mungkin bisa ke indomaret mas pesannya, bukan disini.”
    “Oh, iya kang, saya cari yang deket. Kalau hari ini gimana?”
    “Oh hari ini ya. Bisa saya cek-in dulu sebentar.”
    *tettorettoreet*
    “Ini ada mas malam nanti jam setengah 8, Turangga, eksekutif. Dari stasiun Bandung”
    “Berapaan kang?”
    “Di 690 ribu.”
    Okeh. Mahal. Gapapah. Daripada mengulang hal-hal tidak menyenangkan yang pernah terjadi.
  20. Bersyukur. banget. Akhirnyaaa..
  21. Oke ke Stasiun Bandung lagi. Sekalian deh ngecek apakah masih ada cargo yang bisa ngirim motor. Dan.. ada!! Ngurus cargo deh motornya bisa kutinggal.
  22. Trus makan. Dan menunggu.
  23. Phew. Akhirnya dapet tiket. Alhamdulillah. Dan disinilah aku, sedang menikmati fasilitas untuk kelas eksekutif. Meja yang disediakan untuk laptop dan makan, lalu ada ruang di bagian paling belakang gerbong untuk barang besar termasuk koperku. Dan ya tentunya kenyamanan seperti bantal dan selimut.
Banyak hikmahnya.
  • kalau terjadi hal buruk dan kamu sedang panik, mungkin gak usah cerita ke orangtua dulu kalau itu bisa memicu mereka memperpanik suasana. Selesaikan dulu sendiri dengan tenang, dengan caramu sendiri. Kalau memang sudah buntu, baru komunikasi dengan orangtua.
  • Sesungguhnya adzab di dunia masih ribuan atau mungkin jutaan kali lebih baik dari adzab di akhirat. Hangus tiket gak ada apa-apanya dengan hangus kulit diadzab, naudzubillah.
  • Terus berprasangka baik sama Allah. Introspeksi. Ridho sama apa yang sudah Allah putuskan.
  • Jangan sebego itu bikin kalkulasi keberangkatan setelah shalat Ashar padahal masih ada banyak kerjaan gitu. Ya mungkin lain kali shalat Asharnya di stasiun aja.
  • Gak usah nyalahin temen, entah kek nyalahin, wah dia yang ngambil buku kelamaan. Atau wah dia ga mau nganterin sih! Dsb. Karena itu tidak akan memperbaiki keadaan sedikitpun. 
  • Balik ke poin sebelum2nya, gak usah sekecewa itu sama apa yang Allah putuskan. Pasti ada kebaikan, pelajaran, peringatan, dan hikmah di balik apa yang Allah putuskan. Walaupun pahit. Mirip halnya dengan obat.
  • Kadang memang perlu untuk melewati batasan idealis. Tapi kalau toh ternyata maksain idealis (misal untuk tidak mau nembus lampu merah, atau ga mau jalan di atas trotoar) bisa membuat kamu tetap nyaman walaupun harus bayar tambah 690 ribu sih ya silahkan. Its a choice, apakah mau mempertahankan prinsip, atau mau membayar lebih. Kadang membayar lebih bisa jadi adalah pilihan yang lebih baik dan Allah ridhoi. Supaya aku introspeksi.
Share:

Monday, 22 April 2019

Hijrahku Maharku  — part sekian :  Tentang Tauhid dan Awal Perubahan

       Beberapa hari yang lalu aku mendengar sebuah kalimat dari orang dekatku. Kalimat yang mungkin bagi sebagian orang dianggap biasa saja, tapi menyadarkanku akan jalan perubahanku meninggalkan apa-apa yang telah terlalu lama mengendalikan hidupku tanpa persetujuanku. 

A : Kamu lagi nonton pakai kuota ya, B?

B : Iya. Pakai Te*koms*l. Haah, kayak gini ini gak bisa banget lah kalo ga ada kuota. Pokoknya kebutuhanku itu internet internet internet, sandang pangan papan. Aku gak bisa hidup tanpa internet.

Aku : Shalat B, shalat. Shalat itu kebutuhan.

B : Udahlah, pokoknya internet itu kebutuhan pokok.

(…)

       Mendengar ucapan seperti itu, aku jadi terusik. Bagaimana seseorang mengatakan ucapan yang seolah telah sangat bergantung dengan sesuatu dalam hidupnya. Kata-kata, “gak bisa hidup tanpa internet”. Bagiku, kata-kata ini sangat keras dan bisa jadi melanggar prinsip tauhid, meski tidak ada maksud melanggarnya. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan yang mengatakan, tapi kusarankan sebaiknya di lain kali beliau tidak mengatakan hal seperti ini lagi walaupun dirasa-rasa memang seperti itu yang terjadi. Khawatir itu melanggar prinsip tauhid.

       Dari dulu, aku juga punya riwayat memiliki kebutuhan, kecanduan. Terhadap berbagai hal. Dimulai dari game online. Aku yang dulu kalau pulang sekolah jam 4, dan biasanya baru sampai rumah jam 9 malam. Hampir setiap hari jika tidak ada les. 5 jam. Mungkin untuk sekitar 2–3 tahun. Kalau tidak main game, kadang terasa hidup itu hambar. Lalu ditambah juga dengan kecanduan-kecanduan lain. 

       Kecanduan yang mulai kusadari ketidakbaikannya saat aku lebih dalam belajar agama. Mungkin itu ketika aku di Masjid Salman, lebih spesifik lagi mungkin ketika aku di Mata’ Salman. 

Satu pelajaran tentang definisi illah.

       Bahwa illah adalah segala sesuatu yang seseorang rela dikuasai, dikendalikan, patuh dan taat sepenuhnya kepadanya. Sesuatu yang sangat dicintai, didamba-dambakan, diharapkan keberadaannya. Segalanya baginya. 

(kalau ga salah definisi dari Bang Imad)

       Belajar tentang itu membuatku merasa tersentil. Bagaimana aku begitu mudahnya menyerah kepada game ataupun anime, ataupun film yang sedang kutonton ketika aku mendengar suara adzan shalat. Dan aku lebih memilih untuk tidak sholat dulu, lebih memilih menyelesaikan apa yang sedang kulakukan tersebut. Tampak bahwa aku rela untuk dikendalikan oleh hal-hal tersebut, dan tidak memilih untuk shalat.

       Juga tentang perempuan. Pernah ketika aku merasa begitu tertarik. Tidak ada hari tanpa memikirkannya. Dan aku merasa benar-benar didominasi oleh perasaan sendiri. Banyak hal kulakukan, rela kulakukan, dan sebagian besar tidak logis. 

       Pun halnya dengan internet dan media sosial. Bagaimana aku tidak nyaman mendapati bahwa setelah shalat, aku langsung cek ada chat baru atau tidak. Ada postingan menarik atau tidak. Ketika malam-malam yang seharusnya diisi seminimalnya dengan tidur, atau yang lebih baik, tapi malah dipakai untuk membuka media sosial. Ah, seolah-olah semua update dan pesan yang masuk itu begitu penting. Mengendalikanku dari alam bawah sadar. 

       Hingga akhirnya aku belajar untuk memutus rantai pengikat antara hal-hal tersebut denganku. Belajar bahwa sebenarnya yang perlu aku pelajari untuk butuh adalah butuh akan Allah, akan pertolongan-Nya, rezeki dari-Nya, petunjuk-Nya. Butuh untuk dzikir, butuh untuk shalat. Bersedia menyatakan bahwa aku patuh dan tunduk pada aturan-Nya di atas aturan-aturan lain. Melepaskan ketergantungan dari makhluk menjadi kepada Khalik. Dari yang diciptakan kepada Yang Menciptakan.

       Mulai mengurangi jatah main game. Kadang muncul rasa tidak nyaman di dalam hati ketika menyadari bahwa aku sudah bermain game sampai beberapa jam. Atau hampir setiap hari. Atau bahkan menunda-nunda shalat karenanya. Satu hal penting yang kulakukan adalah membatasi kapasitas HP. Aku sadar banget bahwa bermain game berjam-jam salah satunya diawali dengan memiliki HP dengan kapasitas yang tinggi. RAM 2 GB, memori 8 GB, dst. Momen dimana aku seharusnya belajar, semisal di kelas, malah terpakai untuk bermain game. Akhirnya, aku mulai membatasi itu semua dan memutuskan bahwa HP hanya untuk media sosial. HP pertama yang kubeli setelah kesadaran itu adalah HP L*G dengan kapasitas RAM 756 MB. Line dan WA saja terkadang sudah nge-lag. Pun sekarang, masih HP L*G dengan merek yang berbeda, hanya memiliki RAM 1.5 GB. Sedikit tinggi, tapi kuperkirakan bahwa sudah akan lambat jika banyak diisi dengan game. Sengaja kupilih. Oh iya, tapi aku masih ada tab yang kuiisi game juga. Tapi memang fungsinya untuk HP bermain dan belajar, bukan HP medsos. Jadi batasnya jelas.

       Mulai sadar bahwa perempuan bukan segalanya. Salah kalau sebagai seorang laki-laki aku tergila-gila pada perempuan. Bukan untuk itu aku hidup.

       Aku juga mulai membatasi penggunaan internet. Berawal dari memesan kuota hanya 15 MB/hari. Cukup untuk update Line sehari. Berkomunikasi dan mendapatkan segala informasi yang sekiranya kubutuhkan dalam berkehidupan di kampus. Sempat keos karena kembali membeli kuota yang besar dari provider tertentu, berlanjut dengan browsing-browsing tanpa henti, buang-buang waktu, dan hal-hal lain yang sebagian besar tidak ingin kulakukan. Sampai akhirnya sekarang sedang settle pada kuota per bulan yang 1GB dengan Medsos (kira-kira) unlimited. Selain itu, aku juga mulai membiasakan untuk memiliki waktu satu jam dalam sehari untuk tidak menggunakan medsos. Menggantinya dengan sesuatu yang memang prioritas dalam hidup, tanpa keberadaan internet. Kadang sampe dimarah-marahin karena ada skip. Cuman, luar biasa, hasilnya menunjukkan bahwa memang aku bisa kok hidup tanpa internet, walaupun hanya satu jam sehari. Hidupku masih baik-baik saja mostly. You know, that’s such a good relief. Phew.

       Banyak hal yang kuubah. Sampai sempat terpikir juga untuk tidak ingin dikirimi sangu oleh orangtua agar tidak ketergantungan dengan kiriman orangtua. Tapi, setelah dipikir-pikir tampaknya itu akan terlalu berlebihan. Karena aku toh belum bisa dapat beasiswa juga. 

       Bagaimana belajar tauhid bisa membuat hidupku banyak berubah. Bagaimana iman bisa mendorongku untuk meninggalkan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan secara berlebihan. Berhijrah, mungkin, itu istilahnya. Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal. 

       Kembali kepada kasus perbincangan di awal. Ada satu hal lain yang perlu menjadi perhatian tentang iman. Bahwa iman itu diyakini di hati, diucapkan di lisan, dan diterapkan dalam tindakan. Bagaimana Iblis meyakini bahwa Allah itu Tuhan, mengucapkannya juga, tapi ternyata tidak mau mematuhi dan bertindak untuk sujud kepada Nabi Adam. Batal keimanannya dan ia menjadi kafir. Terkutuk selamanya. 

       Begitu juga dengan ucapan. Mengucapkan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa sesuatu selain Allah, sangat dikhawatirkan telah mengucapkan bahwa ada illah bagi dia selain Allah. Walaupun di hati mungkin tidak seperti itu maksudnya. Tapi sesungguhnya berhati-hati dalam hal akidah itu jelas merupakan hal yang utama dan teramat penting. Bisa jadi ketidakhati-hatian (tolong koreksi kalau salah penulisan) dalam mengucapkannya menjadi asbab kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan di hari akhir nanti. 

       Jadi, saran saya, hindari mengucapkan hal-hal seperti itu. Termasuk di dalam lagu-lagu cinta, “Ku tak bisa hidup tanpamu”. Itu juga sangat rawan merusak akidah. Apalagi kalau lebih dari sekadar ucapan dan dalam keseharian benar-benar seperti itu. Jangan. Usahakan untuk tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada selain Allah. Terus berusaha yakin bahwa innallaha ma’ash shaabiriin.

       Robbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rohmah. Innaka antal wahhab. 

Notes : Masih banyak PR. Masih banyak cacat dan cela. Sebagian hal masih mengecewakan. Tapi, setidaknya aku masih memiliki keinginan untuk menjadi orang baik. Dan masih melakukan hal-hal yang kuharapkan bisa membawaku ke sana. Hingga di pemberhentian akhir nanti.
Share:

Saturday, 13 April 2019

Ruang Ketidaksempurnaan  —  part 2 : Tangan Kecil, Langit Luas, dan Jurang yang Dalam

       Hari ini aku mengalami ketakutan. Habis mengalami kecelakaan tunggal dan membuat aku mengalami luka. Masih belum kering luka, sudah mesti berhadapan dengan jarum suntik. Entah, rasanya menakutkan. Enaknya jadi orang beriman, tidak perlu takut kepada selain Allah. Iri.

Well,
ya. 

       Ruangan kali ini akan berisikan sebuah paham yang kupegang beberapa bulan terakhir tentang ketidaksempurnaan manusia. Aku memasuki ruangan ini sejak aku mulai mendalami isu tentang laki-laki dan seksualitas. Baik itu di orang lain, ataupun di diri sendiri. 

       Dalam memulai gerakan FightForFreedom, gerakan kampanye bahaya pornografi berbasis medsos, aku mengambil sebuah mata kuliah dari jurusan sosial yang kuat dengan dasar penelitiannya. Planologi dengan matkul pra-TA mereka, Metode Penelitian. Di kelas ini aku belajar tentang bagaimana menyusun sebuah proposal penelitian yang akan bisa menjadi basis dan acuan dalam melaksanakan sebuah penelitian sosial.

       Salah satu hal penting yang kupelajari adalah tentang mengumpulkan referensi yang sudah ada terkait isu yang akan kuteliti. Salah satunya dari sinilah aku menemukan banyak hal perihal pornografi secara lebih jauh. Baik itu statistik, ataupun cerita-cerita. Termasuk aku juga mulai peka dengan isu pornografi di sekitarku.

Bagaimana seorang anak kecil bercanda dengan temannya di dalam masjid. Suatu waktu di kala aku dapat kesempatan mengajar anak-anak di sebuah masjid, bada maghrib. Aku bertanya,

Cep (panggilan untuk anak laki-laki), sebelum kakak emang sudah pernah ada siapa saja yang ngajar kalian?”

“Waah, banyak kak, ada kak a, kak b, dst.”

Terus temennya nyeletuk,

“Eh inget gak sih, si tukang jualan cuanki yang ditangkep itu? Itu kan ketahuan nyodomin yaa..”

*kaget

“Ooh iya, yang itu yaa. Wah jangan-jangan jualan cuanki sambil gitu ya?”

(si anak meragain gerakan nyodomin anak-anak)

“aahahahahah.” (pada ketawa)

*double kaget

… 

Allah, anak kecil bisa kayak gitu. 

       Terus aku ditambah dengan ketika aku mulai mengajak berdiskusi dengan teman-teman cowok lain lewat gerakan FiForFree, fakta-fakta yang kukumpulkan semakin berat dicerna. Sampai kadang membuatku terpaku. Hanya bisa diam. Ngga ngerti harus mulai dari mana.

       Fakta seperti bahwa ada teman di Surabaya yang mengira bahwa tidak ada teman laki-lakinya yang tidak melihat pornografi. Ditambah dia mengatakan bahwa sudah hal lumrah bagi seorang istri di Surabaya untuk memahami bahwa suaminya butuh space untuk melihat pornografi. Atau cerita lain tentang teman-teman yang telah begitu mudahnya mengakses aplikasi pacaran, yang disebut oleh temanku sebagai prostitusi terselubung. Foto profil vulgar, orang-orang yang haus belaian, dsb. Sampai ke level atas, bagaimana biasanya di permainan golf, seorang caddy (pembawa peralatan golf, biasanya cewe) akan sangat senang jika bisa menemani setelah bermain golf. Menemani ke hotel, lebih tepatnya. Termasuk yang tidak kalah sedih adalah kisah tentang seorang teman yang tidak tertarik dengan pornografi, tapi mereka terjebak oleh nafsunya lewat cara lain. Ada teman yang suka mengumpulkan foto cewe SMP dengan pakaian tertentu (sehari-hari sebetulnya, tapi kalau jadi dikumpulin ratusan kan gimana ya..), ada juga teman yang gak sengaja meluk temen sekamarnya sampe temen sekamarnya takut kalo dia gak straight. Padahal dia normal, cuman memang mungkin dorongan nafsu itu gak kerja di alam sadar aja, tapi juga sampai ke alam bawah sadar. Entah.

       Tentu gak kalah menyedihkan lagi kalau sudah bicara kekerasan seksual yang didalangi sama pornografi. Ya maklum, orang di sana diajarkan bahwa seks itu tidak membutuhkan rasa kemanusiaan, ya gimana. Orang pedesaan sekalipun kalau konsumsinya seperti itu ya lama-lama konslet.

Phew. Kepalaku kadang terasa penuh. Bingung. 

Just where exactly are we going with this rate of crime and such hypersexualized and less-morale culture?

       Aku ingat aku pernah memberikan sebuah materi komunikasi pada teman-teman di lingkungan islami. Satu pesan awal yang kusampaikan kepada mereka tentang kenapa mereka harus memperbaiki kemampuan komunikasi mereka, aku meminta mereka memejamkan mata. Dan aku bertanya,
Coba bayangin kalian lagi ada di gunung pinggir sebuah jurang. Disana kalian bisa melihat langit lepas. Lalu sekarang, angkat tangan kalian. Bandingkan, besar mana tangan kalian dengan langit? Lalu, lihat ke bawah, seberapa dalam jurang itu? Apa yang terjadi kalau kalian jatuh ke sana? Coba bayangkan teman-teman. Ini analogi.

       Kita ini diutus oleh Yang Mengutus Rasulullah, untuk menjadi khalifah di muka bumi. Untuk menyebarkan amar ma’ruf nahi munkar. Tugas dan amanah yang gunung pun hancur saking tidak sanggupnya menerima amanah ini. 

       Padahal, kita apa? Mungkin di antara kita ada yang keluarganya broken home, mungkin saudara kalian ada yang kecanduan narkoba, atau kecanduan seks, atau apa yang lebih mengerikan lagi. Atau bahkan kalian sendiri, kita sendiri, punya masalah yang kalian sendiri kadang bingung dan sampai tertarik jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam itu. Dimana kalian kesakitan luar biasa saat terjatuh ke sana. Dan saat kalian melihat ke kanan dan kiri pun semua seperti gelap luar biasa. Selamat datang di jurang kalian. Sesuatu yang sangat kalian takuti. Ada kekecewaan mendalam di sana. Ada kebingungan yang tak tahu harus kalian sampaikan pada siapa. 

       Sekarang tengok kepala kalian ke atas lagi, kalian melihat langit. Sebuah tugas, amanah untuk memperbaiki kerusakan yang ada di dunia ini begitu berat. Tugas yang sangat tinggi, dan sangat luas. Padahal, kalian perhatikan lagi tangan kalian? Kecil. Gak ada apa-apanya dibanding luasnya dan besarny atugas tersebut.

       Mungkin kalian pernah dengar pernyataan bahwa kita ini ibaratnya satu butir pasir di pantai jika dibandingkan dengan alam semesta ini. Atau lebih kecil. Kalian tahu? Allah menciptakan kita untuk menjadi pemelihara pantai tersebut. Kita yang kecilnya hanya seperti sebutir pasir itu. Tangan yang sangat kecil itu. Yang mungkin banyak goresan luka juga di sana. Dengan segala kemungkinan untuk jatuh ke jurang yang dalam, sangat dalam. 

Paralyzed. Lumpuh.

       Gagasan kalimat pengantar dalam materiku kali itu adalah sebuah pertanyaan besarku yang ingin kutunjukkan pada kalian. Pertanyaan yang mungkin jika kita hanya terfokus pada pertanyaannya, akan membuat kita lumpuh. Kaku diam. Seolah apa yang kita lakukan tak ada artinya. Menumbuhkan pesimisme luar biasa, mungkin? Dunno.

Sekali lagi kuucapkan, 

Hai, selamat datang di [Ruang Ketidaksempurnaan]. Kalau kalian berhenti di ruangan ini dan memutuskan untuk tidak mau kuantarkan ke ruangan-ruangan selanjutnya yang mungkin akan berisi jawaban dan harapan, aku khawatir kalian akan tersesat. So, stay with me. 

Hint : Ketika aku menanyakan pertanyaan tentang tangan, langit, dan jurang ini kepada senior yang telah melakukan perubahan di tengah tawaran untuk bersantai saja, ini jawaban beliau.

Bagus, itu disadari dulu. Itu kenapa kita juga ga bisa sendiri-sendiri.

(continued, insyaAllah)
Share:

Thursday, 11 April 2019

Virzha - Janji [Official Music Video]



Tak ada ibu yang sempurna, tapi aku malu kenapa aku menjadi anak yang tak sempurna bagi ibuku :(


Share:

Thursday, 14 March 2019

Ruang Ketidaksempurnaan  —  part 1: Sebuah Eksplorasi

       Hari-hari ini, kukira banyak permasalahan yang muncul dari kehidupan sehari-hari itu bermula dari ketidakbijakan kita dalam menghadapi ketidaksempurnaan.

       Saling menjatuhkan antar golongan satu dengan yang lain. Terutama, dalam Islam. Sangat tampak bahwa saat ada seseorang yang memiliki ‘label’ baik. Dan dia melakukan keburukan, desas desus yang beredar pun sangat tidak menyenangkan.

       Ketika seorang guru agama mengambil jalan yang tidak sempurna dalam menyampaikan agama, hujatan muncul satu demi satu. Ada yang menggunakan metode musik, ada yang dakwah di dunia skate, bahkan mungkin ada yang ke nigth club.

       Aku harus bilang bahwa media adalah salah satu faktor pengompor paling hebat. Saat ada calon legislatif mengakses konten pornografi, ramai. Saat ada partai yang menggunakan semangat kebaikan lalu di tangkap tangan korupsi, ramai. Pun saat ada calon Presiden yang melakukan kesalahan, baik di masa kini ataupun di masa lalu, ramai.

       Kita semua seolah di-framing kan dengan sebuah konsep kesempurnaan yang bersih dari segala keburukan. Bahwa jika ada seseorang mengaku baik, tetapi memiliki keburukan, sudah tidak ada artinya kebaikan yang ia miliki.

       Pun dengan munculnya golongan orang yang tidak setuju dengan mengatakan,

 “Ambil baiknya, buang buruknya.”

       Seolah-olah bahwa jika seseorang memiliki satu saja keburukan. Tak selayaknya kita mengambil kebaikan yang ia miliki. Mereka lebih memegang prinsip,

       “Jangan percaya padanya, saya khawatir nanti kamu terbawa pada keburukan yang dimilikinya.”

       Pun dengan satu isu yang akhir-akhir ini membuatku sangat resah. Yakni tentang kemunculan teman-teman Feminis ekstrim. Mereka menuntut kebebasan yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki. Mereka tidak mau bahwa perempuan harus tunduk pada laki-laki, baik secara pribadi, ataupun secara sistem. Kata-kata sesederhana,

“Bukan badan kami yang harus ditutupi, tapi pikiran kamu yang ngeres.”

       Bermula dari kegagalan laki-laki dalam menutupi dan memperbaiki ketidaksempurnaannya, diletakkanlah hujatan demi hujatan, tuduhan demi tuduhan. Bukan hanya pada lelaki yang memang seperti itu, tetapi pada semua jenis lelaki. Sampai lelaki yang baik pun merasa heran kenapa dia seperti dianggap sebagai sesosok manusia yang haus seks dan tidak pernah puas (meminjam istilah teman).

Yang kupelajari hingga saat ini, saat kita menghadapi ketidaksempurnaan, kita seolah diarahkan oleh suatu bisikan kasatmata, pada dua hal,
  1. Generalisasi.
  2. Kebencian.
Sehingga sangat wajarlah jika kita melihat negeri kita ini semakin terpecah. Padahal orang-orangnya shalat. Punya spirit gotong royong.

       Dan aku yang melihat ini merasa tak berdaya. Kenapa kita harus keras pada ketidaksempurnaan orang lain? Kenapa kita harus mem-bully orang yang tidak berhasil mencapai apa yang kita kira dia bisa capai?

       Dengan kata bully aku bermaksud bukan sekadar mengejek, merendahkan. Tapi juga tindakan yang lebih kasar seperti menghujat jilbab-nya, menghujat kebiasaannya shalat.

“Heh, buat apa sholatmu kalau kayak gitu aja gak kamu lakuin? Buang sampah sembarangan.”

“Kamu itu, masih bercanda sama laki-laki padahal udah malem gini. Orang yang berjilbab harusnya udah tahu!”

       Dan ada orang yang tersakiti, dan ada orang yang sedih, dan boleh jadi ada orang yang benci.

Kenapa kita harus keras pada ketidaksempurnaan orang lain?

       Melalui serial tulisan ini, aku mengajak temen-temen semua untuk masuk ke dalam sebuah space ‘ruang’ dimana kita akan mencoba lebih peka akan ketidaksempurnaan di sekitar kita, dan mulai untuk lebih bijak dalam menyikapinya.

P.S. : Aku pun sedang belajar, tapi aku berharap bisa membagikan ilmu ini pada mereka yang belum sampai mengambil mata kuliah kehidupan ini. Atau mungkin ada kakak tingkat yang bersedia memberikan ilmu lebih, saya akan sangat mengapresasi :)
Share: